Berita

Politik

Mahfuz Sidik: Ternyata Kesepakatan Kapolri Dan GNPF Hanya Isapan Jempol

KAMIS, 01 DESEMBER 2016 | 23:35 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

. Kesepakatan antara Kapolri dengan GNPF-MUI yang membolehkan aksi super damai 212 pada mulanya disambut positif banyak pihak. Apalagi dengan sejumlah penyesuaian lokasi dan format acara, Kapolri berjanji akan mencabut semua bentuk larangan kepada berbagai pihak untuk berpartisipasi dalam aksi tersebut.

Namun sampai Kamis sore (1/2), kata politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfuz Sidik, begitu banyak laporan dari warga masyarakat melalui jejaring media sosial yang menginformasikan tindakan-tindakan aparat kepolisian yang masih menghalangi partisipasi warga. Mulai dari penghadangan kendaraan rombongan di daerah perbatasan Jawa Tengah, pelarangan kepada PO Bus di Jawa Barat, pembatasan jumlah penumpang kapal ferry di Lampung, penghadangan peserta di bandara beberap kota di Kalimantan, sampai tokoh-tokoh masyarakat yang masih didatangi aparat kepolisian untuk ditanyai rencana keberangkatannya.

Di Indramayu juga misalnya, tokoh-tokoh yang akan ke jakarta dikirim undangan untuk mengikuti apel di kantor pemda pada hari dan jam yg sama. Menurut Mahfuz Sidik dirinya juga menerima laporan serupa dari daerah pemilihannya, Cirebon-Indramayu.


"Saya perlu ingatkan bahwa sekarang zaman keterbukaan informasi. Masyarakat memiliki caranya dalam menyebar dan bertukar informasi. Sudah tidak ada lagi yang bisa ditutup-tutupi," kata Mahfuz dalam keterangan beberapa saat lalu (Kamis, 1/2).

Anggota DPR RI dari FPKS ini mengaku prihatin karena fakta-fakta ini akan menggerus kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Beberapa lembaga survei belakangan ini melansir hasil survei bahwa elektabilitas Presiden Jokowi turun anjlok sampai 12 persen sebagai imbas dari persoalan kasus Ahok. Mahfuz menyesalkan kesepakatan Kapolri dan GNPF ternyata hanya isapan  jempol.

"Kapolri dan semua jajaran pemerintah harus bisa menjaga dan membuktikan kesepakatan yang sudah dibuat. Ini perlu untuk menjaga ketentraman, kepercayaan masyarakat dan agar aksi 212 benar-2 bisa super damai," demikian Mahfuz. [ysa]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

IJTI: Buku Saku 0 Persen Rujukan Penting Pers dan Publik

Sabtu, 11 April 2026 | 18:18

Prabowo Minta Maaf Belum Bawa Pencak Silat ke Olimpiade

Sabtu, 11 April 2026 | 17:50

Aktivis Tegas Lawan Pengkhianat Konstitusi

Sabtu, 11 April 2026 | 17:27

OTT KPK Tangkap 18 Orang, Bupati Tulungagung Digulung

Sabtu, 11 April 2026 | 16:19

Ingatkan JK, Banggar DPR: Kenaikan Harga BBM Bisa Turunkan Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 11 April 2026 | 16:14

Wamen Ossy: Satgas PKH Wujud Penyelamatan Kekayaan Negara

Sabtu, 11 April 2026 | 15:54

Jawab Tren, TV Estetik dengan Teknologi Flagship Diluncurkan

Sabtu, 11 April 2026 | 15:21

KNPI Soroti Gerakan Pemakzulan: Sebut Capaian Pemerintahan Prabowo Sangat Nyata

Sabtu, 11 April 2026 | 14:54

Setelah 34 Tahun, Prabowo Pamit dari Kursi Ketum IPSI di Munas XVI

Sabtu, 11 April 2026 | 14:47

Hadiri Munas IPSI, Prabowo Ungkap Jejak Keluarga dalam Dunia Pencak Silat

Sabtu, 11 April 2026 | 14:28

Selengkapnya