Berita

popy rupaidah

Perlu Agresivitas Semua Pihak Dalam Mempercepat Pengembangan Wisata Halal

SENIN, 30 NOVEMBER 2015 | 02:19 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Masih banyak pekerjaan rumah untuk mengembangkan wisata halal. Karena itu seluruh pemangku kepentingan dunia pariwisata Indonesia seharusnya bersikap agresif dalam melakukan percepatan pengembangan wisata halal.  

Menurut pengamat ekonomi dan marketing Universitas Padjadjaran Bandung, Popy Rufaidah, Ph.D, agresivitas tersebut diperlukan untuk merespons positif keinginan target pasar wisatawan pencari wisata halal yang secara ekonomis memang menggiurkan.

Soal keharusan untuk agresif itu, dia sendiri sudah pernah menyampaikan dalam kongres tahunan Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (AFEBI) yang dihadiri para dekan, ketua program studi, serta para pengajar fakultas ekonomi PTN dan PTS se-Indonesia pertengahan bulan ini di Pontianak.  


"Dengan demikian, kita berharap ada efek multiplier untuk menyadarkan bahwa potensi bedsar tersebut hanya bisa kita rebut tanpa berleha-leha," kata Sekjen AFEBI yang juga anggota Badan Promosi Pariwisata Daerah Jawa Barat ini dalam siaran persnya (Minggu, 29/11).

Dia menjelaskan berdasarkan riset Amadeus, wisatawan muslim dari Timur Tengah, seperti Saudi Arabia, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman tersebut diprediksi akan membelanjakan uang senilai 60 miliar dolar AS tahun ini. Jumlah itu akan meningkat menjadi 216 miliar dolar AS sampai 2030 mendatang.

Sementara, para wisatawan pencari produk halal tersebut adalah pengguna aplikasi aktif seperti Halal Gems, yang menawarkan daftar halal restoran di berbagai tempat.  Pengembang dan editor aplikasi tersebut, Zohra Khaku, menarik keuntungan dengan mengutip tariff tertentu secara tahunan kepada restoran-restoran tersebut.

Karena itulah saya katakan perlunya agresivitas untuk mengambil peluang-peluang tersebut, yang saat ini masih terbuka lebar,” kata Popy.

Caranya, menurut Popy, antara lain agar semua pihak berpartisipasi aktif mendukung branding wonderful Indonesia dengan wisata halal. Selain itu, segera melakukan pengusulan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang penetapan standard mutu layanan halal. Perlu pula menyegerakan adanya sejumlah panduan ringkas penarik wisatawan mancanegara untuk  mengunjungi destinasi halal di Indonesia.

Peluang lainnya, menurut Popy, adalah pengembangan sejumlah aplikasi yang masih sangat kurang di Indonesia, yang menampilkan daftar pusat perbelanjaan dengan fasilitas mushola berstandar internasional, daftar mesjid bersejarah dengan informasi dalam tiga bahasa ( Indonesia, Inggris dan Arab), daftar hotel yang menyediakan kolam renang tertutup bagi wanita, daftar makanan dan minuman halal berbasis kearifan lokal berciri kota atau daerah tersebut.

Semua hal tersebut bisa dibagi secara alamiah oleh berbagai pemangku kepentingan dunia pariwisata Indonesia. "Hanya bila kita agresif, maka pencapaian 20 juta wisatawan mancanegara ke Indonesia di 2019 bukan hanya tercapai, bahkan mungkin terlampaui," tandasnya. [zul]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya