Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

BI Hanya Akan Memperpanjang Persoalan Buruh dengan Pengusaha

Tak Lakukan Intervensi Positif Dalam Kebijakan Moneter
KAMIS, 16 FEBRUARI 2017 | 12:34 WIB | LAPORAN:

RMOL. Bank Indonesia sebagai lembaga moneter di Indonesia dianggap tidak memiliki keberanian melakukan intervensi positif atas kondisi moneter dan keuangan Indonesia. Hal itu pada ujungnya hanya akan melanggengkan benturan-benturan berkepanjangan dalam perekonomian Indonesia, terutama akan terus terpeliharanya persoalan buruh dengan pengusaha di Indonesia.
 
Begitu dikatakan Wakil Ketua Dewan Ekonomi Indonesia Timur (DEIT) Dr Riza Suarga di Jakarta, Kamis (16/2).
 
"Lihatlah nilai mata uang kita Rupiah, sebetulnya itu bisa diintervensi agar lebih produktif bagi masyarakat Indonesia, bagi pengusaha dan buruh, untuk bantuan modal usaha dan seterusnya. Nyatanya, hingga kini, seperti disengaja dibuat stagnan segitu-segitu terus. Kini hampir tak pernah bisa diintervensi agar bisa turun di bawah Rp 13000 per dolar amerika. Mestinya sudah bisa dong diintervensi misalnya menjadi Rp 11000 per dolar amerika,” jelasnya.
 

 
Anehnya, lanjut Riza, dari evaluasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang disebut-sebut mengalami perbaikan dan peningkatan, malah tidak terlihat pada bentuk riil usaha masyarakat dan usaha para pengusaha nasional Indonesia yang semakin baik. Soalnya, kata Riza, dengan nilai tukar yang masih tinggi, maka sebesar apapun peningkatan atau pertumbuhan ekonomi yang disebutkan, akan tetap ludes dengan belanja dan konsumsi kebutuhan.
 
"Misal, gaji UMP Rp 3500.000 per bulan, lalu harga kebutuhan masyarakat tetap tinggi, sama saja masyarakat hanya menghabis-habiskan gaji itu saja saban hari untuk membeli kebutuhan dasarnya. Tidak ada yang berubah kan. Lalu kapan masyarakat akan mulai menabung dan berinvestasi? Masa jadi berhutang terus ke luar negeri untuk memenuhi kebutuhan dasar? Di sinilah butuh intervensdi BI terhadap kebijakan moneter kita agar pro kepada masyarakat,” papar Riza.
 
Menurut dia, sangat aneh, misalnya jika produk unggulan Indonesia berupaka komoditi ekspor yang besar malah dijual dengan harga yang tak sebanding. Bayangkan saja, lanjut Riza, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil batu bara terbesar di dunia, namun begitu hasil batu bara diekspor ke luar negeri, tetap kecil hasilnya.
 
"Itu kenapa? Karena kita dibiarkan bertransaksi dengan mempergunakan mata uang negara lain. Misalnya, jika batu bara diekspor dan transaksinya dilakukan di negara lain seperti di Singapura, dengan mempergunakan perhitungan mata uang dolar amerika, berapa ribu ton pun diekspor ya nilainya kecil. Coba kalau bertransaksi di Indonesia dengan mata uang Rupiah, tentu hasilnya akan sangat besar,” ujar Riza.
 
Selama ini, Riza melihat Bank Indonesia bagai macan ompong saja yang tidak produktif dan tidak efisien. Sesungguhnya, lanjut dia, BI tidak melakukan apa-apa bagi perbaikan perekonomian saat ini, sebab hanya mengikuti pola yang selama ini sudah berjalan saja, dengan intervensi dan ketergantungan kepada orang asing semata.
 
Bagi dia, menaikkan upah buruh mingga melampaui Rp 5 juta per bulan pun sesungguhnya tidak akan masalah bagi pengusaha, asalkan ada intervensi BI bagi permodalan dan nilai tukar. "Jika satu dolar amerika saja setara dengan Rp 11 ribu, mau gaji lima juta rupiah pun bagi buruh tidak ada masalah. Coba aja dikonversikan mata uang kita itu, akan terlihat betapa jomplangnya nilainya selama ini. Intervensi itu perlu,  sebab, itu berkorelasi dengan daya beli, produktivitas dan juga semangat kerja yang tinggi nantinya, tentu kedua belah pihak akan sama-sama menikmati kesejahteraan, dan buruh tidak akan selalu bertentangan dengan pengusaha toh,” paparnya.
 
Karena itu, Riza merindukan Lembaga Moneter Bank Indonesia itu membuat kebijakan yang berani. "Berani dan calculated. Itu yang kita perlukan. Berani melakukan intervensi, nilai mata uang kita memiliki harga yang bagus. Jangan malah tidak ada harganya,” katanya.
 
Nah, dengan demikian, lanjut Riza, nanti semua sektor pun akan bergerak, ada bantuan permodalan, ada pinjaman yang terjangkau, usaha kecil menengah pun eksis dengan baik dan uang berputar. "Selama ini kan hampir semua pihak, seperti pengusaha dan buruh, memiliki banyak ide dan gagasan dan semangat, namun uang tidak ada nilainya, gimana mau maju kalau begitu, ide tinggal hanya ide semata, tidak bisa diwujudkan,” ujarnya. [sam]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Herman Deru Perintahkan Jalinsum Diperbaiki Usai Tragedi Bus ALS

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:22

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Pemakzulan Trump Mencoreng Citra Demokrasi Barat

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:01

Politik Mesias Digital

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:27

Saksi Sidang di PN Jakbar Dikejar-kejar hingga Diduga Dianiaya

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:06

Pendidikan Bukan Komoditas Ekonomi

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:03

Korban Kecelakaan Bus ALS Jadi 18 Orang

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:32

Kritik Amien Rais Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:14

Selengkapnya