Berita

ilustrasi

Tax Amnesty, Permufakatan Jahat Elite Negara Dengan Perampok

SABTU, 25 JUNI 2016 | 12:36 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Rancangan Undang-Undang Pengampunan Pajak atau RUU Tax Amnesty yang saat ini sedang digodok Pemerintah dan DPR terus menuai penolakan.

"RUU Tax Amnesty oleh karenanya merupakan permufakatan jahat elite negara yang harus dicegah,"  demikian kesimpulan Diskusi Publik "Kontroversi RUU Tax Amnesty: Rencana Pemasukan Dari Tax Amnesti Cuma Ilusi?" yang diprakarsai Institut Ekonomi Politik Soekarno Hatta (IEPSH) di Jakarta kemarin.

Diskusi yang dipandu Direktur IEPSH Hatta Taliwang tersebut menghadirkan sejumlah pembicara. Yaitu, dua mantan anggota DPR Habil Marati dan Djoko Edhi Abdurrahman, pendiri Asian Institute for Information and Development Studies, DR.Syahganda Nainggolan; ekonom yang juga jubir Partai Demokrat DR. M. Ikhsan Modjo, peneliti Pusat Kajian Ekonomi Politik UBK, Salamuddin Daeng; dan aktivis '98 Haris Rusli Moti.


Penoalak terhadap RUU Tax Amnesty karena dinilai sebagai skenario besar dari kelompok pemilik modal, antara lain kelompok yang terkait dengan perampokan harta BLBI 1998, koruptor, mafia judi, pelacuran, narkoba dan "human trafficking" untuk mengendalikan Indonesia dengan rencana pembelian aset-aset properti dan instrument utang negara, SUN, obligasi, dan lainnya.

"Secara ideologis, pemilik uang yang ada di Singapore sebagai sasaran Tax Amnesty adalah kelompok masyarakat yang lebih jahat dibanding PKI," jelas Hatta dalam catatan resume dan kesimpulan diskusi tersebut.

Pasalnya, mereka membawa kabur uang negara pada masa krisis perekonomian bangsa 1998 sehingga negara sekarat. Kini para penjahat dan pengkhianat bangsa tersebut hendak mengubah dirinya sebagai pahlawan penyelamat negara, yang menolong keuangan pemerintahan Jokowi.

"Undang undang ini berniat melakukan rekonsiliasi politik dan hukum dengan para penjahat ini," tulis Hatta, yang juga mantan anggota DPR RI ini.

Apalagi, masih kata Hatta, terkait kesimpulan diskusi, RUU Tax Amnesty mensasar pengampunan pada uang halal dan haram. Karenanya, uang-uang kejahatan judi, prostitusi, narkoba dan lainnya akan masuk dalam pembiayaan negara, seperti kesehatan, pendidikan, pesantren.  

"Sangat berbahaya membiarkan uang haram masuk dalam pembangunan manusia kita," tegasnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, pada prinsipnya, tax adalah alat dan cara kapitalisme dalam bernegara, khususnya pembiayaan negara. Bahkan dalam era kolonialis, tax merupakan alat penghisapan terhadap pribumi. Dalam negara komunis Tax tidak menjadi penopang utama, karena semua harta milik negara.

Sementara Negara Pancasila secara prinsip tidak menempatkan pajak sebagai sumber pembiayaan pembangunan. Pembiayaan utama harus bersumber pada pemasukan selain pajak, seperti penerimaan sumber daya alam, bagi hasil sumberdaya alam, usaha negara dari cabang cabang produksi negara.

"Karenanya, rezim pajak Jokowi dan Tax Amnesty tidak sesuai dengan semangat proklamasi dan Pancasila," tandasnya seraya menambahkan Forum Diskusi juga merekomendasikan akan mengeluarkan Petisi penolakan. [zul]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

KPK Sita Dokumen dan BBE Usai Geledah Rumah Mewah Anggota Polri Yayat Sudrajat

Kamis, 10 September 2026 | 20:17

Pendalaman Fakta dan Penegakan Hukum Transparan Diperlukan di Kasus DJKA

Kamis, 10 September 2026 | 20:12

Tim 9 Kejagung Temukan Bukti Pemerasan Febrie di Kasus Jiwasraya

Kamis, 10 September 2026 | 20:05

Konsisten Perkuat Investasi Berkelanjutan, DPLK BRI Raih Kehati ESG Award 2026

Kamis, 10 September 2026 | 19:58

Waketum Golkar: Prabowo Konsisten Satukan Berbagai Warna Politik untuk Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 19:50

Rombak Ratusan Pejabat, Purbaya Minta Kemenkeu Bergerak Lebih Cepat

Kamis, 10 September 2026 | 19:40

Iwakum Dorong Pengerahan Maksimal Cari Lima Jurnalis Hilang di Selat Sunda

Kamis, 10 September 2026 | 19:31

Menyoal Kasus Dadan Cs, JMI: Jangan Ramai di Awal, Lalu Hilang di Tengah Jalan

Kamis, 10 September 2026 | 19:14

Polisi Siap Sikat Penimbun Masker di Tengah Erupsi Gunung Anak Krakatau

Kamis, 10 September 2026 | 19:01

Pembagian 50:50 Kuota Haji Tambahan Ternyata Kebijakan Gus Yaqut

Kamis, 10 September 2026 | 18:45

Selengkapnya