NASARUDDIN UMAR:NET
NASARUDDIN UMAR:NET
BERMURAH hati (al-jud) adaÂlah salahsatu anak tangga untuk menggapai ketenangan batin. Suatu ketika Abdullah bin Ja’far pergi menengok keÂbunnya. Di tengah perjalanan, ia melihat seorang budak hitam yang tengah bekerja di kebun kurma. Budak itu membawa tiga potong roti sebagai bekal makanannya. Lalu seekor anjing mendekatinya, dan Budak itu melemparkan sepotong rotinya keÂpada anjing itu dan dimakannya. Kemudian setelah habis dimakan, ia melemparkan sepotong lagi dan anjing itu melahapnya. Kemudian ia melemparkan sepotong rotinya yang ketiga pada anjing itu dan anjing itu melahapnya hingga habis. Abdullah bertanya: "Berapa bekal makananmu setiap hari?" Jawabnya: "Hanya tiga potong roti." Abdullah bertanya lagi: "Mengapa engkau memberikan semuanya kepada anjing itu, dan engkau sendiri tidak makan?" Ia menjawab: "Sebab di daerah kami tidak ada anjing, jadi aku pikir anjing ini pasti datang dari jauh dalam keadaan lapar, dan aku tidak mau mengusirnya." Tanya Abdullah lagi: "Lalu, apa yang engkau makan hari ini?" Ia menjawab: "Aku berlapar saja sampai besok. Kata Abdullah: "Benar-benar inilah yang namanya dermawan yang murah hati, dan budak ini lebih dermawan dari pada aku. Akhirnya, aku membeli kebun itu dan segala isi dan peralatannya serta budak itu, lalu aku meÂmerdekakannya dan kuberikan semuanya kepada si budak tadi, subhanallah.
Pesan dari cerita ini menggambarkan keistimeÂwaan sifat-sifat kemurahan hati seorang yang rela mengorbankan harta dan miliknya lebih banyak ketimbang yang ia miliki sendiri. Orang yang sampai kepada maqam al-jud posisinya lebih tinggi dari pada dermawan biasa (al-sakha'), yang dapat menÂgorbankan sebagian kecil hartanya tetapi masih menyimpan sebagian besar lainnya. Kerendahan hati biasa juga disebut al-muatstsir yaitu orang yang sanggup menanggung segala kesulitan dan baÂhaya demi mengorbankan segala kemampuannya. Dengan demikian, al-Itsar (mengutamakan orang lain) merupakan peringkat tertinggi, kemudian urutan berikutnya adalah al-sakha', sebagaimana firman Allah: "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr/59: 9).
Kedermawanan bagi bagi orang-orang kebanÂyakan (awwam) sudah cukup, meskpun tidak tertutup kemungkinan untuk naik ke maqan al-jud. Kedermawanan sudah mampu mendekatkan diri seseorang kepada Tuhannya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw: "Orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan sesama manusia, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka."
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Kamis, 16 Juli 2026 | 19:00
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:08
Sabtu, 18 Juli 2026 | 05:48
Sabtu, 18 Juli 2026 | 05:20
Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:58
Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:38
Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:18
Sabtu, 18 Juli 2026 | 03:59
Sabtu, 18 Juli 2026 | 03:45
Sabtu, 18 Juli 2026 | 03:20
Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58