Berita

Net

Politik

Kolonialisasi Reklamasi

SABTU, 18 MARET 2017 | 21:29 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

PULAU-pulau reklamasi, di tangan Ahok cs, dikabarkan diiklankan di Tiongkok. Asumsinya, pulau palsu itu akan dibeli Chinese upper class. Mereka akan membentuk koloni di sana. WNI akan diserap menjadi pembantu.

Pribumi komprador akan bekerjasama dalam bisnis. Menjadi second player. Suplier raw material. Saya kira, proyeksi ini bukan impian Presiden Suharto. Umumnya, kolonialisasi (penjajahan) menggunakan kekuatan senjata. Invasi. Sejak abad 15, Eropa lakukan itu.

Ada beberapa jenis kolonialisasi. Settler colony, dependency, plantation dan trading post colony. Australia adalah contoh settler colony, di mana terjadi pemindahan penduduk secara masif. Akhirnya, new comers lebih banyak dari pribumi. Kolonialisasi sukses. Aborigin jadi pariah di negeri sendiri. Ngga bisa apa-apa, diinjak rasial sovinisme bule dan common wealth.


Dependency colony diciptakan via tekanan senjata oleh colonizer yang mengendalikan pemerintahan lokal. India contohnya. Budak-budak Afrika dikirim ke Jamaica ngebon di kebun-kebun pisang, tebu, kopi dan sebagainya. Semakin lama, secara bergenerasi, mereka membentuk koloni. Jenis kolonialisasi ini disebut plantation colony.

Tipe terakhir kolonialisasi adalah trading post seperti Singapura. Motif awal kolonialisasi ini adalah niaga. Lama-lama pribuminya jadi minoritas dan termarginalisasi.

Pulau reklamasi berfungsi sebagai Terra nullius (empty land). Koloni baru bisa dibangun di sana. Pak Harto mungkin tak mengira para taipan dan jenderal kolaboratornya akan masuk proyek yang dia inisiasi.

Bila benar, pulau reklamasi akan diisi penduduk dari Tiongkok maka itu akan jadi ancaman geo strategis. Ratusan ribu colonizer tepat berada di depan istana. Kekuatan uang mereka mudah jangkau pusat politik negara. Polisi dan tentara bakal jadi centeng. Tionghoa WNI menjadi kolaborator mereka. Negara pasti jatuh ke tangan "the bamboo network. [***]

Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak)


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya