Berita

sya'roni/net

Politik

Kuntoro Mangkusubroto Disebut-Sebut Terima 1 Juta Dolar AS Dari Inpex, Gratifikasikah?

JUMAT, 26 FEBRUARI 2016 | 20:20 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Komisi Pemberantasan Korupsi perlu segera bertindak mengusut dugaan aliran dana dalam polemik Blok Masela. Dalam pemberitaan di media disebutkan, mantan Kepala UKP4 Kuntoro Mangkusubroto diduga menerima dana 1 juta dolar AS dari Inpex, investor Blok Masela asal Jepang.

Sekretaris Jenderal Himpunan Masyarakat Untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika), Sya'roni, mengatakan, meskipun di dalam pemberitaan disebutkan dana diperuntukkan sebagai biaya atas jasa Kuntoro membantu Inpex dalam "business planning dan strategy development" di tahun 2015-2016 dan jasa "strategic consultant", namun bisa saja itu sebagai bentuk upaya pelegalan dana suap.

"Untuk membuktikan keabsahan dana itu, KPK harus segera bertindak. Inilah tantangan nyata buat KPK untuk membongkar dugaan korupsi di bidang tambang yang selama ini sangat sulit dibongkar," kata dia kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (26/2).


Dana yang mengalir ke Kuntoro, dalam hemat Sya'roni, patut diduga sebagai gratifikasi. Dana disebut-sebut untuk membayar jasa Kuntoro untuk pekerjaan dalam masa periode 2015-2016, padahal pada bulan November 2015 dia sudah diangkat menjadi Komisaris Utama PLN.

"Apakah legal seorang pejabat BUMN menerima order dari perusahaan asing untuk suatu pekerjaan yang bukan menjadi bidang pekerjaan BUMN yang dinaunginya. Bisa saja ini sebagai akal-akalan bentuk grafitikasi, mengingat yang bersangkutan diduga memiliki kedekatan dengan Menteri ESDM Sudirman Said," ulas Sya'roni.

Daripada berkembang liar menjadi polemik di publik, masih kata Sya'roni, sebaiknya KPK segera bertindak mengusut dugaan adanya dana 1 juta dolar AS tersebut. Bila memang tidak mengandung unsur korupsi, KPK harus mengumumkan kepada publik agar Kuntoro tidak menjadi korban fitnah.

Namun jika sebaliknya, KPK harus segera menangkap siapa pun yang terlibat karena diduga kuat, aliran dana inilah yang menjadi salah satu  penyebab berbelit-belitnya pengambilan keputusan soal posisi Blok Masela.

"Tentu publik berharap KPK segera membongkarnya, sehingga Presiden Jokowi bisa segera memutuskan apakah pengembangan gas Blok Masela di darat atau di laut," tukas Sya'roni.[dem]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

UPDATE

Momen Haru, Teddy Kenang Perjalanan Gubernur Pramono di Kantor Setkab

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:16

Fondasi Membangun Ekosistem Informasi yang Sehat di Era Digital

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:14

Jangan Sampai Pengunduran Diri Gubernur BI Picu Gejolak Pasar

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:11

PDIP Soroti Kasus Febrie: Penegakan Hukum Tidak Boleh Tebang Pilih

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:07

Kuasa Hukum Nadiem Laporkan Dugaan Pelanggaran Etik dan Intimidasi Saksi ke KY

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:04

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KDKMP Diklaim Bisa Tambah Pendapatan Petani hingga Rp263 Triliun

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:59

Transformasi Digital BRI Pacu Pertumbuhan Bisnis Merchant dan Transaksi QRIS

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:51

Chad Ikuti Jejak Burkina Faso, Mali, dan Niger Keluar dari ICC

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:49

Hasto Ogah Tanggapi Kaesang Maju Nyaleg di Jateng

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:36

Selengkapnya