Berita

Sudarnoto/net

Sudarnoto A Hakim: Sudah Waktunya Serius Bangun Paradigma Baru Pendidikan Nasional

KAMIS, 27 AGUSTUS 2015 | 14:30 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

‎. ‎Ilmu pengetahuan yang berkembang dan telah terlembagakan selama ini perlu secara terus menerus direview, ditinjau ulang dan dikritisi. Jika tidak, maka akan terjadi kemandulan intelektual yang luar biasa. 

‎"Berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi dan juga seni sesungguhnya merupakan keniscayaan antara lain dalam rangka membangun kemaslahatan bersama," kata cendekiawan muslim, Sudarnoto Abdul Hakim, dalam keterangan kepada Kantor Berita Politik RMOL beberapa waktu lalu (Kamis, 27/6).‎

‎‎Sejak masa awal perkembangannya hingga saat ini, jelas Sudarnoto, ilmu pengetahuan dan teknologi didedikasikan untuk memenuhi hajat atau kebutuhan masyarakat, dan telah terbukti keampuhannya. Karena itu, tidak sedikit kalangan masyarakat yang kemudian berpandangan dan berkeyakinan bahwa satu-satunya kekuatan yang bisa mengubah nasib manusia hanyalah ilmu pengetahuan, bukan ideologi dan bukan agama. 

‎"Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih manusia bisa menghancurkan kehidupan dan sekaligus membangkitkan kembali untuk maju. Ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pandangan masyarakat sekular terutama telah menjadi ideologi dan agama baru yang sangat diandalkan," ungkap Sudarnoto, yang merupakan Lektor Kepala UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

‎Karena pandangan yang sangat pragmatis inilah, lanjutnya, maka dalam perkembangan ilmu, kelompok atau bidang ilmu tertentulah yang dipercayai jauh lebih menjanjikan kehidupan yang lebih pasti. Berilmu berarti berkepastian untuk hidup secara material. Dan dalam hal ini, ilmu-ilmu eksakta (natural sciences) serta sejumlah ilmu sosial seperti ekonomi, misalnya, diyakini jauh lebih menjanjikan dan memberikan kepastian hidup ketimbang ilmu humaniora seperti sastra, apalagi ilmu-ilmu agama. 

‎"Karena pragmatisme positivistik inilah maka peminatan bidang-bidang yang dianggap lebih menjanjikan kehidupan cukup tinggi," jelas Sudarnoto, yang juga‎ Ketua Dewan Pakar Kornas Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Fokal IMM).‎

‎‎Tentu saja, Sudarnoto melanjutkan, kecenderungan ini memperoleh kritik yang tajam antara lain dari banyak ahli ilmu-ilmu humaniora atau budaya termasuk agama. Kalangan ini menegaskan bahwa hakikat membangun adalah membangun manusia seutuhnya bukan membangun materi dan statistik. Persoalan kepribadian atau watak, kebudayaan, filsafat, etika, komunikasi sangatlah penting ketimbang sekedar menghitung angka-angka kekayaan. ‎

‎"Betapa banyak saat ini terjadi diskriminasi, intimidasi, percekcokan bahkan tindakan-tindakan kriminal justru terjadi di lingkungan lembaga pendidikan. Tidak sedikit masyarakat yang sebetulnya berharap akan tetapi penuh dengan kecemasan terhadap kemampuan lembaga pendidikan yang ada dalam menjaga komitmen melahirkan 'manusia' yang utuh," jelasnya.

‎ Dalam konteks inilah, Sudarnoto menekankan, review terhadap bangunan ilmu pengetahuan dan pendidikan secara umum menjadi sangat penting artinya. Salah satu review yang perlu dilakukan secara lebih serius dan komprehensif antara lain lain ialah integrasi agama-ilmu pengetahuan yang sebetulnya sudah dimulai di Indonesia antara lain UIN Jakarta, Yogayakarta dan Malang. 

‎"Dikotomi yang dalam waktu panjang telah berkembang dan mewarnai kebijakan politik pendidikan sudah harus dihentikan. Sudah waktunya pemerintah, masyarakat dan ormas ormas Islam secara lebih serius dan strategis membangun satu paradigma baru pendidikan nasional sehingga Indonesia tidak menjadi konsumen produk-produk positivisme Barat, tapi menjadi produsen yang kompetitif. Sudah waktunya renaisans pendidikan dilakukan dan Muhammadiyah berpeluang besar untuk itu," demikian Sudarnoto. ‎[ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Tourism Malaysia Gencarkan Promosi Wisata di Tiga Kota Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 10:20

DPR Desak Evaluasi Nasional Perlintasan Sebidang Usai Tabrakan Kereta di Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 10:13

Bus Shalawat Gratis 24 Jam Disiapkan untuk Jemaah Haji di Makkah

Selasa, 28 April 2026 | 10:09

Update Korban Jiwa Tabrakan KA di Bekasi Bertambah Jadi 14 Orang

Selasa, 28 April 2026 | 10:00

Prabowo Minta Segera Investigasi Kasus Tabrakan Kereta Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 09:56

Lokomotif Argo Bromo Berhasil Dipindahkan, Tim SAR Fokus Evakuasi Korban

Selasa, 28 April 2026 | 09:53

Purbaya Pede IHSG Bisa Terbang 28.000, Pasar Langsung Terkoreksi

Selasa, 28 April 2026 | 09:51

Dinamika Global Tekan Indeks DXY ke Level 98,45 Jelang Keputusan Federal Reserve

Selasa, 28 April 2026 | 09:48

Kopdes Jadi Instrumen Capai Nol Kemiskinan Ekstrem

Selasa, 28 April 2026 | 09:39

Imbas Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Belasan Perjalanan KA Jarak Jauh dari Jakarta Resmi Dibatalkan

Selasa, 28 April 2026 | 09:27

Selengkapnya