Berita

Jaya Suprana

Bersatu Padu Bela Negara

KAMIS, 12 JANUARI 2017 | 12:23 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

PER asing kerap memberitakan Indonesia secara tidak benar. Namun saya wajib mengakui bahwa apa yang dilakukan oleh kantor berita CNN Indonesia terhadap kasus TNI melibatkan ormas-ormas termasuk FPI dalam pelatihan Bela Negara merupakan contoh pemberitaan tentang kebenaran secara benar.

Mungkin akibat para wartawan kantor berita CNN Indonesia adalah warga Indonesia maka mampu dan mau menyimak, mencerna dan menghayati makna duduk permasalahan yang terjadi di Indonesia secara lebih benar ketimbang kantor berita asing dengan para wartawan warga negara bukan Indonesia.

CNN Indonesia 9 Januari 2017 memberitakan bahwa kegiatan bela negara yang diadakan Komandan Distrik Militer (Dandim) 0603 Lebak Letkol Czi Ubaidillah di Lebak, Banten merupakan bukti kedekatan TNI dengan kelompok intoleran. Latihan yang melibatkan beberapa anggota Front Pembela Islam (FPI) itu dikhawatirkan mengancam demokrasi.  


Tokoh aktivis HAM dan Ketua Badan Pengurus Setara Institute , Hendardi memandang TNI mengalami disorientasi serius dalam menjalankan perannya sebagai aparat pertahanan negara. "Bagaimana mungkin organisasi semacam FPI, yang antikemajemukan dan memiliki daya rusak serius, menjadi partner kerja TNI dalam membela negara," ucapnya.

Hendardi tidak sendirian sebab berbagai pihak juga negatif menilai latihan Bela Negara mengikut-sertakan anggota FPI. Sebagai pengimbang, CNN Indonesia memberitakan bahwa Direktur Bela Negara pada Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan di Kementerian Pertahanan, Laksamana Pertama Muhammad Faisal, menyatakan setiap warga negara Indonesia berhak mengikuti program bela negara.  

Faisal mengeluarkan pernyataan itu terkait pelatihan bela negara yang diberikan Komando Rayon Militer 0305/ Cipanas kepada Front Pembela Islam. Undang-undang menyebutkan bela negara itu merupakan hak dan kewajiban. Hak dulu, baru kewajiban, bagi warga negara untuk membela negara,” kata Faisal.

Kemhan menyusun program bela negara sesuai target besar Nawacita yang diusung Presiden Joko Widodo, yakni revolusi mental. Melalui program itu, kata Faisal, pemerintah ingin setiap WNI memiliki karakter yang sesuai dengan budaya Indonesia. Pembentukan karakter berpegang pada lima nilai dasar dengan cinta tanah air sebagai nilai dasar pertama.  

Empat nilai dasar yang lain adalah kesadasaran berbangsa dan bernegara, keyakinan terhadap Pancasila, rela berkoban demi negara, serta kemampuan dasar mempertahankan kedaulatan. Sebenarnya nyaris setahun sebelumnya tepatnya pada tanggal 12 Februari 2016 CNN Indonesia juga telah memberitakan  bahwa   Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu Prabowo menegaskan bahwa kesadaran hak dan kewajiban dalam pembelaan negara perlu ditumbuhkan melalui proses pembinaan kesadaran bela negara.

Proses pembinaan ini, menurutnya, sebagai upaya membangun karakter bangsa. Jenderal TNI purnawirawan ini mengklaim banyak ormas yang meminta ikut program bela negara. "Sangat banyak yang minta. Saya diantar bola bukan menjemput bola. Saya harus berbesar hati. Begitu banyak yang ingin membela negara ini," kata Ryamizard.  

Menhan menambahkan, kader bela negara yang tersebar di beberapa kota juga akan merangkul sejumlah ormas yang dianggap radikal dan mengancam persatuan bangsa dan negara. "Kami harus mendekati mereka untuk menyadarkan. Para kader bela negara akan merangkul mereka demi memberikan pemahaman," demikian ujar Ryamizard.

Secara  tabayyun, akhirnya dapat (kalau mau) tersadari bahwa melibatkan ormas yang dianggap radikal dalam latihan Bela Negara justru merupakan upaya  pewujudan semangat kemajemukan agar segenap warga Indonesia tanpa pengkotak-kotakan SARA, paham dan aliran, dapat bersatupadu membela Tanah, Air dan Angkasa kita tercinta ini.[***]
 

Penulis pembelajar makna Bhinneka Tungga Ika

 

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya