Berita

net

Kesehatan

Pemerintah Harus Cari Solusi Kanker Yang Memiskinkan

MINGGU, 17 APRIL 2016 | 13:31 WIB | LAPORAN:

Pemerintah harus memikirikan cara baru untuk menangani pasien penyakit kanker di Indonesia. Pasalnya, jumlah pasien kanker yang semakin banyak tidak semua pengobatannya dijamin Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Karena itu, pasien kanker harus mengeluarkan biaya lebih untuk pengobatan.

Menurut anggota Komisi IX DPR RI Roberth Rouw, data Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan prevalansi kanker di Indonesia 1,4 persen dengan jumlah 347.792 kasus kanker. Sedangkan BPJS Kesehatan pada 2014 telah mengeluarkan Rp 2,05 triliun untuk pembiayaan kanker dengan lebih dari 894.000 kasus.

"Pemerintah harus cari solusi baru untuk menangani pasien kanker. Kenyataannya lebih dari 20 persen pengeluaran BPJS untuk pasien kanker, tetapi beban ekonomi yang dihadapi masyarakat masih sangat besar," katanya kepada wartawan di Jakarta, Minggu (17/4).


Dia menjelaskan, data Asean Cost In Oncology yang didapat dari penelitian terhadap 2.355 pasien kanker baru yang dilakukan selama setahun setelah pasien terdiagnosis menunjukkan hasil menyedihkan. Hanya 29 persen pasien yang masih bisa diobservasi, dan 71 persen meninggal setelah satu tahun pengamatan. Survei tersebut dilakukan di 10 rumah sakit umum di delapan kota besar.

Hasil studi juga menunjukkan, 46 persen pasien kesulitan keuangan setahun pertama setelah terdiagnosis kanker. Sebanyak 58 persen pasien meminjam uang dari keluarga, 25,2 persen memakai tabungan, 12,3 persen meminjam uang secara pribadi dan 14,4 persen menjual harta pribadi. Kanker adalah penyakit dengan beban ekonomi ketiga setelah sakit jantung dan gagal ginjal.

Besarnya biaya yang dikeluarkan baik lewat Jaminan Kesehatan Nasional ataupun oleh masyarakat ternyata hanya menguntungkan produsen asing. Data Kementerian Kesehatan hanya 94 persen alat kesehatan dan 95 persen obat masih bergantung dari impor.

"Penelitian obat baru hingga alat diagnostik kanker harus lebih didorong agar kemandirian bangsa bisa tercapai dan menjadi solusi baru bagi pasien kanker," ujar politisi Partai Gerindra tersebut.

Menurut Robert, penelitian mengenai kanker sejauh ini merupakan barang mewah di Indonesia. Tidak banyak institusi yang melakukan dikarenakan masih carut marutnya kondisi riset kesehatan, hal tersebut akibatkan belum adanya aturan yang jelas dan tidak adanya koordinasi antara Kemenkes dan para pemangku kepentingan.

Belum lama ini, konflik antara Kemenkes, praktisi klinisi dan Warsito sebagai peneliti teknologi kanker sempat menjadi isu hangat dibicarakan. Warsito dianggap mengembangkan teknologi ECCT sebagai alat terapi dan ECVT sebagai alat diagnosis kanker tidak sesuai dengan kaidah ilmiah dan menurut hasil review Kemenkes tidak terbukti manfaatnya. Padahal penelitian untuk mencari cara baru menangani dan diagnosis kanker hampir tidak pernah dilakukan oleh lembaga riset lain di Indonesia.

"Saya melihat konflik ini sesuatu yang tidak perlu. Pemerintah harus bisa menjebatani apabila ada anak bangsa dengan reputasi akademik yang sangat baik punya perhatian terhadap masalah besar seperti kanker," tuturnya.

Lebih jauh, dia juga menyayangkan kalau aset peneliti yang sudah langka akhirnya harus pergi ke luar negeri karena tidak adanya dukungan dari pemerintah.

"Dukungan itu bukan hanya berupa lisan, tetapi juga berupa adanya regulasi dan keberpihakan terhadap penelitian yang dilakukan sesuai dengan kaidah ilmiah yang ada," tukas Roberth. [wah]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya