Berita

Politik

Maling Ikan Bikin Nelayan Indonesia Miskin

SELASA, 11 OKTOBER 2016 | 22:22 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pencurian ikan atau illegal fishing di perairan Indonesia membuat nelayan Indonesia jatuh miskin dan tidak memperoleh tangkapan yang maksimal untuk kebutuhan dan mengembangkan dirinya ke depan.

Selain itu, maling-maling ikan di perairan Indonesia sudah sangat merugikan Negara Indonesia, lantaran sumber penghasilan Negara dari sektor perikanan dan kelautan yang sangat melimpah malah dinikmati oleh para pencuri.
 
Karena itu, upaya pemerintah untuk terus menerus menangkap dan berperang terhadap para maling ikan di perairan Indonesia harus dilakukan hingga ke akar-akarnya.
 

 
Koordinator Bidang Eenergi dan Sarana Prasarana Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Siswaryudi Heru mengatakan, pencurian ikan di laut Indonesia yang selama ini dilakukan secara massif dan sistematis oleh negara-negara tetangga dan juga melalui kaki tangannya di Indonesia, harus diberantas sampai ke akar-akarnya.
 
"Bukan hanya nelayan-nelayan kecil Indonesia yang meradang dan tidak memperoleh penghasilan yang memadai dari tangkapan yang kian minim, membuat nelayan kita miskin dan sulit mengembangkan diri. Di sisi lain, penghasilan Negara kita pun sangat kecil dari sektor perikanan karena ikan-ikan kita dicuri," papar Siswaryudi Heru di Jakarta .
 
Menurut Siswaryudi Heru, era kebangkitan perikanan Indonesia kini harus terwujud. Dengan demikian, nelayan-nelayan Indonesia juga akan lebih sejahtera dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan mengembangkan Indonesia sebagai poros matirim dunia.
 
Pria yang juga pengurus di Wakil Ketua Komite Tetap (Wakontap) Dewan Pimpinan Pusat Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) itu menekankan, semakin besar upaya dan semakin cepat langkah pemberantasan mafia pencurian ikan di Laut Indonesia, maka akan semakin cepat juga upaya perwujudan kesejahteraan nelayan Indonesia, menuju cita-cita Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.
 
"Nelayan-nelayan Indonesia tentu akan mendukung dan bahkan turut memberantas pencuri ikan di laut kita. Karena itu, para nelayan Indonesia juga harus dilindungi dan dijaga," pungkasnya.
 
Presiden Jokowi mengumumkan bahwa pencurian ikan di lautan Indonesia, kini sudah berkembang menjadi kejahatan trans-nasional. Karena itu, upaya serius untuk memberantas kejahatan itu pun harus dilakukan dengan serius.
 
Presiden menekankan perlunya kerja sama global dalam memberantas pencurian ikan itu. Dengan usaha nyata Indonesia dalam menangani pencurian ikan, mampu menurunkan tingkat eksploitasi perikanan di wilayah perairan Indonesia.
 
"Pencurian ikan di lautan suatu negara merupakan kejahatan trans-nasional yang memiliki dampak luar biasa besar. Dampak tersebut dirasakan tidak hanya terbatas pada industri perikanan saja, namun juga mencakup permasalahan lingkungan," ujar Presiden Jokowi saat membuka Simposium Kejahatan Perikanan Internasional kedua pada Senin, 10 Oktober 2016, di Gedung Agung Istana Kepresidenan Yogyakarta, Yogyakarta.
 
Pada pertemuan yang diikuti perwakilan dari 46 negara itu, Jokowi menjelaskan, laut adalah sumber pendapatan bagi 520 juta penduduk dunia dan sumber pangan bagi 2,6 miliar orang. Praktik illegal fishing telah mengurangi stok ikan dunia sebesar 90,1 persen.
 
Dalam praktiknya, menurut Presiden, kegiatan pencurian ikan juga dapat terkait dengan kejahatan lain seperti penyelundupan barang dan manusia, peredaran narkoba, dan pelanggaran terhadap peraturan perlindungan alam. Presiden pun menyebut bahwa kejatan tersebut kini telah berkembang menjadi kejahatan trans-nasional yang serius dan terorganisir.
 
"Karena itu sangatlah penting bagi kita untuk memerangi kejahatan trans-nasional yang terorganisasi tersebut dengan kolaborasi global," ujarnya.[dem]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

UPDATE

Momen Haru, Teddy Kenang Perjalanan Gubernur Pramono di Kantor Setkab

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:16

Fondasi Membangun Ekosistem Informasi yang Sehat di Era Digital

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:14

Jangan Sampai Pengunduran Diri Gubernur BI Picu Gejolak Pasar

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:11

PDIP Soroti Kasus Febrie: Penegakan Hukum Tidak Boleh Tebang Pilih

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:07

Kuasa Hukum Nadiem Laporkan Dugaan Pelanggaran Etik dan Intimidasi Saksi ke KY

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:04

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KDKMP Diklaim Bisa Tambah Pendapatan Petani hingga Rp263 Triliun

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:59

Transformasi Digital BRI Pacu Pertumbuhan Bisnis Merchant dan Transaksi QRIS

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:51

Chad Ikuti Jejak Burkina Faso, Mali, dan Niger Keluar dari ICC

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:49

Hasto Ogah Tanggapi Kaesang Maju Nyaleg di Jateng

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:36

Selengkapnya