Berita

Jaya Suprana

Tiga Long March Kendeng

SELASA, 17 JANUARI 2017 | 14:55 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SANUBARI saya terharu-biru ketika di mancanegara pada awal Desember 2016 berkat teknologi internet sempat menyimak berita tentang sekelompok masyarakat melakukan long march berjalan kaki dari Ciamis ke Jakarta untuk menghadiri shalat Jum’at 212 di kawasan Monas, Jakarta.

Sanubari tergetar oleh semangat rakyat yang tidak memperoleh transpor bus tetap datang ke ibukota Republik Indonesia untuk bergabung dengan para peserta shalat Jum'at 212 dengan berjalan kaki. Sekembali ke Tanah Air di awal bulan Januari 2017, lagi-lagi sanubari saya terharu ketika menyimak kisah tokoh muda Sedulur Sikep (masyarakat Samin), Gunretno. Menurut kisah Gunretno, masyarakat Kendengan juga pernah melakukan long march demi mengungkapkan keberatan mereka terhadap pembangunan pabrik semen di kawasan pegunungan kapur Kendeng. Bahkan long march Kendeng ternyata bukan hanya sekali saja namun malah tiga kali.

Long march pertama diselenggarakan pada tanggal 15 sampai dengan 17 November 2015 dengan slogan  "KENDENG MENJEMPUT KEADILAN" melibatkan 200 rakyat menempuh perjalanan dalam jarak 122 km, dari Omah Sonokeling Minggu sore dan Selasa pagi tiba di PTUN Semarang. Long march Kendeng ke dua dilaksanakan pada tanggal 19 Mei 2016 dengan slogan " KENDENG NJEJEKE ADIL"  menempuh perjalanan 22 km melibatkan 1.000 orang dari makam Nyai Ageng Ngerang Kecamatan Tambakromo jam 19.00 ke Kabupaten Pati tiba di alun-alun Pati jjam 12 malam.


Sementara long march yang ketiga bersemboyan  "KENDENG KAWAL PUTUSAN MA" menempuh perjalanan 150 km mellibatkan  300 orang  berangkat dari Rembang 5 Desember 2017 dan tiba 9 Desember 2017 di Semarang di kantor Gubernur Jateng.

Akibat tidak menguasai duduk permasalahan maka saya tidak berani melibatkan diri ke dalam kemelut pro-kontra perjuangan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng. Namun selama merasa terharu belum dilarang, terpaksa saya mengakui bahwa lubuk sanubari saya memang terharu-biru ketika mendengar kisah Gunretno tentang bukan satu namun tiga long march yang dilakukan masyarakat Kendeng.

Keterharuan saya akibat merasakan ketulusan dan kegigihan semangat para pelaku long march demi mengungkapkan kepedulian bahkan kecintaan mereka kepada bumi dan budaya di lingkungan hidup mereka. Keterharuan saya juga akibat kesadaran bahwa keterbatasan daya lahir-batin diri saya sendiri memang memustahilkan saya melakukan long march seperti yang dilakukan teman-teman Sedulur Sikep.

Jangankan jarak 150 kilometer seperti pada long march kendeng yang ke tiga, sementara jarak 22 kilometer yang ditempuh long march kendeng ke dua pun, pasti saya tidak mampu melakukannya. Paling maksimal mungkin saya mampu melakukan short-march dengan jarak 22 meter saja. Itu pun secara ngos-ngosan sambil bersimbah peluh lalu nggeblak sebelum finish!

Maka setelah membandingkan kemampuan diri saya dengan masyarakat Kendeng, terpaksa saya mengakui kedigdayaan semangat rakyat dalam mengungkapkan aspirasi mereka.

Insya Allah, para pemimpin yang notabene dipilih oleh rakyat untuk duduk di tahta kekuasaan, berkenan mendengar dan mempedulikan suara sanubari rakyat selaras dengan makna adilihur yang terkandung di dalam sila-sila  Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.[***]

Penulis pembelajar makna Pancasila


Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Purbaya Soal Pegawai Rompi Oranye: Bagus, Itu Shock Therapy !

Jumat, 06 Februari 2026 | 14:16

KLH Dorong Industri AMDK Gunakan Label Emboss untuk Dukung EPR

Jumat, 06 Februari 2026 | 14:05

Inflasi Jakarta 2026 Ditargetkan di Bawah Nasional

Jumat, 06 Februari 2026 | 14:04

PKB Dukung Penuh Proyek Gentengisasi Prabowo

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:57

Saham Bakrie Group Melemah, Likuiditas Tinggi jadi Sorotan Investor

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:51

Klaim Pemerintah soal Ekonomi Belum Tentu Sejalan dengan Penilaian Pasar

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:50

PN Jaksel Tolak Gugatan Ali Wongso pada Depinas SOKSI

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:48

Purbaya Optimistis Peringkat Utang RI Naik jika Ekonomi Tumbuh 6 Persen

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:32

IHSG Melemah Tajam di Sesi I, Seluruh Sektor ke Zona Merah

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:27

Prabowo Dorong Perluasan Akses Kerja Profesional Indonesia di Australia

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:16

Selengkapnya