Berita

syahganda nainggolan/net

Politik

Pancasila Sontoloyo

RABU, 01 JUNI 2016 | 17:24 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

HIRUK pikuk Pancasila penuh menghiasi Socmed dan per Whatsapp-an.
Posting demi postingan berseliweran, baik tentang penetapan 1 Juni sebagai hari Pancasila, atau aksi-aksi dan panggung terkait Pancasila dan terakhir tak kalah seru, yakni permusuhan Pancasila terhadap komunisme dan palu arit.

Hiruk pikuk ini terjadi karena gerakan tiga kelompok sebagai berikut: Pertama, pengklaim Pancasilais sejati dari kalangan orde baru melakukan konsolidasi besar-besaran melihat adanya kebangkitan komunisme saat ini.

Kedua, kelompok Soekarnois mendesak Jokowi agar menetapkan Pancasila itu lahir 1 Juni dan Bung Karno adalah pencetus Pancasila.

Kedua, kelompok Soekarnois mendesak Jokowi agar menetapkan Pancasila itu lahir 1 Juni dan Bung Karno adalah pencetus Pancasila.

Ketiga, adanya kelompok yang ikut-ikutan dalam trending topic ini.

Apakah hiruk pikuk ini mempunyai makna bagi perubahan nasib rakyat? Inilah pertanyaan penting bagi kita. Sebab, jargon dan kata-kata tentang Pancasila acapkali hanya sebuah tameng bagi reklaiming eksistensi sebuah kelompok ketimbang sebuah ideologi membebaskan kemiskinan.

Benarkah demikian? Pertama, kelompok orde baru yang mengklaim paling Pancasilais pada dasarnya tidak memahami Pancasila secara benar. Mengapa? Karena mereka mencampur adukkan sebuah paham dengan sejarah. Hal ini membuat mereka salah bersikap terhadap komunisme.

Pancasila sebagai sebuah paham adalah sebuah produk pemikiran. Produk pemikiran siapa? Tentu saja pemikiran kelompok pejuang pembebasan kita melawan Belanda. Pejuang itu mempunyai ideologi beragam, dari Sosialis Islam, Komunis, Marhaenis, Sosialis kanan, Sosialis Tengah, dan juga yang bersandar pada agamanya, seperti Islam dan Kristen. Ideologi itu sendiri juga produk pemikiran.

Sebagai produk pemikiran tentu saja Pancasila sebagai konsensus ideologis merupakan produk bersama. Namun, dengan catatan saat itu adalah sebagai ideologi anti kapitalisme dan liberalisme. Pancasila Vs ideologi kolonial. Dalam posisi seperti itu, menihilkan komunisme, merupakan pikiran sesat. Sebuah pemikiran yang seharusnya hilang bersama lenyapnya rezim Suharto.

Bahwa dalam sejarah ada (tuduhan) pemberontakan komunis, tentu harus dilihat secara terpisah. Sejarah adalah sebuah dialektika dari gesekan berbagai kepentingan, baik bersifat ide maupun material. Dalam suatu momentum, tentu sebuah kelompok bisa berbeda kepentingan dengan kelompok lainnya, namun bisa bekerjasama dalam momentum lainnya.

Dengan begitu, sebuah sifat reaksioner yang dilakukan kaum loyalis orde baru ini merupakan gaya Pancasilais yang tidak jelas. Mereka gagal membedakan kepentingan imperialisme negara China dengan kepentingan kelompok korban kemanusian 65, yang sudah dimasukkan dalam agenda Presiden pemenang pilpres, dalam Nawacita. Sama dengan konyolnya Jokowi yang merestui kapolri dalam penangkapan orang-orang yang memakai atribut Palu dan Arit. Padahal belum jelas makna dari pemakai simbol Palu Arit, sebagai orang orang tertindas dan miskin atau sebuah propaganda kebangkitan ideologis.

