Berita

Hatta Taliwang (kiri)

Politik

Hatta: Kami Mau Menyampaikan Aspirasi Baik-Baik Kok Dituduh Makar?

SENIN, 05 DESEMBER 2016 | 02:45 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Mantan anggota DPR, M. Hatta Taliwang, sempat dikabarkan turut ditangkap pada Jumat pagi lalu (2/12) karena dugaan upaya makar. Namun ternyata dia tidak termasuk dari delapan tokoh plus dua orang terkait UU ITE yang ditangkap saat itu.

Meski tak ditangkap, sempat muncul pertanyaan di banyak kalangan termasuk para koleganya dan sebagian jurnalis, dimana keberadaannya setelah Jumat pagi tersebut. Ternyata, Direktur Institut Ekonomi Politik Soekarno Hatta (IEPSH) ini memang sengaja menutup komunikasi pasca penangkapan sejumlah tokoh tersebut.

Berikut penjelasan tertulis Hatta Taliwang, yang juga diterima Redaksi.


Saya mohon maaf dua hari ini tak buka HP/SMS/WA mengingat situasi yang kita sudah maklumi.

Terima kasih atas atensi Bpk/Ibu /Sdrku semua.

Kita bersyukur Ibu DR (HC) Hj. Rachmawati Soekarnoputri SH dkk sdh dibebaskan. Walaupun kita prihatin masih ada teman kita yang belum dibebaskan.

Saya dalam keadaan sehat walafiat.

Sejujurnya saya marah dan perlu menenangkan emosi sehingga beberapa saat berdiam diri, mengapa kami yang sudah baik-baik mau menyampaikan aspirasi ke depan Gedung DPR/MPR RI, kok dituduh mau makar sehingga niat mulia kami terhambat dengan penangkapan terhadap teman-teman seperjuangan kami.

Kami dari Gerakan Selamatkan NKRI (GSNKRI) sudah pernah menyampaikan aspirasi. Demi Selamatkan NKRI maka harus kembali dulu ke UUD 45 ASLI untuk kemudian kita perbaiki secara adendum mana bagian yang dirasakan belum sempurna.

Sudah kami kemukakan didepan Ketua MPR RI tanggal 15 Desember 2015 bersama Ibu DR (HC) Rachmawati Soekarnoputri SH dan Jenderal (Purn) Djoko Santoso dengan 150-an tokoh lainnya. Bahkan dengan menyertakan buku argumentasi kami secara filosofis, ideologi, politik, hukum dan ekonomi mengapa kita mesti kembali ke UUD 45 ASLI lebih dahulu.

Awal November 2016 Ibu Rachma dan Pak Djoko serta kami sudah bersurat ke Ketua MPR RI mohon ketemu lagi dengan Pimpinan MPR RI untuk menyampaikan aspirasi kami lagi. Namun disambut dingin karena kami mau dijadwalkan di jam sempit hari Jumat pukul 10.30 Wib. Sehingga kami tidak bisa mengatur lagi jadwal teman-teman yang mau datang.

Kisruh masalah penistaan agama oleh Ahok kami pandang sebagai momentum yang pas juga untuk kami ingatkan agar segera kembali ke UUD45 ASLI. Karena pemimpin seperti Ahok di mata kami adalah salah satu output sistem demokrasi super liberal: melahirkan pemimpin yang tidak paham Pancasila khususnya Sila Ketuhanan Yg Maha Esa dan Sila Kemanusiaan yg adil dan beradab dan sila-sila lainnya.

Hemat kami dengan sistem Musyawarah Mufakat yang diatur dalam UUD45 ASLI, insya Allah kita bisa melahirkan pemimpin Pancasilais, memiliki kepasitas, kapabilitas, kredibilitas, integritas dan moralitas.

Aspirasi aspirasi seperti itulah yang ingin kami suarakan pada momentum yang sama dengan tuntutan umat Islam meminta keadilan atas penistaan agama oleh Ahok pada tanggal 2 Desember 2016.

Kami bahkan secara terbuka  di WA GRUP sudah menulis ke PIMP/Ang MPR RI kiranya mau mendengar aspirasi kami. Kami juga sudah menulis surat pemberitahuan ke Kepolisian RI tentang maksud kami tersebut.

Tak ada yang kami rahasiakan. Bahkan hasil pertemuan kondolidasi tokoh-tokoh nasionalis tanggal 20 Nopember 2016 kami sebar secara terbuka via WA. (Bagi yg belum baca bisa kami kirim ulang).

Apakah pertemuan terbuka dan hasilnya kami siarkan terbuka termasuk makar?

Itu yang membuat kami tersentak ketika teman-teman kami ditangkap. Kami atau saya sedih dan merasa perlu merenung dalam dalam, apa yang salah kami perbuat selama ini untuk bangsa dan negara yang sangat kami cintai ini.

Namun kita harus tetap semangat berjuang bersama untuk keselamatan dan kebaikan bangsa kita karena sejujurnya kondisi bangsa kita sangat memprihatinkan dari banyak indikator.

Meskipun banyak hambatan dan tantangan kita harus tetap semangat.

Salam
M. Hatta Taliwang, 4/12/16.

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

UPDATE

AS Siapkan Operasi Militer Jangka Panjang Terhadap Iran

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:15

Tips Menyimpan Kue Keranjang Agar Awet dan Bebas Jamur Hingga Satu Tahun

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:09

10 Ribu Warga dan Polda Metro Siap Amankan Ramadan

Sabtu, 14 Februari 2026 | 11:54

Siap-Siap Cek Rekening! Ini Bocoran Jadwal Pencairan THR PNS 2026

Sabtu, 14 Februari 2026 | 11:50

TNI di Ranah Terorisme: Ancaman bagi Supremasi Hukum

Sabtu, 14 Februari 2026 | 11:44

KPK Melempem Tangani Kasus CSR BI

Sabtu, 14 Februari 2026 | 11:37

MD Jakarta Timur Bersih-Bersih 100 Mushola Jelang Ramadhan

Sabtu, 14 Februari 2026 | 11:18

Rapor IHSG Sepekan Naik 3,49 Persen, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp14.889 Triliun

Sabtu, 14 Februari 2026 | 10:55

Norwegia dan Italia Bersaing Ketat di Posisi Puncak Olimpiade 2026

Sabtu, 14 Februari 2026 | 10:49

Bareskrim Ungkap Peran Aipda Dianita di Kasus Narkoba yang Jerat Kapolres Bima Kota Nonaktif

Sabtu, 14 Februari 2026 | 10:27

Selengkapnya