Berita

SB YUDHOYONO/net

Kunjungan Jokowi Ke Hambalang Dianggap Tekanan Untuk SBY, Kata Petinggi Partai Demokrat: Ada Apa Dengan KPK

SABTU, 19 MARET 2016 | 18:34 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Presiden Joko Widodo dianggap segelintir orang terganggu dengan pernyataan-pernyataan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Itu sebabnya, Jokowi berkunjung ke lokasi proyek pembangunan Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Hambalang, Kabupaten Bogor, yang terbengkalai.

Kunjungan itu diduga kuat sebagai manuver Jokowi untuk menghentikan kegenitan SBY.

Sekjen Partai Demokrat Hinca IP Pandjaitan tak mau mempersoalkan lebih lanjut anggapan-anggapan yang berkembang di tengah masyarakat politik tanah air.


Hambalang adalah kasus korupsi sangat fenomenal, kebetulan terjadi saat Menpora dijabat Andi Malarangeng sejawatnya (SBY) di Partai Demokrat, ini ujian terbesarnya, musibah ini juga menimpa partainya. Tapi tekadnya sudah bulat pada penyerahan kedaulatan KPK untuk menyelesaikan kasus ini secara profesional,” tulis Hinca dalam laman Facebook miliknya.

Diceritakan oleh Hinca, saat KRMT Roy Suryo menjabat Menpora menggantikan Andi Mallarangeng, salah satu hal yang ingin dia lakukan adalah menyelesaikan Proyek P3SON Hambalang.

Tetapi, saat itu Komisi X DPR RI maupun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta agar Kemenpora sama sekali tidak "menyentuh" Hambalang karena merupakan barang bukti kasus korupsi. Di awal tahun 2014 Roy Suryo juga ingin menyelamatkan aset-aset Hambalang yang terbengkalai. Tetapi lagi-lagi KPK meminta agar Hambalang tidak disentuh dulu.

Jadi kalau sekarang Menpora Imam Nahrawi dan Presiden JokoWi "mendadak" ke Hambalang, apakah memang benar-benar KPK sudah me-release barang bukti itu untuk diteruskan kembali? Mengapa jaman dahulu tidak? Ada apa dengan KPK sekarang?” tulis Hinca lagi. [dem]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

UPDATE

Momen Haru, Teddy Kenang Perjalanan Gubernur Pramono di Kantor Setkab

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:16

Fondasi Membangun Ekosistem Informasi yang Sehat di Era Digital

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:14

Jangan Sampai Pengunduran Diri Gubernur BI Picu Gejolak Pasar

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:11

PDIP Soroti Kasus Febrie: Penegakan Hukum Tidak Boleh Tebang Pilih

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:07

Kuasa Hukum Nadiem Laporkan Dugaan Pelanggaran Etik dan Intimidasi Saksi ke KY

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:04

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KDKMP Diklaim Bisa Tambah Pendapatan Petani hingga Rp263 Triliun

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:59

Transformasi Digital BRI Pacu Pertumbuhan Bisnis Merchant dan Transaksi QRIS

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:51

Chad Ikuti Jejak Burkina Faso, Mali, dan Niger Keluar dari ICC

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:49

Hasto Ogah Tanggapi Kaesang Maju Nyaleg di Jateng

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:36

Selengkapnya