Berita

Ini Pesan Menteri Puan dalam Pencanangan Tekad Gerakan Nasional Revolusi Mental

SENIN, 24 AGUSTUS 2015 | 13:17 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Gerakan Revolusi Mental dapat terwujud apabila warga negara Indonesia mengedepankan integritas, kerja keras dan gotong royong.‎

Demikian disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani. Menurut Puan lagi, Revolusi Mental adalah gerakan hidup baru untuk mengubah cara pandang, pikiran, sikap, dan perilaku manusia. Orientasi dari gerakan Revolusi Mental adalah kemajuan yang bisa membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa lain.

"Seperti dikatakan Soekarno, Revolusi Mental bukan pekerjaan satu-dua hari melainkan sebuah gerakan nasional jangka panjang dan terus-menerus. Kerja-kerja yang kita lakukan pada hari ini menentukan nasib anak cucu kita pada masa depan," kata Puan saat memimpin acara pencanangan Tekad Gerakan Nasional Revolusi Mental di kantor Kementerian Koordinator PMK, Jakarta (Senin, 24/8).

Seluruh pimpinan dan pegawai Kementerian Koordinator PMK hadir dalam upacara gerakan Revolusi Mental. Dalam acara itu juga, Puan menjelaskan alasan mengapa gerakan Revolusi Mental harus diawali di Kementerian PMK. Sebab Kementerian PMK ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai koordinator gerakan Revolusi Mental.

Oleh karena itu, Puan menekankan tiga nilai utama penting di hadapan para pimpinan dan staf kementerian. Ketiga nilai itu adalah integritas, kerja keras dan gotong royong. Nilai integritas tidak datang dengan sendirinya tetapi harus disemai dan ditumbuhkan pada setiap manusia. Dan integritas membutuhkan keteladanan, sikap disiplin, kepatuhan dan loyalitas yang mendahulukan kepentingan rakyat daripada kelompok dan individu.‎

‎Selain itu, kerja keras juga dibutuhkan agar bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa lain. Ia mengatakan, etos kerja yang tinggi harus dimiliki oleh setiap orang.

"Tiada keberhasilan tanpa kerja keras. Tiada nilai tinggi ujian tanpa belajar keras. Tiada inovasi dan kreativitas tanpa ketekunan. Kita semua berdiri disini karena kerja keras yang kita lakukan karena penguasaan pengetahuan yang kita dalami dalam pendidikan," ungkap Puan.

Namun, kata Puan, semangat kerja keras itu harus terwujud dalam budaya kerja. Setiap warga terutama abdi negara, lanjut Puan, harus memberikan pekerjaan yang terbaik bagi bangsa dan negara.‎

"Kerahkan segala kemampuan terbaikmu apabila diberikan amanah ataupun tugas oleh atasan serta selesaikan dengan cepat dan tepat waktu. Hasil kerja kita ditunggu oleh generasi yang akan datang. Kita bekerja keras bukan untuk hari ini, tetapi buat hari esok bangsa ini," ujarnya.

Nilai penting lainnya yang juga harus diterapkan guna mewujudkan gerakan Revolusi Mental adalah semangat gotong royong. Ia mengatakan, membangun bangsa tidak bisa dengan sendiri-sendiri melainkan harus bahu membahu, saling asah dan saling asuh.

  ‎Menurut Puan, setiap warga negara harus bertanggung jawab, rela untuk berbagi dan bekerja sama dalam persaudaraan. "Dengan tiga nilai ini, saya berharap kita dapat memberikan warna dan arah gerakan nasional Revolusi Mental," ujar Puan.

Setelah menanamkan tiga nilai itu kepada pimpinan dan staf kementerian, Puan meminta kepada mereka untuk menularkan gerakan Revolusi Mental kepada masyarakat. Di samping itu, Puan meminta agar kampanye gerakan Revolusi Mental juga dapat hadir di pelbagai ruang publik. Ia mencontohkan, perlunya mengkampanyekan Gerakan Hidup Baru Untuk Indonesia Jujur atau Pelayanan tanpa Korupsi. [ysa]

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

UPDATE

Realisasi Pendapatan Perparkiran di Jakarta Memble

Senin, 10 Agustus 2026 | 04:21

Keluarga Sutrimo Tak Lagi Pasrah soal Penyebab Kematian Karumga Febrie

Senin, 10 Agustus 2026 | 04:18

Rp4,1 Triliun BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II segera Cair

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:36

Penjarahan dan Keruntuhan Kota Roma, 410 M

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:16

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

Pancasila Dasar Negara Kita

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:43

Rudy Tanoe Bantah Mangkir Panggilan KPK

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:16

Waspada Banjir Rob Rendam Kawasan Pesisir Jateng

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:00

Dibuka Sayembara Rp100 Juta untuk Ijazah SMA Gibran

Senin, 10 Agustus 2026 | 01:28

Zikir Kebangsaan di Istiqlal

Senin, 10 Agustus 2026 | 01:08

Selengkapnya