Berita

Foto/Net

Kesehatan

Pembangunan Pabrik Bahan Baku Farmasi Mendesak

Nilai Impornya Sudah Tembus Rp 15 Triliun
MINGGU, 18 DESEMBER 2016 | 09:06 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Nilai impor bahan baku farmasi pada tahun ini diperkirakan mencapai Rp 15 triliun. Jumlah tersebut sekitar 20 persen dari pasar farmasi nasional senilai Rp 70 triliun. Besar juga ya. Yuk, kita bangun pabrik bahan baku farmasi biar bisa kurangi ketergantungan impor.
 
Wakil Ketua Umum Pharma Materials Management Club (PMMC) Vincent Harijanto mengatakan, saat ini industri far­masi berharap proyek bahan baku farmasi yang digarap pemerintah melalui PT Kimia Farma bisa berjalan sesuai target. Jika tidak maka nilai impor bahan baku bisa semakin membengkak. Kita berharap pabriknya ber­jalan sesuai dengan rencana," ujarnya, kemarin.

Selain itu, kata dia, meskipun pemerintah telah membuka daf­tar negatif investasi (DNI) untuk pembangunan industri bahan baku farmasi, namun masih ada kendala dengan rendahnya bea masuk yang diberikan kepada eksportir India dan China.


"Indonesia mengenakan bea masuk maksimum 10 persen, ke China dan 4,5 persem India," katanya.

Padahal, sejak 1975, pemerintah mengatur industri farmasi yang telah beroperasi selama lima tahun diwajibkan untuk mengembangkan bahan baku­nya, tetapi sekarang sudah tidak berjalan. "Harus ada konsistensi dari pemerintah. Kalau sudah diatur begitu," ujarnya.

Dengan dibangunnya industri bahan baku obat di dalam negeri, nilai tambah industri farmasi akan meningkat. Dengan proporsi impor bahan baku sebesar 95 persen, nilai tambah bagi produk­si obat non-generik mencapai 30 persen, sementara untuk obat generik hanya 10 persen.

Ketua Umum Pharma Materials Management Club (PMMC) Kendrariadi Suhanda mengatakan, pembangunan pabrik bahan baku farmasi selain menburangi ketergantungan impor juga untuk meningkatkan ekspor. Indonesia berpotensi menjadi basis produksi ba­han baku produk farmasi untuk wilayah ASEAN.

"Jadi nanti pabrik bahan baku kita tidak hanya untuk menyuplai kebutuhan domestik saja, tapi juga kebutuhan ASEAN," ujarnya.

Ken optimis, hal tersebut akan mendapat respon positif dari negara-negara ASEAN lainnya, karena seperti Indonesia, mereka juga memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap impor bahan baku farmasi. "Jadi nanti Indonesia akan mem­bangun satu atau dua pabrik yang memproduksi bahan baku farmasi tertentu untuk seluruh kawasan ASEAN," katanya.

Dengan demikian, kata Ken, ketergantungan negara-negara ASEAN terhadap bahan baku farmasi yang selama ini didomi­nasi impor dari China dan India bisa dikurangi. Untuk investasi pabrik yang memproduksi satu jenis bahan baku farmasi dibu­tuhkan investasi sekitar 50 juta dolar AS, sementara kebutuhan akan produk itu sendiri di dalam negeri masih relatif kecil.

Ken menargetkan, pasar far­masi akan tumbuh 5â€"6 persen menjadi Rp 78 triliun pada 2017 mengikuti peningkatan permintaan pasar Jaminan Kesehatan Nasional.

Tumbuh

Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Kemente­rian Perindustrian (Kemenperin) Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, industri farmasi nasional terus mengalami per­tumbuhan signifikan beberapa tahun belakangan ini. Sebelum­nya, peningkatan berkisar 1,95 persen pada 2014 menjadi 20,5 persen pada 2015, dan terus naik hingga 15,78 persen di 2016.

Pertumbuhan yang cukup sig­nifikan tersebut juga disertai dengan peningkatan investasi baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penana­man Modal Asing (PMA) yang mencapai angka Rp 20 triliun.

Menurutnya, meski pertumbu­han industri mengalami pening­katan yang cukup signifikan, In­donesia masih harus mengimpor hampir 80 persen bahan baku untuk industri farmasi. Karena itu, Kemenperin akan terus men­dorong upaya-upaya substitusi bahan baku impor dengan meli­batkan berbagai institusi mulai dari perguruan tinggi, peneliti, dan industri.

Untuk diketahui, pada 12 Desember lalu, Presiden Jokowi melakukan kunjungan kenega­raan ke India. Jokowi berharap kunjungan tersebut dapat menja­lin kerja sama perdagangan dan investasi yang lebih signifikan.

Menteri Perindustrian Air­langga Hartarto yang turut serta dalam kunjungan menyampaikan salah satu hasil pertemuan, salah satunya dalam rangka untuk memperbaiki sektor industri farmasi nasional. Indonesia masih memerlukan bahan baku obat yang selama ini mayoritas dipasok dari China dan India.

Dengan peningkatan kerja sama di sektor ini, diharapkan da­pat mengurangi ketergantungan bahan baku impor dan memacu pengembangan daya saing indus­tri farmasi nasional. ***

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Herman Deru Perintahkan Jalinsum Diperbaiki Usai Tragedi Bus ALS

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:22

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Pemakzulan Trump Mencoreng Citra Demokrasi Barat

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:01

Politik Mesias Digital

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:27

Saksi Sidang di PN Jakbar Dikejar-kejar hingga Diduga Dianiaya

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:06

Pendidikan Bukan Komoditas Ekonomi

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:03

Korban Kecelakaan Bus ALS Jadi 18 Orang

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:32

Kritik Amien Rais Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:14

Selengkapnya