Berita

Sukanto Tanoto/Net

Politik

Sukanto Tanoto Meremehkan Indonesia

JUMAT, 09 SEPTEMBER 2016 | 08:46 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Taipan Sukanto Tanoto kembali mengundang kontroversi. Dalam sebuah wawancara stasiun televisi asal Cina yang diunggah di Youtube, Sukanto dinilai meremehkan martabat Indonesia.

Sukanto menyebut Indonesia sekadar 'bapak angkat'. Sedangkan Cina menjadi 'ayah kandung'. Padahal Sukanto Tanoto lahir dan besar di Indonesia.

Anggapan Sukanto Tanoto tentang Indonesia menyedihkan dan bahkan bisa berdampak buruk. Menurut Sosiolog Universitas Indonesia Imam Prasodjo, Sukanto mencari nafkah termasuk menghasilkan pundi-pundi rupiah di Indonesia.


"Dia (Sukanto) perutnya telah buncit dan menjadi kaya raya karena bisnis di Indonesia," tulis Imam dalam akun media sosial Facebook.

Seperti diketahui, beragam bisnis yang digeluti Sukanto seperti pemasok peralatan dan kebutuhan untuk Pertamina telah berhasil menjadikannya kaya raya. Selain itu, Sukanto menguasai bisnis hutan dan perkebunan sawit. "Rupanya (apa yang dihasilkan Sukanto) tak menjadikan Indonesia sebagai bagian penuh dari hatinya," kata Imam.

Pernyataan Sukanto, selain melunturkan rasa nasionalisme, menurut Imam, turut membawa dampak bagi warga keturunan Tionghoa di Indonesia. Imam mencontohkan Rudy Hartono, Ivana Lie, dan Liliyana Natsir.

Ketiga nama tersebut, sambungnya, lahir, dibesarkan, mencari nafkah, dan hidup dari tanah Indonesia. Tapi meski memiliki darah keturunan, hal tersebut tak melunturkan rasa nasionalisme untuk Tanah Air.

"Sangat ironis rasa kebangsaan itu tak dimiliki Sukanto," tutur Imam.

Anggota Komisi XI DPR Heri Gunawan mengatakan, Sukanto lahir, besar, menikah dan diberi karpet merah oleh pemerintah untuk memanfaatkan kekayaan alam Indonesia hingga sekarang bisa jadi konglomerat. "Pernyataan Sukanto itu tentu sangat melukai hati bangsa Indonesia. Indonesia bisa merdeka lewat perjuangan dan hujan air mata para pahlawan," katanya.

Bahkan lanjut politisi Partai Gerindra ini, banyak pahlawan yang tidak sempat menikmati kemerdekaan. Sementara Sukanto Tanoto tinggal menikmati hasil kemerdekaan Indonesia tanpa pernah angkat senjata melawan penjajah.

"Dia tidak perlu banyak ngomong. Kalau merasa bangsa Indonesia maka sebaiknya dukung Indonesia dong. Kan kayanya di Indonesia, kenapa harus ngomong Indonesia bapak angkat seperti itu?" tanya Heri.

Di saat perekonomian yang lesu beberapa tahun terakhir, kata dia, seharusnya Sukanto berpihak ke Indonesia.[dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya