Berita

Politik

Raja Minyak, Jokowi, dan Pertamina

KAMIS, 02 MARET 2017 | 12:32 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

"No Saudi Oil," kata Donald Trump. Janji Trump akan memukul kartel minyak yang dipandang sebagai musuh AS, dengan cara membangun kemandirian minyak AS, akan segera menjadi kenyataan. "Ini adalah era complete American energy independence," kata Trump.

Arab Saudi adalah kawan Amerika Serikat selama berpuluh puluh tahun. Mereka membentuk Petro Dolar sejak tahun 1970 an. Minyak menjadi standar dalam pembentukan nilai mata uang dolar AS. Arab Saudi menikmati keuntungan yang besar dari perdagangan minyak. Sementara Amerika Serikat menikmati keuntungan yang jauh lebih besar lagi yakni bisa mencetak dolar sesuka hati tanpa perlu colleteral. Amerika Serikat mengkhianati Bretton Woods dan menendang emas menjadi perhiasan semata.

Tapi itulah politik, tidak ada kawan abadi,  yang ada kepentingan abadi. Sekarang AS malah hendak memberlakukan tarif yang tinggi bagi impor minyak Arab Saudi. Sama yang dilakukan dengan memberlakukan tarif yang super tinggi kepada impor barang dan impor infrastruktur China. Minyak telah ditendang menjadi bahan bakar semata, dan dolar AS telah mengambil posisi independen dalam pasar uang.


Akibatnya Arab Saudi termasuk OPEC kehilangan pasar terbesar mereka yakni AS. Tidak hanya itu harga minyak jatuh pada level paling rendah dalam sejarah. Meskipun berkali-kali OPEC memotong produksi, namun dilawan oleh AS dengan menikatkan produksi shale oil dan gas mereka. Harga minyak terus berada pada harga yang tidak menguntungkan Arab Saudi. Penerimaan negara dari minyak anjlok, anggaran negara minus hingga 15 persen mencapai US 98 miliar dolar tahun lalu dan tahun ini diperkirakan US 87 miliar dolar atau mencapai Rp.1200 trilun. Arab Saudi memang masih kaya, tapi itu aset dan mereka tidak bisa mengurangi kesenangannya walau sedikit.

Arab Saudi harus berpisah dengan AS dan mencari sekutu baru. Lawatan keliling Asia yakni ke Indonesia, Malaysia dan Jepang merupakan upaya untuk mencari pelampung penyelamat dalam rangka menahan Arab Saudi dari turbulensi, mencari pembeli tetap dari minyak mereka dalam jangka panjang. Tidak lupa raja minyak membawa seluruh pangeran yang berpotensi melakukan kudeta. Raja Salman tidak mau bernasib sama dengan Raja Faizal.

Sementara oligarki pemerintahan Jokowi begitu riang gembira menyambut kedatangan raja minyak, 30 pangeran dan 1.500 anggota rombongan yang datang berkunjung ke Jakarta. Ini adalah kunjungan pemimpin negara terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Ditambah lagi ini adalah kunjungan seorang yang dianggap raja paling kaya dan paling senang menghabur hamburkan uang.

"Ini rejeki nomplok, durian runtuh, proyek besar." Kira kira itu yang terlintas dalam pikiran oligarki pemerintahan Jokowi. Setelah bertahun tahun mengemis pada China, hasilnya monorel yang gagal, kereta cepat yang gagal, reklamasi yang gagal, mega proyek listrik china 35 ribu megawatt yang berantakan.

Sebanyak 11 memorandum on understanding (MoU) ditandatangani. Air liur oligarki Indonesia menetes mendengar janji uang ratusan triliun yang siap diinvestasikan raja minyak di Indonesia. Lupakan China, lupakan Amerika Serikat, mari mulai berbisnis dengan Arab Saudi.

Tidak tanggung tanggung Pertamina sebuah perusahaan minyak nasional siap dipersembahkan kepada raja minyak. Tidak main main rantai produksi paling vital milik Pertamina yakni kilang kilang pengolahan minyak siap di serahkan kepada Saudi Aramco melalui skema joint venture (JV). Hingga direktur mega proyek dalam tubuh  Pertmaina merancang proyek hingga Rp 700 triliun sebagai kado bagi raja minyak. Uang tersebut akan digunakan  untuk membangun kilang baru, mengupgrade kilang lama, dan membangun infrastruktur minyak skala raksasa.

Pertanyaannya uangnya berasal mana? Tidak lain yakni dari menjual aset aset Pertamina bersama dengan Raja minyak Arab Saudi ke pasar keuangan internasional. Siapa saja yang mencoba menghambat akan disapu bersih sebagai mana nasib yang dialami Dirut dan Wakil Dirut Pertamina beberapa waktu lalu. Jadi jangan coba coba melawan oligarki pemerintahan Jokowi dan sekutu barunya Raja Minyak...[***]

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Tanam Jagung Dukung Swasembada Pangan

Minggu, 08 Maret 2026 | 03:53

Pengamat Ingatkan Bahaya Berita Hoax di Balik Perang AS-Israel Vs Iran

Minggu, 08 Maret 2026 | 03:33

Polri Gandeng Pemuda Katolik Wujudkan Swasembada Pangan di Cianjur

Minggu, 08 Maret 2026 | 03:13

Anggota DPR Tidak Boleh Lepas Cerdaskan Generasi Bangsa

Minggu, 08 Maret 2026 | 02:59

Jalur Rempah dan Strategi Penguatan Armada Domestik

Minggu, 08 Maret 2026 | 02:42

DPRD Klungkung Setujui Ranperda Pajak Demi Genjot PAD

Minggu, 08 Maret 2026 | 02:18

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

Polri All Out Dukung Petani dan Wujudkan Swasembada

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:42

Presiden Iran Minta Maaf ke Negara Arab yang Terdampak Serangan

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:15

Bea Cukai Gandeng BNN Bongkar Laboratorium Narkoba di Bali

Minggu, 08 Maret 2026 | 00:56

Selengkapnya