Berita

Foto/Net

Bisnis

Sistem Logistik Nasional Kapan Dibenahi Ya...

Pemerataan Ekonomi Terganjal Distribusi & Transportasi
RABU, 22 MARET 2017 | 08:52 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pengusaha mendesak pemerintah untuk segera membenahi sistem logistik nasional. Diharapkan, perbaikan sistem logistik nasional masuk dalam Paket Kebijakan Ekonomi XV agar perekonomian merata di berbagai daerah.

Ketua Umum Asosiasi Lo­gistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi berharap, pemerintah mampu menerapkan sistem distribusi dan transportasi yang cepat, tepat, dan efisien lewat Paket Ekonomi XV. Pemerin­tah, kata dia, dapat menerapkan sistem distribusi dan transportasi yang lebih baik melalui Sistem Logistik Daerah (Sislogda) yang terintegrasi dengan Sistem Lo­gistik Nasional (Sislognas)

"Tidak lupa menerapkan manajemen rantai pasok yang baik," ujar Yukki di Jakarta, kemarin.


Yukki menyebutkan, Indone­sia bisa mencapai perekonomian yang berkeadilan dan merata bu­kan hanya di perkotaan, namun juga di daerah- daerah. Asalkan, kata Yukki, manajemen rantai pasok untuk semua komoditas terwujud.

"Dengan menerapkan mana­jemen rantai pasok yang te­pat seharusnya kita juga tidak perlu lagi melakukan impor komoditi pangan seperti beras, cabai, jagung, kedelai, dan lain sebagainya," simpul Yukki.

Ia menilai, pemerataan pem­bangunan ekonomi dalam neg­eri baru dapat terwujud, jika pemerintah membenahi sistem logistik nasional dan melakukan peningkatan kualitas distribusi komoditi perdagangan dengan manajemen rantai pasok. Seba­gai negara maritim, menurutnya, Indonesia harus memiliki sistem logistik yang andal untuk men­dukung distribusi logistik baik nasional dan regional.

"Dengan begitu, kita bisa me­nekan biaya hingga 10 persen, dan memudahkan akses antar pulau," ujar Yukki.

Yukki mengaku, melihat banyak ketimpangan dan ketidakadilan antara produsen di daerah pedesaan dengan pedagang besar di perkotaan. Dia mengambil contoh dari sektor pertanian, di mana para petani justru menerima penghasilan jauh lebih rendah ketimbang pengumpul dan pedagang besar di kota.

"Semuanya itu akibat tidak adanya sislogda sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan. Be­gitu juga dengan sektor perika­nan. Meskipun sudah dibangun Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN), tapi belum didukung manajemen rantai pasok yang andal," ungkap Yukki

Demikian juga dalam pem­berdayaan Industri Kecil dan Menengah (IKM) di daerah-daerah pada umumnya tidak menerapkan manajemen rantai pasok yang tepat. Sehingga, kata Yukki, IKM tidak berkembang maksimal.

"Di era digital saat ini, pros­es produksi dan pemasaran produksi komoditi perdagangan sudah menjadi satu kesatuan. Bahkan, di negara- negara maju telah menerapkan Supply Chain Management (SCM) Plus," tukasnya.

Sekretaris Kementerian Koor­dinator Bidang Perekonomian Lukita Dinarsyah Tuwo menga­takan, Paket Kebijakan Ekonomi XV akan segera diluncurkan. Paket tersebut akan fokus soal percepatan waktu bongkar muat (dwelling time) di pelabuhan.

"Paketnya sedang disiapkan intensif karena ini juga lintas kementerian. Biaya logistik di Indonesia masih tinggi, di pelabuhan kita masih belum optimal," ujarnya.

Lukita menuturkan, menu­runkan biaya logistik memang bukan perkara mudah, namun melalui paket kebijakan tersebut ia optimistis akan membantu menurunkan biaya logistik yang kemudian akan memengaruhi biaya ekonomi ke depan.

"Target kita jelas ingin turunk­an biaya logistik yang masih tinggi dibandingkan kawasan. Besarnya ya tergantung paket­nya apa saja yang akhirnya bisa kita terbitkan, tentu kita ingin secepat mungkin turunkan biaya logistik ini," tukasnya. ***

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Trump Singkirkan Opsi Senjata Nuklir di Perang Iran

Jumat, 24 April 2026 | 16:14

Pengamat Bongkar Motif Ekonomi di Balik Serangan Trump ke Iran

Jumat, 24 April 2026 | 15:44

BPKH Pastikan Nilai Manfaat Dana Haji Kembali ke Jemaah

Jumat, 24 April 2026 | 15:38

40 Kloter Berangkat di Hari Keempat Operasional Haji, Satu Jemaah Wafat

Jumat, 24 April 2026 | 15:31

AHY Pastikan Sekolah Rakyat hingga Tol Jogja-Solo Berjalan Optimal

Jumat, 24 April 2026 | 15:24

Bahlil Harusnya Malu, Tugas Menteri ESDM Dikerjakan Presiden

Jumat, 24 April 2026 | 15:13

Iran Bebaskan Tarif Hormuz untuk Rusia dan Sejumlah Negara

Jumat, 24 April 2026 | 14:46

KPK Periksa Saksi Terkait Rp8,4 Miliar yang Disebut Khalid Basalamah

Jumat, 24 April 2026 | 14:43

Anak Buah Zulhas Sangkal KPK: Jabatan Ketum Tak Bisa Diintervensi

Jumat, 24 April 2026 | 14:17

Dorong Kartini Melek Digital, bank bjb Genjot UMKM Naik Kelas

Jumat, 24 April 2026 | 14:16

Selengkapnya