Berita

Foto/Net

On The Spot

Perlahan Turun, Rawit Merah Blitar Rp 90 Ribu

Di Pasar Induk Kramat Jati
RABU, 15 MARET 2017 | 09:38 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Setelah amat tinggi dalam beberapa waktu terakhir, harga cabe rawit merah perlahan turun. Di Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ), Jakarta Timur, harga eceran tertinggi dijual Rp 90 ribu per kilogram untuk cabe rawit merah kualitas terbaik.
 
 Sebelum turun, di PIKJ, cabe rawit merah sempat dijual di kisaran Rp 140 ribu, untuk harga eceran per kilogram (kg). "Sebenarnya itu tidak lama harganya. Paling cuma semalam," kata Dodi, pedagang cabe di PIKJ kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Kesibukan Dodi berjalan sepertibiasa. Di lapak dagangnya yang berada di Blok H No 11, bersama lima anak buahnya, Dodi memilah-milah beberapa jenis cabe yang akan dijual.


Lapak Dodi berukuran kira-kira 4x4 meter persegi, tanpa tembok pembatas dengan lapak pedagang di sebelahnya. Cabe-cabe yang akan dijual, diletak­kan di atas nampan di bagian terluar lapaknya. Sementara di bagian agak ke dalam, dua orang anak buahnya memilah cabe-cabe yang bakal dijual.

Lapak Dodi menjual bebera­pa jenis cabe. Di paling kanan, dia meletakkan cabe merah keriting. Ada dua nampan. Di sebelahnya, dia meletakkan cabe merah jenis tewe yang berukuran lebih besar.

Di sebelan cabe merah jenis tewe, Dodi meletakkan cabe rawit merah dari beberapa jenis. Antara lain, cabe rawit merah jenis Blitar, yang harganya lebih mahal dibanding cabe rawit merah jenis Muntilan.

"Di sini ada beberapa jenis cabe rawit merah yang saya jual. Ada yang dari Ujung Pandang, dari Muntilan, dan yang paling mahal dari Blitar," jelasnya.

Cabe rawit merah Muntilan, kata Dodi, dibanderol paling murah. Harga eceran per kg-nya sekitar Rp 80 ribu. Sedangkan jika membeli partai besar, Dodi membanderol cabe rawit merah Muntilan seharga Rp 70 ribu per kg.

"Yang paling mahal rawit merah Blitar. Sekarang harganya Rp 90 ribu per kg. Tapi kalau beli dalam jumlah besar, saya biasa kasih Rp 80 ribuan per kg," terang Dodi.

Harga-harga tersebut menga­lami penurunan dalam sepekan terakhir. Salah satu faktor tu­runnya harga cabe rawit merah, lanjutnya, karena pasokan sudah mulai banyak. Sedangkan sebel­umnya, pasokan terbatas.

Terkait adanya pengepul yang diduga "memainkan" harga cabe rawit merah, Dodi tidak mem­bantah. Menurutnya, tingginya harga cabe rawit merah beberapa waktu lalu, karena pasokan ter­batas, sehingga sektor industri yang mengambil.

"Sekarang ini mulai banyak lagi karena industri tidak bisa ngambil dulu. Kemungkinan sampai harga stabil. Harga turun juga karena sudah mulai panen, jadi pasokan banyak lagi," beber Dodi yang mengenakan kemeja coklat.

Pedagang sayuran lain­nya, Umi mengungkapkan hal serupa. Harga cabe rawit me­mang sudah mulai menunjuk­kan tren penurunan. Kendati demikian, cabe merupakan sayur yang mengalami fluktuasi paling labil, sehingga masih ada kemungkinan mengalami kenaikan harga.

"Cabe ini tidak bisa dipredik­si. Sekarang sudah turun sejak dua hari lalu. Tergantung stok di pasar induk," ucap Umi.

Sama seperti Dodi, Umi pun membanderol cabe merah kuali­tas paling bagus dengan harga Rp 90 ribu per kg. "Itu untuk yang beli eceran," jelas Umi.

Harga jual yang ditetapkan kedua pedagang itu, tak berbeda jauh dengan harga di situs in­fopangan.jakarta.go.id. Di situs yang menginformasikan beberapa jenis komoditas di PIKJ itu, harga jual cabe rawit merah disebut Rp 88 ribu per kg.

Terpisah, di Pasar Rawamangun, Jakarta Timur, harga cabe rawit merah dipatok sebesar Rp 110 ribu per kg. Penurunan terjadi setelah harga cabe rawit merah sempat menyentuh Rp 150 ribu, untuk eceran per kg di pasar tersebut.

Harga cabe, khususnya cabe rawit merah, berangsur mulai mengalami penurunan. Sepekan sebelumnya, harga bahan baku sambal ini, masih dipatok peda­gang eceran seharga kisaran Rp 150 ribu per kg. Kini sudah berada di harga Rp 110 ribu per kg.

"Cabe sudah turun, tapi harganya masih di atas Rp 100 ribu per kg. Turunnya sejak dua hari lalu. Sebelumnya, saya jual Rp 150 ribu," kata Tini yang ditemui di losnya, Pasar Rawamangun.

Sementara untuk cabe jenis lainnya di Pasar Rawamangun, yakni merah keriting, masih belum mengalami naik turun harga, yakni Rp 42 ribu per kg, untuk cabe hijau Rp 60 ribu per kg, dan cabe merah besar Rp 50 ribu per kg.

