Berita

ilustrasi/net

Kesehatan

VAKSIN PALSU

Setelah Identitas RS Dibuka, Selanjutnya Apa?

JUMAT, 15 JULI 2016 | 11:32 WIB | LAPORAN:

Tuntutan Komisi IX DPR RI agar Menteri Kesehatan membuka identitas Rumah Sakit (RS) yang menggunakan vaksin palsu bertujuan untuk melindungi masyarakat.

Begitu dikatakan Anggota Komisi IX DPR RI, Saleh Partaonan Daulay, menanggapi peristiwa pengepungan Rumah Sakit Harapan Bunda di Ciracas, Jakarta Timur, dan beberapa rumah sakit di daerah lain (kebanyakan daerah Bekasi), menyusul dibukanya identitas 14 RS penjual vaksin palsu.

"Karena sekarang ini orang khawatir di mana-mana, di republik ini, kita harap kalau sudah dibuka pemerintah juga tangani dengan fokus dan jelas," tegasnya.


Dengan dibukanya informasi RS mana saja yang menjual vaksin palsu, masyarakat akan lebih mudah mengawasi kinerja Satgas Vaksin Palsu. Satgas tersebut terdiri dari Kementrian Kesehatan, Ikatan Dokter Anak Indonesia, Bareskrim Mabes Polri, dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Selanjutnya, anak-anak yang pernah menerima vaksin palsu di RS dan fasilitas kesehatan terkait akan dicek ulang oleh pemerintah, baik cek kekebalan tubuh maupun cek indikasi sakit.

"Itu harus dilakukan dan itu bagian amanat rapat kemarin. Jadi pemerintah harus bekerja sebagai bentuk tanggung jawab penyelesaian masalah vaksin ini," katanya.

Politisi Partai Amanat Nasional ini mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan memberikan kepercayaan kepada pihak Satgas Anti Vaksin Palsu untuk bekerja secara maksimal.

"Kita beri kesempatan mereka untuk bekerja. Satgas ini masa tugasnya 3 bulan lagi. Pada masa 3 bulan ini kalau masyarakat mau tanya, tuntut, silakan disampaikan pada Satgas," jelasnya.

Jika masyarakat memiliki kekhawatiran terkait kebijakan tentang kesehatan, Saleh mempersilakan masyarakat untuk menyampaikannya langsung ke DPR.

"DPR akan dengan senang hati sampaikan aspirasi pada pemerintah," ucapnya. [ald]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Selesaikan Bentrok di Matraman dengan Kepala Dingin

Senin, 27 Juli 2026 | 20:25

Metode Backfill Tailing jadi Andalan Tambang Bawah Tanah Lebih Ramah Lingkungan

Senin, 27 Juli 2026 | 20:24

Putusan Majelis Syura PKS: Dukung Kebijakan Ekonomi Prabowo Hingga Soroti LGBTQ

Senin, 27 Juli 2026 | 20:23

Pramono Minta Warga Kepala Dingin Sikapi Bentrokan di Matraman

Senin, 27 Juli 2026 | 20:16

Sebagai Wakil Rakyat, DPR Punya Tiga Tugas yang Wajib Dijalankan

Senin, 27 Juli 2026 | 20:14

KSSK Bakal Libatkan Danantara dalam Setiap Pengambilan Keputusan

Senin, 27 Juli 2026 | 20:02

Kuasa Hukum Sebut Kasus TPPU Febrie Adriansyah Masih Abu-Abu

Senin, 27 Juli 2026 | 19:59

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Komunitas Lintas Iman Satukan Tekad Hadapi Krisis Iklim

Senin, 27 Juli 2026 | 19:49

Kompetisi Debat Pemilu ke-VI Bawaslu Cetak Rekor Peserta Terbanyak

Senin, 27 Juli 2026 | 19:48

Selengkapnya