Kedua, Jokowi dan Soekarnois bangga dengan keberhasilan penetapan 1 Juni sebagai Hari Lahirnya Pancasila. Dan Bung Karno adalah Bapak Pancasila.

Gerakan ini juga sebuah gerakan tanpa makna. Mengapa demikian?

Satu, gerakan mengklaim 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila tidak dilakukan dengan kritik terhadap eksistensi kapitalisme dan liberalisme yang dilahirkan kelompok Pancasilais Orde Baru. Padahal Pancasila adalah sebuah Way of Life yang kontra, berkontestasi dan sekaligus berkonfrontasi dengan Kapitalisme, Liberalisme dan Neoliberlisme. Rezim Jokowi dan Megawati semakin memanjakan kapitalisme dan korporasi untuk mencengkeram kekuasaannya atas negara dan menghancurkan nasib kaum marhaen. Khususnya, dapat dilihat semakin tingginya ketimpangan sosial saat ini (Gini Index sekitar 0,5).

Dua, Jokowi gagal melakukan rekonsiliasi idea. Hal ini dengan tidak adanya keyakinan Jokowi bahwa Komunisme dan Sosialisme adalah bagian penting dari sebuah Ideologi Pancasila. Orde Reformasi telah berhasil dalam menghancurkan Pancasila karena, a). Mengganti sila ke 4 Pancasila dengan liberalisme dalam berdemokrasi. b) Mengganti UUD45 tanpa referendum menjadi UUD 2002. Khususnya menghilangkan keaslian khas dan sakral pendiri bangsa, dengan menghilangkan pasal 6 UUD45 (Presiden dan Wapres harus Indonesia Asli). c)  Meletakkan negara dalam cengkeraman segelintir elite pemilik modal asing dan aseng.

Komunisme, selain paham Islamisme dan Nasionalisme, adalah alat penting untuk memastikan Pancasila cukup sakti melumpuhkan segelintir konglomerat yang menguasai dan mengontrol 90 persen kekayaan nasional. Jika Jokowi sekedar menjadikan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila, tanpa merevitalisasi  elemen-elemen ideologis radikal anti kapitalis, maka sebenarnya itu sekadar lip servis tanpa makna.

Sampai saat ini Pancasila hanya merupakan jargon omong kosong kelompok-kelompok kepentingan di atas dan kelompok ikut ikutan tanpa menjadikannya sebuah gerakan substantif dan ideologis. Mereka hanya senang kulit luarnya saja. Tidak menangis melihat Lambang Naga berkibar di lambang HUT Jakarta 2 tahun lalu. Tidak menangis melihat rakyat miskin terusir dari rumahnya sendiri di gang gang sempit, demi real estate mewah. Tidak menangis melihat nasib buruh, petani dan nelayan yang semakin sulit.
Hanya bangga dengan apel-apel panggung Pancasila.

Itulah Pancasila Sontoloyo.

*penulis adalah Dewan Syuro Serikat Buruh Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia 98

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Dede Indra: Polri Serius Perangi Narkoba!

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:26

Grup Salim Guyur Rp2,25 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Efeknya bagi LSIP, INDF, dan ICBP

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:13

Fokus Penuhi Kebutuhan Domestik, RI Mulai Rem Ekspor Gas ke Singapura

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:35

98 Resolution Network Soroti Tata Kelola SDA dan Ekonomi Kerakyatan di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:07

TRUK dan PNSE Rajai Daftar Saham Top Gainers Sepekan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:46

Harga iPhone Duo di Indonesia, Mulai Rp 45 Juta hingga Rp 75 Juta

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:30

Tanpa Suara, BYD Atto 1 Seruduk Mobil dan Lindas Pengemudi Ojol

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:26

5 Gunung di Pulau Jawa Dilanda Karhutla Pekan Ini

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:23

Cara Cek Sebaran Asap Karhutla lewat Website BMKG dan NASA

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:02

Mengenal Virus Shamonda yang Ditemukan pada Pasien Meninggal di Prancis

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 11:59

Selengkapnya