Turunnya harga cabe rawitmerah disyukuri sejumlah warga. Ratna, salah seorang pedagang nasi uduk mengaku cukup terbantu dengan penurun harga cabe dalam sepekan terakhir. "Kebantu, meski masih mahal sedikit, semoga turun terus. Biasanya sambal pakai cabai keriting, ini sudah mulai pakai rawit sedikit. Kemarin pas maha,l tak pakai rawit," ucapnya.

Hal senada disampaikan pedagangnasi goreng, Didik. Dia bersyukur harga cabe turun, meski menurutnya masih cukup tinggi. Sebelumnya, dia sempat diprotes pelanggannya lantaran rasa pedas khas masakannya berkurang.

Didik mengatakan, dirinya kemarin sempat membeli cabe rawit di Bogor dengan harga Rp 125 ribu per kg, sedangkan di Jakarta harganya Rp 145 ribu per kg. Padahal, kata dia, biasanya sebelumnya harganya hanya berkisar Rp 40-45 ribu per kg.

"Semoga harganya bisa balik normal seperti biasanya. Semoga pemerintah bisa lebih memperhatikan para pedagang kecil," tuturnya.

Latar Belakang
Polisi Selidiki Pembelokan Rawit Merah Untuk Pasar-pasar Induk Ke Industri

Harga cabe melonjak dalam beberapa waktu terakhir. Polri pun mengendus praktik kecurangan dalam usaha, sehinggamenyebabkan harga cabe melambung tinggi.

Tak berhenti di kalangan pengepul, penyidik membidik oknum dari perusahaan dan sup­plier. Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri terus menyelidiki dugaan monopoli yang menyebabkan lonjakan harga cabe rawit merah di pasaran itu.

"Penyidik terus mendalamikasus ini," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Rikwanto di Jakarta.

Soalnya, ditengarai masih ada sejumlah pengepul yang menco­ba menahan barang. Sehingga, terjadi kelangkaan di pasar yang mengakibatkan harga cabe rawit merah melonjak drastis.

"Masih ada pengepul yang sengaja membelokkan barang. Padahal, seharusnya dikirim ke pasar induk," tandas Rikwanto.

Pada kasus ini, polisi menengarai ada tujuh perusahaan atau industri terlibat sebagai penerima pasokan komoditas cabe rawit merah. Perusahaan tersebut, umumnya bergerak di industri pengolahan sambal. Bareskrim pun menggandeng Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dalam mengum­pulkan barang bukti kasus ini.

Sebelumnya, penyidik Bareskrim menetapkan empat tersangka dalam kasus tindak pidana monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, serta tindak pidana perdagangan yang te­lah membuat harga cabe rawit merah melonjak.

Keempatnya adalah Sjn, Sno, R, dan Wd yang berperansebagai pengepul. Sjn dan Sno melakukan praktiknya di Jakarta, sementara R di Solo, Jawa Tengah. Sedangkan Wd merupakan pemasok di Pasar Johar, Semarang.

Pengepul dan oknum perusahaan diduga melakukan kesepakatan penetapan harga cabe. Mereka menetapkan harga pen­jualan cabe rawit merah yang tinggi kepada perusahaan-perusahaan pengguna cabe rawit merah. Mereka pun mengalihkan pasokan untuk pasar induk, ke perusahaan itu.

Alhasil, terjadi kelangkaanpasokan cabe rawit merahdi tingkat pasar. "Ada pengalihan penyaluran atau distribusi dari petani kepada pengepul, pengepul kepada supplier atau bandar, lalu kepada perusahaan," kata Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Martinus Sitompul.

Para tersangka dijerat Pasal 48 (2) jo Pasal 5 UU No 5 tahun 1999 tentang Larangan Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat, dan Pasal 108 UU No7 tahun 2014 tentang Perdagangan. Penyidik telah memeriksa 37 saksi yang terdiri dari petani, pengepul, pemasok, hingga pedagang di pasar terkait kasus ini.

Dari hasil identifikasi, ditemukan setidaknya sembilan pelaku usaha (pemasok) yang melakukan penetapan harga cabe rawit merah dengan harga tinggi. Dari data pergerakan harga cabe rawit merah per Senin lalu, harga tertinggi berada di Lombok Timur, yaitu Rp 115 ribu per kg. Sedangkan terendah di Bantaeng, Rp 50 ribu per kg. ***

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Tiga ABK WNI Hilang dalam Ledakan Kapal UEA di Selat Hormuz

Minggu, 08 Maret 2026 | 13:50

Kemenhaj Dorong UMKM Masuk Rantai Pasok Oleh-oleh Haji

Minggu, 08 Maret 2026 | 13:15

KPK Sempat Cari Suami Fadia Arafiq Saat OTT Kasus Korupsi Pemkab Pekalongan

Minggu, 08 Maret 2026 | 13:08

AWKI Ajak Pelajar Produksi Film Pendek Bertema Kebangsaan

Minggu, 08 Maret 2026 | 13:06

Sambut Nyepi, Parade Ogoh-Ogoh Meriahkan Bundaran HI

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:32

Sekjen PSI Jalankan Amanah Presiden Prabowo Benahi Tata Kelola Hutan

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:15

Balas Serangan Israel, Iran Bombardir Kilang Minyak Haifa

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:10

15 Vaksinasi Wajib untuk Anak Menurut IDAI dengan Jadwalnya

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:05

Zendhy Kusuma Soroti Bahaya Penghakiman Digital Usai Video Restoran Bibi Kelinci

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:01

3 Gejala Campak yang Perlu Diwaspadai, Jangan Sampai Salah

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:00

Selengkapnya