Berita

Kelompok Abu Sayyaf/Net

Pertahanan

Keluarga Sandera Stres

Deadline Kasih Tebusan Tinggal 2 Hari Lagi
MINGGU, 14 AGUSTUS 2016 | 08:30 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kondisi keluarga 10 WNI yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf makin memprihatinkan. Kondisi kesehatan mereka menurun drastis karena stress. Pasalnya, tenggat yang diberikan Abu Sayyaf untuk membayar tebusan tersisa dua hari lagi. Sementara, pemerintah masih belum bisa berbuat banyak. Duh...

Kemarin, tim crisis center dari Kementerian Luar Negeri kembali menemui para keluarga ABK yang disandera di kantor PT Rusianto Bersaudara, di Sungai Lais, Samarinda, Kalimantan Timur. Tim yang didampingi dokter dan psikolog ini memberikan pendampingan. Soalnya para kondisi keluarga korban mulai ngedrop.

Ada tiga orang yang ditemui tim, yaitu Dian Megawati, Elona Rahmadani, dan Abdul Muis. Mereka adalah istri dan ayah ABK kapal Cherles yang dibajak Abu Sayyaf. Juru bicara keluarga Ginting mengatakan, kondisi para keluarga saat ini menurun drastis. Soalnya belum ada kejelasan.


Dalam pertemuan antara tim Kemenlu dan keluarga, tim hanya mengecek kesehatan. Tidak ada informasi yang disampaikan mengenai pembebasan. "Ini memang yang kami khawatirkan. Kondisi mereka menurun, karena batas untuk bayar tebusan tinggal dua hari lagi," kata Ginting, di Samarinda, kemarin.

Seperti diketahui, ada 10 ABK yang disandera kelompok Abu Sayyaf. Tujuh adalah ABK Kapal Tunda Charels, sisanya 3 ABK yang dirompak di Laut Sabah, Malaysia. Dua kapal ini dirompak pada awal Juni lalu. Lewat para keluarga, penyandera meminta tebusan sebesar Rp 69 miliar.

Para keluarga korban sempat diundang ke kantor Kemenlu di Jakarta. Setelah pulang, para keluarga masih terus menjalani pendampingan psikis. "Para keluarga sebenarnya mendesak ke Jakarta lagi untuk meminta kepastian pembebasan. Tapi Kemenlu hanya mengirim tim," ungkapnya. Meski tenggat waktu bayar tebusan 250 juta peso tinggal dua hari lagi, staf Kemenlu tidak menyinggung proses pembebasan sandera ABK Charles.

Sementara itu, Wapres Jusuf Kalla meminta Filipina serius dalam upaya membebaskan sandera WNI yang diculik Abu Sayyaf di Filipina. Sebab, Pemerintah Indonesia tak ingin membebaskan para sandera dengan melakukan negosiasi. Menurut JK, negosiasi hanya akan menambah berbagai masalah. "Kita ingin membebaskan itu secara G to G, Pemerintah Filipina-lah yang kita harapkan secara serius untuk membebaskan warga kita," kata JK di Kantor Wapres Jumat lalu.

Menkopolhukam Wiranto meminta Filipina lebih tegas terhadap kelompok bersenjata Abu Sayyaf yang masih melakukan aksi kejahatan. Pernyataan tersebut disampaikan Wiranto terkait belum dibebaskanya 11 orang warga negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompol tersebut di perbatasan Sulu, Filipina.

Mantan Panglima ABRI (sekarang TNI) tersebut menilai proses pembebasan sandera oleh Filipina terlalu berlarut-larut. Berbagai operasi yang dilakukan belum menemui hasil. "Jadi sudah sekian lama terombang-ambing dalam proses penyelesaian yang berkepanjangan," kata Wiranto di Istana Kepresidenan.

Sementara itu Ketua Federasi Pekerja Transpor Internasional Asia Pasifik (ITF) Asia Pasific Hanafi Rustandi mendesak pemerintah mengoptimalkan diplomasi dan menekan Filipina untuk WNI yang disandera. "Jangan sampai upaya yang dilakukan Indonesia berseberangan dengan kebijakan Pemerintah Filipina di bawah Presiden Duterte. Sehingga menjadi kontra produktif," kata Hanafi.

Menurut Hanafi, dalam penculikan ABK Kapal Tunda Charles 001, perusahaan pelayaran PT Rusianto Bersaudara harus bertanggung jawab penuh untuk membebaskan dan keselamatan tujuh WNI yang disandera. Kasus itu terjadi akibat kelalaian perusahaan. Karena saat itu pemerintah telah memberlakukan moratorium pengiriman batubara ke Filipina mengingat tidak adanya jaminan keselamatan pelayaran di perairan Filipina Selatan.

Menurut dia, apa yang telah dilakukan Pemerintah Indonesia, yakni tidak melakukan negosiasi apapun dengan pihak penyandera dalam upaya pembebasan sandera, adalah langkah yang benar dan harus didukung oleh semua lapisan masyarakat. ***

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

UPDATE

Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS, Purbaya Belum Tambah Subsidi Energi

Sabtu, 12 September 2026 | 02:25

One Asia Golf Cup 2026 Diikuti 144 Pengusaha dari 11 Negara

Sabtu, 12 September 2026 | 02:14

Relawan Prabowo-Gibran Tak cuma Hadir saat Pemilu

Sabtu, 12 September 2026 | 01:30

Ferry Boboho Balikin Duit Rp5 Miliar, Diduga terkait Pemerasan Febrie

Sabtu, 12 September 2026 | 01:10

Maruli Janji Dongkrak Peringkat Atlet Judo Indonesia

Sabtu, 12 September 2026 | 01:01

ERP Solusi Pengendalian Kemacetan Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 00:34

Simak Rekayasa Lalin Persija-Persib di GBK

Sabtu, 12 September 2026 | 00:18

Jarnas Konsisten Kawal Program Pro Rakyat Prabowo-Gibran

Sabtu, 12 September 2026 | 00:00

Haji Dimulai dari Kalkulator

Jumat, 11 September 2026 | 23:35

Baznas Kembali Raih Indonesia Most Reputable Companies Award 2026

Jumat, 11 September 2026 | 23:20

Selengkapnya