Berita

ilustrasi/Net

Jaya Suprana

Alasanologi Memilih Pemimpin

SENIN, 13 FEBRUARI 2017 | 11:53 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

MENJELANG Pilkada 2017 seorang pejabat tinggi negara menyatakan bahwa memilih pemimpin berdasar agama merupakan suatu tindakan inkonstitusional.

Pernyataan tersebut membuat saya merenung karena saya merasa yakin bahwa seorang yang sewajibnya menjadi suri teladan bagi masyarakat pasti berniat baik. Mustahil beliau berniat buruk. Maka pernyataan beliau wajib kita hayati bersama lebih lanjut agar jangan sampai kita melakukan tindakan inkonstitusional.  

Sebagai seorang warga awam yang buta hukum yang sama sekali tidak menguasai ilmu hukum maka penghayatan lebih baik tidak saya lakukan melalui jalur hukum.


Sebagai pendiri Pusat Studi Kelirumologi, saya mencoba melakukan penghayatan lewat jalur alasanologi sebagai paham yang mempelajari alasan demi mencari kebenaran, mengenai apakah mungkin seorang warga memilih pemimpinnya secara tidak berdasar alasan agama selama di Indonesia data identitas keagamaan masih wajib diterakan pada masing-masing Kartu Tanda Penduduk.

Keraguan saya ditimbulkan oleh fakta bahwa pada setiap pemilihan umum selalu ditegaskan bahwa setiap warga berhak memilih pemimpin secara bebas dan rahasia.
Kata bebas bisa ditafsirkan sebagai hak asasi setiap warga bebas memilih pemimpin baik berdasar agama mau pun tidak berdasar agama.

Kata rahasia layak ditafsirkan bahwa pada hakikatnya merupakan rahasia setiap warga mengenai alasan diri masing-masing warga memilih pemimpin idaman sanubari masing-masing. Maka berdasar telaah alasanologi dapat ditafsirkan bahwa pendapat bahwa memilih pemimpin berdasar agama merupakan tindakan inkonstusional pada hakikatnya bertentangan dengan mazhab pemilihan umum secara bebas dan rahasia.  

Secara alasanologis memang dapat disadari bahwa sebenarnya kita  tidak boleh dan tidak bisa tahu alasan seorang warga memilih pemimpin idaman sanubarinya akibat mekanisme pemilihan lazimnya dilakukan secara tertutup tanpa bisa dan boleh diketahui oleh siapa pun juga kecuali sang pemilih dan tentu saja Tuhan Yang Maha Tahu.

Bisa saja sang pemilih malah sama sekali tidak memilih sebab kebetulan tidak ada  calon pemimpin yang menurut keyakinan sang pemilih cocok dengan idaman hatinya. Atau bisa juga sang pemilih secara teknis mekanis keliru mencoblos calon pemimpin yang sebenarnya bukan idaman dirinya.

Bisa juga pemilih melakukan pilihan berdasar primbon atau bahkan secara acak alias ngawur. Bisa juga sang pemilih memilih pemimpin bukan berdasar alasan agama namun berdasar alasan tidak suka pada latar belakang etnis, ras, suku, golongan bahkan jenis kelamin atau usia sang pemimpin.

Bisa juga sang pemilih tidak memilih sang calon pemimpin akibat kebetulan pernah ada urusan persengketaan pribadi.

Pada kenyataan memang sulit bahkan mustahil untuk benar-benar mengetahui alasan seorang warga memilih calon pemimpin selama sang warga tidak secara jujur mengakui alasan dirinya memilih calon pemimpin idaman sanubari dan nurani dirinya sendiri. Bisa saja sang pemilih berbohong dalam pengakuannya.

Maka saya berterima kasih kepada sang pejabat tinggi yang berniat baik dalam mewejangi kita agar jangan memilih calon pemimpin berdasar agama agar tidak melakukan tindakan inkonstitusional sebab wejangan tersebut merupakan keyakinan beliau.

Sementara saya juga memiliki hak asasi untuk memiliki keyakinan diri saya sendiri yaitu saya akan memilih calon pemimpin rakyat secara bebas dan rahasia sesuai suara sanubari dan nurani diri saya sendiri. Bahkan bukan diri pribadi saya saja namun setiap warga Indonesia memiliki hak asasi untuk memilih calon pemimpin rakyat secara bebas dan rahasia sesuai sanubari dan nurani diri pribadi masing-masing.[***]

Penulis adalah pendiri Pusat Studi Alasanologi


Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

Kasum TNI Buka Rakernas Taekwondo Indonesia 2026

Jumat, 17 April 2026 | 03:56

Gubernur Luthfi Ajak Kadin Berantas Kemiskinan Ekstrem di Jateng

Jumat, 17 April 2026 | 03:42

Halalbihalal dan Syal Palestina

Jumat, 17 April 2026 | 03:21

Soenarko Minta Prabowo Jangan Diam soal Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 17 April 2026 | 02:59

BGN Minta Pemprov Sulteng Gandeng Influencer Lokal Tangkal Hoax MBG

Jumat, 17 April 2026 | 02:49

Prabowo Jangan Lagi Pakai Orang Jokowi Buntut Penangkapan Ketua Ombudsman

Jumat, 17 April 2026 | 02:24

Penyidik Kejati Angkut Sejumlah Berkas Usai Geledah Kantor Dinas ESDM Jatim

Jumat, 17 April 2026 | 01:59

Aktivis dan Purnawirawan TNI Gelar Aksi di DPR soal Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 17 April 2026 | 01:45

Purbaya Anggap Santai Peringatan S&P: Defisit Kita Masih Terkendali

Jumat, 17 April 2026 | 01:25

Anak TK Pun Tidak Percaya Motif Pelaku Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus

Jumat, 17 April 2026 | 00:59

Selengkapnya