Berita

syahganda nainggolan

Politik

Habib Rizieq, Nasionalisme Dan Perubahan Sosial

SENIN, 20 JUNI 2016 | 16:56 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

ADA tiga fenomena penting yang dicatat sejarah tentang  Habib Rizieq dalam beberapa waktu ini.

Pertama, saya mendengar kabar dalam pengajian di rumah Hasyim Muzadi, Pak Kyai ini mengatakan bahwa Habib Rizieq dan FPI adalah kelompok Ahlussunnah Waljamaah yang sama dengan NU. Kyai Hasyim mengatakan kepada Banser NU agar tidak melakukan gerakan berseberangan dengan FPI.
Kedua, Habib Rizieq menjadi tokoh sentral yang digandrungi ummat Islam ketika baru-baru ini menjadi tokoh utama dalam melawan kebangkitan Komunisme. Dan tokoh utama, dalam melawan Kompas yang melakukan propaganda anti Islam via "warung Saeni". Hal ini bisa dilihat banyaknya pujian dan pembicaraan di dunia maya tentang Rizieq.

Yang ketiga, sesuatu yang cukup menakjubkan saya adalah tokoh-tokoh sebuah group diskusi WA, WAG PN1, yang berisikan kelompok sekuler dari kalangan akademis, politikus, DPR, dan tentara pensiunan memberi apresiasi terhadap langkah-langkah Habib Rizieq belakangan ini dan bahkan ingin menjalin silaturahmi dengan beliau.

Yang ketiga, sesuatu yang cukup menakjubkan saya adalah tokoh-tokoh sebuah group diskusi WA, WAG PN1, yang berisikan kelompok sekuler dari kalangan akademis, politikus, DPR, dan tentara pensiunan memberi apresiasi terhadap langkah-langkah Habib Rizieq belakangan ini dan bahkan ingin menjalin silaturahmi dengan beliau.

Menguatnya ketokohan Habib Rizieq sehingga masuk mempengaruhi kalangan elite nasionalis, bukan hanya kelompok agama, merupakan pencapaian baru bagi kelompok FPI. Menarik untuk melihat terjadinya hal ini lebih jauh. Beberapa hal berikut bisa jadi pertimbangan sebab musababnya. Pertama, secara objektif rakyat Indonesia menghadapi turbulensi dengan adanya keinginan rezim Jokowi mengkerdilkan supermasi Islam dalam memproduksi peradaban bangsa kita. Beberapa peradaban lama di mana Islam, secara kultural, dianggap puncak kebudayaan, saat ini secara intensif dikontestasikan dengan nilai-nilai Jawa, pluralisme, nilai-nilai China, sekularisme, dan bahkan terakhir, kasus "bangkitnya komunisme dan Warung Saeni" seakan mendesak agar Islam menjadi "secondary", bukan "primary", sebagai sumber peradaban.
Kasus "Warung Saeni", selain dipersepsikan menghantam Islam, juga dimainkan untuk menghancurkan semua Perda yang berbau Syariah (Local Wisdom). Keadaan turbulensi ini membuat rakyat dalam kebingungan dan ketiadaan pegangan yang pasti. Situasi ketidakpastian ini memberi peluang bagi kelompok ideologis militan seperti Rizieq menjadi alternatif yang menjanjikan ketenangan.

Kedua, setelah FPI berusia 15 tahun dan Rizieq memasukkan, misalnya, Ketua LBH, Munarman dalam jajaran petinggi organisasinya, kelihatannya merupakan sinyal Rizieq sedang membangun "jembatan" kepada kelompok "luar". Dan ini membuat adanya peluang kelompok nasionalis sekuler memberi perspektif berbeda kepada FPI, yakni dari strategi tanpa dialog menjadi strategi bisa dialog.

Selain bentuk dialog FPI dengan Luhut Binsar Panjaitan dalam kasus Bangkitnya Komunisme, FPI juga berhasil mulus berdialog dengan Koran Katolik Kompas, soal isu "Warung bu Saeni". Dialog dalam kosakata modernis adalah sebuah common sense, Rasional.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah perubahan bangsa ini akan mengikuti arah Rizieq atau arah rezim Jokowi atau arah lainnya? Pertanyaan ini mungkin bisa jadi sangat prematur. Tapi dalam sebuah sejarah bangsa, kekosongan arah dapat dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang sedang berpikir strategis, seperti Rizieq Vs Rezim Jokowi. (Persoalan kekosongan arah ini tentu sudah menjadi pengetahuan bersama kita, ketika reformasi sejak 1998 sampai saat ini belum berhasil menstabilkan politik nasional dan kesejahteraan rakyat terabaikan.)

Sampai saat ini, situasi kita memang terjebak di antara peradaban Islam Vs peradaban sekuler. Peradaban sekuler ini ditandai dengan keinginan menghancurkan nasionalisme lama dengan kehidupan globalisme, di mana Indonesia hanyalah sebuah negara kapitalis pinggiran.

Keberhasilan Bung Karno dalam masa dulu adalah mencari sintesis yang tepat dengan memunculkan persatuan nasional dan nasionalisme plus Islamisme. Jalan Bung Karno ini yang belum terlihat.

Lalu bagaimana kontestasi ini akan berakhir? Perubahan sosial saat ini dapat menemui tiga kemungkinan sebagai berikut: 1) Rezim Jokowi mampu memenangkan kontestasi. Indonesia akan menjadi negara kapitalis peripheral, di mana pluralisme anti agama akan menjadi Sumber peradaban baru. 2) Arah bangsa menjadi Islam militan. Mengikuti garis Pakistan atau Turki. 3) Bangsa ini terjebak dalam ketidakpastian berkelanjutan, seperti Afganistan dan Aljazair.

Selama kita belum mendapatkan tokoh sekaliber Bung Karno dengan tesis persatuan nasional dan mensintesakan Islam dan nasionalisme, maka belum ada harapan kemungkinan baru, dari pilihan di atas.

Penulis adalah Peneliti Asian Institute for Information and Development Studies

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Dede Indra: Polri Serius Perangi Narkoba!

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:26

Grup Salim Guyur Rp2,25 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Efeknya bagi LSIP, INDF, dan ICBP

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:13

Fokus Penuhi Kebutuhan Domestik, RI Mulai Rem Ekspor Gas ke Singapura

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:35

98 Resolution Network Soroti Tata Kelola SDA dan Ekonomi Kerakyatan di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:07

TRUK dan PNSE Rajai Daftar Saham Top Gainers Sepekan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:46

Harga iPhone Duo di Indonesia, Mulai Rp 45 Juta hingga Rp 75 Juta

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:30

Tanpa Suara, BYD Atto 1 Seruduk Mobil dan Lindas Pengemudi Ojol

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:26

5 Gunung di Pulau Jawa Dilanda Karhutla Pekan Ini

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:23

Cara Cek Sebaran Asap Karhutla lewat Website BMKG dan NASA

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:02

Mengenal Virus Shamonda yang Ditemukan pada Pasien Meninggal di Prancis

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 11:59

Selengkapnya