Berita

Politik

Perbenturan Peradaban Pembangunan

MINGGU, 25 SEPTEMBER 2016 | 22:21 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

DI dalam buku termashurnya: The Clash of Civilizations, mengenai perbenturan peradaban atau clash of civilizations, Samuel P. Huntington menyatakan bahwa identitas budaya dan agama insan manusia akan menjadi sumber konflik utama di dunia pasca-Perang Dingin. Dalam skala lebih kecil namun tidak kalah penting, perbenturan peradaban juga terjadi pada semangat pembangunan infra struktur yang sedang menggelora di persada Nusantara sejak 2015.

Perbenturan peradaban pada pembangunan infra struktur di Indonesia tampil di panggung kehidupan berbangsa dan bernegara dalam sosok perbenturan mashab Pembangunan Berkelanjutan dengan Pembangunan Nirkelanjutan. Perbenturan dua mashab pembangunan tersebut terutama terletak pada perbedaan tafsir terhadap pengorbanan. Para penganut paham Pembangunan Nirkelanjutan meyakini bahwa pembangunan mustahil ditatalaksanakan menjadi kenyataan tanpa pengorbanan. Para pejuang Pembangunan Nirkelanjutan bukan saja percaya namun meyakini seyakin-yakinnya yakin bahwa harus ada korban yang hukumnya wajib untuk dikorbankan demi pembangunan. Namun tafsir atas arah pengorbanan para pejuang Pembangunan Nirkelanjutan beda dari pengorbanan para pejuang Kemerdekaan Indonesia.

Sementara para pejuang Kemerdekaan Indonesia siap mengorbankan jiwa raga diri sendiri maka para pejuang Pembangunan Nirkelanjutan siap mengorbankan jiwa raga orang lain bahkan rakyat miskin yang tidak berdaya melawan paksaan untuk berkorban demi pembangunan nasional! Maka para penganut aliran Pembangunan Nirkelanjutan sulit mengerti kenapa rakyat tergusur tidak mengikhlaskan diri mereka dikorbankan dalam bentuk digusur atas nama pembangunan infra struktur sebagai program pembangunan nasional demi membangun negara, bangsa dan rakyat menjadi lebih sejahtera. Para penganut mashab Pembangunan Nirkelanjutan tidak sadar bahwa pembangunan bernafas pendek secara tabrak lari hit and run  ibarat pembangunan yang memberhalakan tujuan maka siap menghalalkan segala cara -termasuk mengorbankan manusia- demi mencapai tujuan.


Sebenarnya Persatuan Bangsa Bangsa cukup beralasan sehingga sepakat untuk mengikrarkan mashab Pembangunan Berkelanjutan sebagai mashab pembangunan umat manusia di planet bumi pada abad XXI tanpa mengorbankan lingkungan alam, sosial, budaya dan terutama manusia. Pembangunan adalah demi menyejahterakan bukan mengorbankan manusia. Pembangunan Nirkelanjutan telah terbukti merusak lingkungan alam sehingga berdampak destruktif terhadap lapisan ozon yang melindungi planet bumi dari kemusnahan. Demi menghentikan atau minimal memperlambat proses kehancuran alam, sosial, budaya, dan manusia maka PBB mengikrarkan mashab Pembangunan Berkelanjutan. Sebenarnya bangsa Indonesia memiliki peradaban dan kebudayaan musyawarah mufakat masih ditambah kemanusiaan adil dan beradab serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, untuk menghindari perbenturan peradaban antara Pembangungan Nirkelanjutan dan Pembangunan Berkelanjutan.

Seyogianya, segenap segenap pihak yang terlibat dalam pembangunan infra struktur di Indonesia pasti mampu kalau mau menyisihkan segenap perselisihan paham demi sepaham dalam meletakkan rakyat sebagai bukan obyek namun subyek sebagai pelaku utama pembangunan. Segenap pihak -termasuk rakyat- yang terlibat dalam pembangunan sebaiknya duduk bersama untuk secara gotong royong mencari cara terbaik untuk menunaikan tugas pembangunan nasional tanpa mengorbankan lingkungan alam, sosial, budaya dan terutama rakyat.

Pembangunan dipersembahkan untuk rakyat maka sungguh tidak senonoh apalagi rakyat dipaksa berperan sebagai tumbal pembangunan! Alangkah indahnya, apabila para calon kepala daerah di segenap pelosok Nusantara masa kini sebelum terjun ke gelanggang pilkada memperebutkan tahta kekuasaan atas pilihan rakyat secara khusus diwajibkan untuk mengikuti pendidikan Pembangunan Berkelanjutan demi mampu menatalaksana pembangunan daerah masing-masing tanpa mengorbankan lingkungan alam, sosial, budaya dan rakyat yang telah memilih mereka untuk bertahta di singgasana kekuasaan. Demi bersama berjuang bukan secara gusur-menggusur namun bahu-membahu bergotong-royong membangun negara meraih cita-cita terluhur bangsa Indonesia yaitu masyarakat adil dan makmur! [***]

Penulis adalah pembelajar mashab Pembangunan Berkelanjutan


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya