Berita

fuad bawazier/net

Fuad Bawazier Tawarkan Tiga Gagasan Ketika Krisis 1998

RABU, 02 SEPTEMBER 2015 | 01:03 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Saat ini, ada sebagian ekonom mengatakan bahwa kondisi ekonomi sama seperti menjelang krisis moneter pada tahun 1997/1998. Saat ini, rupiah melemah dan menembus Rp 14.000 per dolar AS.

Ketika krisisi moneter 1997/1998 terjadi, mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier mengaku bila saat itu sedang mengusulkan tiga gagasan yang salah satunya seperti yang kini diusulkan Rusia. Yaitu agar transaksi dagang memakai mata uang trading partner-nya masing-masing sehingga tidak perlu memakai dolar AS.

"Ini agar lebih stabil," kata Fuad dalam keterangan, Selasa malam (1/9).


Gagasan kedua, lanjut Fuad, adalah mendiversifikasi cadangan devisa dengan berbagai mata uang negara trading partner secara imbal balik. Ketiga, ada IMF Asia uuntuk membantu IMF yang ada di Washingon DC, sebagaimana ada Bank Dunia tapi juga ada Bank Pembangunan Asia.

"Sekarang akhirnya lahir Bank Infrastruktur Asia yang dipelopori China tapi sudah didkung banyak negara yang lain antara lain Brazil, Rusia, India, Afrika Selatan, Australia dan Inggris. Meski memang bank ini ditentang Amerika Serikat.

"Semoga ide-ide ini berlanjut agar ekonomi dunia tidak semata-mata diatur dari Washington DC dan praktis hanya menggunakan mata uang tunggal dunia yaitu dolar AS, sehingga semua kurs nasibnya tergantung keputusan The Fed di USA.

Fuad menambahkan, upaya mata uang euro mendampingi dolar AS ternyata gagal karena banyak negara atau pemerintahan di dalamnya, yakni negara-negara anggota masyarakat Eropa. Berbeda dengan dolar AS yang hanya diatur oleh satu pemerintahan, yakni Amerika Serikat.

"Yuan berpotensi mendampingi dolar AS jadi mata uang dunia karena PDB China sudah menyamai PDB AS, dan Yuan juga hanya diatur oleh satu negara, serta cadangan valas RRC yang luarbiasa besarnya. Kita lihat saja perkembangannya sampai akhir tahun ini," demikian Fuad. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Tourism Malaysia Gencarkan Promosi Wisata di Tiga Kota Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 10:20

DPR Desak Evaluasi Nasional Perlintasan Sebidang Usai Tabrakan Kereta di Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 10:13

Bus Shalawat Gratis 24 Jam Disiapkan untuk Jemaah Haji di Makkah

Selasa, 28 April 2026 | 10:09

Update Korban Jiwa Tabrakan KA di Bekasi Bertambah Jadi 14 Orang

Selasa, 28 April 2026 | 10:00

Prabowo Minta Segera Investigasi Kasus Tabrakan Kereta Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 09:56

Lokomotif Argo Bromo Berhasil Dipindahkan, Tim SAR Fokus Evakuasi Korban

Selasa, 28 April 2026 | 09:53

Purbaya Pede IHSG Bisa Terbang 28.000, Pasar Langsung Terkoreksi

Selasa, 28 April 2026 | 09:51

Dinamika Global Tekan Indeks DXY ke Level 98,45 Jelang Keputusan Federal Reserve

Selasa, 28 April 2026 | 09:48

Kopdes Jadi Instrumen Capai Nol Kemiskinan Ekstrem

Selasa, 28 April 2026 | 09:39

Imbas Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Belasan Perjalanan KA Jarak Jauh dari Jakarta Resmi Dibatalkan

Selasa, 28 April 2026 | 09:27

Selengkapnya