KUNJUNGAN kebudayaan ke Havana, Kuba pada belahan akhir November 2016 sempat membuat saya panik tujuh keliling. Pertama: info yang saya peroleh di Indonesia bahwa visa AS berlaku untuk Kuba ternyata total keliru sebab meski hubungan AS-Kuba membaik namun visa AS masih tidak berlaku untuk Kuba. Mujur, ternyata visa Kuba dapat diperoleh secara on arrival langsung di bandara internasional Jose Marti sebagai gerbang udara masuk ke wilayah Kuba.
Setelah lega berhasil memperoleh visa Kuba langsung kami meluncur dengan taksi ke hotel Melia Habana. Resepsionis hotel menyambut kedatangan kami dengan ramah tamah. Namun gempa panik ke dua dalam Skala Richter lebih parah langsung menerkam sanubari saya sebab ternyata kartu kredit yang saya miliki ditolak oleh mesin gesek kartu kredit di kasir hotel Melia Habana.
Saya makin panik bukan alang kepalang sebab tidak membawa uang tunai dalam dolar AS maupun Euro apalagi Pesos Kuba dalam jumlah mencukupi untuk membayar akomodasi di hotel berbintang lima tersebut. Akibat hari sudah larut malam dan mungkin kebetulan pada malam hari tersebut, pemimpin besar revolusi Kuba, Fidel Castrol meninggalkan dunia fana ini, maka petugas resepsion hotel berbelas kasihan memberi kesempatan bermalam satu malam saja sampai saya mampu membayar biaya sewa kamar hotel.
Pada malam hari itu dalam kondisi panik ditambah jet lag, saya tidak bisa tidur sampai diri hari selanjutnya. Namun Tuhan Yang Maha Kasih mengingatkan saya kepada Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang telah terbukti mampu menunaikan tugas utama yaitu melindungi para warga negara Indonesia di luar negeri. Maka saya nekat memberanikan diri mengirimkan email dan sms ke Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi untuk melaporkan musibah terancam diusir ke luar dari hotel tanpa tahu harus ke mana harus bermalam sebab tidak mampu membayar biaya akomodasi akibat kartu kredit bank Indonesia yang memiliki hubungan dengan perbankan Amerika Serikat ternyata tidak berlaku di Kuba.
Mendadak pada dini hari keesokan hari setelah suatu malam gelisah tanpa tidur, pintu kamar hotel di mana saya masih diperkenankan bermalam hanya untuk satu malam diketuk orang. Saya hampir tidak mampu percaya terhadap mata telinga kepala saya sendiri, sebab ternyata yang mengetuk pintu kamar hotel saya adalah tidak kurang dari Duta Besar Republik Indonesia untuk Kuba, Alex Palembangan didampingi isteri serta seorang staf KBRI Havana.
Bapak Dubes memberitahu bahwa beliau telah menerima WA dari ibu Menlu melaporkan musibah yang saya hadapi di Havana maka beliau langsung datang sendiri ke hotel di mana saya berada demi siap memberikan bantuan pertolongan mengurangi derita panik saya di Havana. Kedatangan dubes RI beserta isteri dan staf di kamar hotel di mana saya bermalam di Havana saja sudah langsung berhasil memerosotkan kadar beban kepanikan yang menindih lubuk sanubari saya. Bahkan kepanikan saya kemudian musnah total setelah akhirnya agen perjalanan kami di Indonesia dapat mengatasi kendala pembayaran biaya akomodasi di Melia Habana melalui jalur transfer dana elektronik dari Indonesia ke Kuba.
Kisah panik Havana yang saya alami itu membuat saya makin mengagumi, menghormati dan menghargai peran serta kinerja Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dengan segenap jajarannya yang terbukti selalu siap-siaga melindungi dan menolong warga Indonesia yang kebetulan menghadapi kesulitan di mancanegara. Kembali saya merasa bangga dan bahagia menjadi warga negara dan bangsa Indonesia. Terima Kasih, Kemenlu!
[***]
Penulis adalah warga negara Indonesia