Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Kelirumologi Demokrasi

MINGGU, 12 FEBRUARI 2017 | 09:34 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

BANYAK kekeliruan dikaprahkan maka dianggap benar terhadap apa yang disebut sebagai demokrasi.

Akibat sarat beban kekeliruan, maka demokrasi memang menarik untuk ditelaah secara kelirumologis sebagai paham yang mempelajari kekeliruan demi mencari kebenaran. Misalnya istilah demokrasi yang memang berasal dari bahasa Yunani = demokratia yang berasal dari perpaduan kata demos = rakyat dan kratos = kekuasaan menimbulkan tafsir keliru bahwa demokrasi berasal dari Yunani .

Jauh sebelum demokrasi resmi diselenggarakan di Athena kepemerintahan oleh rakyat untuk rakyat sudah dilakukan kaum Viking di Norwegia dan terutama di Iceland.


Mazhab etnopolitologi mutakhir meyakini bahwa praktis segenap masyarakat yang dibentuk oleh manusia sebelum terbentuknya sistem monarki niscaya terlebih dahulu didahului bentuk sistem kepemerintahan dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat. Namun akibat lain-padang-lain-belalang maka masing-masing sistem kepemerintahan yang dibentuk masing-masing kelompok masyarakat niscaya senantiasa saling beda satu dengan lain-lainnya.

Maka adalah keliru apabila demokrasi di Indonesia dipaksa untuk menjadi sama dan sebangun alias menjiplak demokrasi negara lain. Juga keliru menganggap demokrasi Yunani kuno memberikan hak yang sama dan setara kepada segenap rakyat.

Demokrasi Yunani kuno secara diskriminatif tidak memberikan hak peranserta kepada para budak, kaum perempuan dan para petani yang tidak memiliki tanah. Tidak mengherankan apabila semula Amerika Serikat juga tidak memberikan hak memilih kepada kaum perempuan dan kaum budak.

Sistem penghitungan suara pada pemilihan presiden Anerika Serikat sampai masa kini juga belum murni dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat maka memungkinkan Donald Trump terpilih menjadi presiden meski de facto  Hillary Clinton memperoleh lebih banyak suara rakyat.

Nama Dewan Perwakilan Rakyat di Indonesia pada hakikatnya keliru sebab pada kenyataan yang diwakili bukan rakyat tetapi partai politik.

Nama yang lebih benar adalah Dewan Perwakilan Parpol. Satu di antara sekian banyak sukma demokrasi adalah kebebasan berpendapat dan mengungkapkan pendapat. Namun sangat disayangkan, bahwa masyarakat Indonesia masa kini yang diperparah dengan masa teknologi menebar informasi yang secara demokratis dapat ditebarkan oleh siapa saja termasuk mereka yang tidak beradab, pada kenyataan terbukti keliru menafsirkan kebebasan mengungkapkan pendapat menjadi kebebasan mengungkapkan kebencian.

Makin parah lagi kebebasan mengungkap kebencian dijabarkan secara sangat kreatif dalam berbagai bentuk mulai dari cemooh, cacimaki, hujatan, bully-bully, hoax sampai fitnah keji yang sama sekali tidak selaras dengan kenyataan. Kebebasan mengungkap kebencian benar-benar konsekuen dan konsisten diejawantahkan dengan sikap dan perilaku yang sama sekali tidak selaras dengan kemanusiaan adil dan beradab.

Perbedaan pendapat dikeliru-tafsirkan sebagai pembenaran untuk saling curiga, benci, hujat, fitnah yang tentu saja potensial menjadi ancaman pemecah-belah bangsa yang sama sekali tidak selaras dengan semanga persatuan Indonesia.

Insya Allah, berdasar hasil telaah kekeliruan terhadap tafsir makna demokrasi , mereka yang sedang asyik menebar kebencian berkenan berupaya mengoreksi kekeliruan menafsirkan kebebasan berpendapat sebagai kebebasan membenci.

Marilah kita bersama kembali ke semangat Bhinneka Tunggal Ika demi mempersatukan perbedaan pendapat sebagai sinergi BUKAN saling curiga, hujat, fitnah namun saling mengerti, menghargai dan menghormati dengan sesama warga negara, bangsa dan rakyat Indonesia demi memperkokoh sendi-sendi persatuan Indonesia. MERDEKA![***]

Penulis adalah pendiri Pusat Studi Kelirumologi


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya