. Selain memberikan gambaran bahwa isu korupsi dan abuse of power di kalangan pejabat tinggi masih cukup kuat, apa yang terjadi di Malaysia saat ini juga menggambarkan bila secara politik, khususnya di kalangan orang-orang Melayu, sedang menghadapi masalah yang sangat serius.
Demikian disampaikan cendekiawan muslim pemerhati Malaysia yang juga Lektor Kepala Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Sudarnoto Abdul Hakim, kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa malam (1/9).
"Puak Melayu secara politik tidaklah utuh bersatu bahkan sejak awal sejarahnya. Pada masa itu hingga penghujung tahun 1990-an partai puak Melayu ada dua yaitu UMNO dan PAS. Akan tetapi setelah tsunami ekonomi, muncul satu partai Melayu yaitu Partai Keadilan yang dipimpin oleh istri Anwar Ibrahim," jelas Sudarnoto.
Menurut Sudarnoto, UMNO didukung oleh partai di Barisan Nasional (BN), yang saat ini harus berhadapan secara politik dengan dua partai orang Melayu yang tergabung dalam kekuatan oposisi, yaitu PAS dan Partai Keadilan, dan didukung oleh kekuatan lain lintas etnis dan agama. Politik berbasis etnis yang selama ini diterapkan ternyata tidak selalu memberi manfaat yang bisa dinikmati, khususnya oleh Puak Melayu.
Dalam situasi tertentu, sambung Sudarnoto, justru ini bisa memberikan
advantages kepada Puak China misalnya yang populasinya kurang lebih mencapai 27 persen. Dan kebijakan politik seperti ini memang bisa dimengerti sebagai langkah untuk menghindari agar peristiwa bentrok berdarah antara kelompok etnis tidak terulang lagi.
"Ini memang
traumatic tragedy dalam sejarah sosial, ekonomi dan politik di Malaysia. Ini semacam
dark history-nya Malaysia dan pemerintah sejak era Mahathir hingga Najib sekarang ini menjaga-jaga agar tak terulang lagi," jelas Sudarnoto, yang juga Ketua Dewan Pakar Kornas Forum Keluarga Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Fokal IMM).
Namun langkah ini juga, lanjut Sudarnoto, tidak berarti tidak mengandung resiko. Ada resiko atau ongkos politik yang harus ditanggung yang hari-hari ini nampak di panggung politik nasional Malaysia. Fenomena demonstrasi yang nampak didominasi oleh Puak China dan India memberikan petunjuk bahwa Melayu secara politik sedang menghadapi masalah serius.
"Ini bisa mengganggu konfidensi khususnya UMNO yang dalam waktu yang panjang berkuasa," kata Sudarnoto.
Sudarnoto melanjutkan bahwa pertentangan internal UMNO, paling tidak sejak dua pemilu sebelumnya, telah membuat UMNO mulai kehilangan konfidensi politiknya. Perolehan suara dua pemilu berturut-turut dan faktor Mahathir Mohammad juga telah ikut memperlemah UMNO dan membuka peluang bagi kekuatan oposisi yang saat ini melancarkan aksi bersama elemen masyarakat lainnya dengan target memakzulkan Najib.
"Posisi Najib semakin lemah apalagi tidak sedikit pejabat yang dipecat oleh Najib," demikian Sudarnoto.
[ysa]