Berita

Ilustrasi/Net

Jaya Suprana

Penistaan Perempuan Menghebohkan Dunia

MINGGU, 22 JANUARI 2017 | 06:51 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

JIKA di Jakarta, kasus dugaan penistaan agama menyebabkan masyarakat berbondong-bondong ungkap rasa maka di Washington, New York, Boston, Portland, Los Angeles, San Fransisco, London, Bristol, Berlin, Barcelona, Roma, Paris, Sydney, Melbourne, Cape Town dan lain-lain termasuk Antartika, kasus penistaan perempuan menyebabkan masyarakat berduyun-duyun ungkap rasa.

Akibat penistaan yang dilakukan Presiden Donald Trump terhadap perempuan dengan kata-kata mesum yang tidak layak ditulis di naskah yang dimuat media terhormat ini maka amarah dunia membara. Ratusan ribu insan demo di Washington D.C.

Di depan kedutaan Amerika Serikat di London, berkumpul puluhan ribu orang untuk kemudian short-march ke Trafalgar Square. Di Trafalgar Square tokoh anggota parlemen faksi partai Labour, Yvette Cooper orasi protes keras terhadap sesumbar jorok presiden Donald Trump yang sejak 20 Januari 2017 merupakan insan paling berkuasa di planet bumi masa kini.


Walikota London,  Sadiq Khan yang mengaku dirinya feminist tidak mau ketinggalan bergabung ke aksi-damai melawan penistaan perempuan. Frances Scott pelopor gerakan 50:50 yang menuntut keseimbangan gender pada parlemen Inggeris mendesak masyarakat menandatangani petisi untuk menolak sistem demokrasi yang telah memungkinkan Donald Trump terpilih menjadi presiden.

John Kerry, Elizabeth Warren, Scarlett Johannson, Emma Watson, Michael Moore, Ashley Judd, Madonna, bergabung ke laskar anti penistaan perempuan. Charlize Theron menangis ketika menyaksikan kedahsyatan gelora semangat juang laskar anti penindasan perempuan. Tidak terbayangkan sebelumnya bahwa kasus penistaan perempuan bisa membangkitkan protes masyarakat secara sedemikian menghebohkan di puluhan negara.

Sama halnya juga tidak terbayangkan bahwa kasus penistaan agama bisa menggerakkan begitu banyak warga aksi-damai di Indonesia. Dapat diyakini bahwa protes terhadap penistaan perempuan mau pun penistaan agama  merupakan gejala sosial yang tampil di permukaan kesadaran publik. Di balik sang gejala pasti ada sumber penyakit yang sebenarnya. Hanya dengan menghilangkan rasa sakit sama sekali bukan berarti menyembuhkan sang penyakit yang sebenarnya.

Penistaan perempuan yang dilakukan oleh Donald Trump pada hakikatnya sekadar gejala yang memicu ledakan amarah terhadap masalah yang lebih besar yaitu masalah diskriminasi gender yang masih merajalela di planet bumi masa kini. Khusus terhadap Donald Trump yang kebetulan telah terpilih menjadi presiden melalui sistem pemilihan presiden khas Amerika Serikat yang memenangkan Donald Trump padahal jumlah suara rakyat yang memilih Hillary Clinton lebih banyak. Sistem Pilpres khas USA yang juga mengalahkan Al Gore padahal lebih unggul dalam perolehan suara rakyat ketimbang George W. Bush, sebenarnya sudah berulang kali ingin dikoreksi  namun selalu berhasil dipertahankan oleh pihak-pihak yang merasa diuntungkan oleh sistem tidak benar itu.

Tumpukan ketidakbenaran menimbulkan ketidakpuasan menyebabkan tekanan frustrasi terpendam pada sanubari masyarakat yang kemudian secara akumulatif makin menumpuk hingga akhirnya meledak akibat penistaan perempuan yang dilakukan oleh Donald Trump yang kebetulan seorang lelaki mengalahkan Hillary Clinton yang kebetulan seorang perempuan  akibat sistem pilpres khas USA yang sudah anakronis namun dibiarkan tetap kronis.

Demo akbar pada hari pertama kepresidenan Trump merupakan ungkapan protes terhadap penindasan kaum kuat terhadap kaum lemah. Kasus penistaan perempuan yang memicu kehebohan mancanegara itu menyadarkan kita semua agar sebaiknya jangan membiarkan ketidak-beresan sosial berlarut-larut.

Sebaiknya setiap ketidakberesan sosial segera dibereskan agar tidak menumpuk menjadi bahan peledak ledakan sosial yang sebenarnya tidak perlu meledak apabila tidak dibiarkan menumpuk.[***]

Penulis buku Kelirumologi Genderisme


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya