Berita

SKANDAL CENTURY

Kelakuan Elit Demokrat Sikapi Buku Misbakhun Bahayakan Kegiatan Ilmiah

JUMAT, 21 AGUSTUS 2015 | 23:02 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

‎‎. Sikap elit Demokrat merespons buku Sejumlah Tanya Melawan Lupa; Mengungkap 3 Surat SMI Kepada Presden SBY tulisan Misbakhun sangat tidak elok. Bahkan, sikap mereka membahayakan kegiatan ilmiah ketika menyikapi sebuah buku dengan mengecam atau menuding penulisnya di luar konteks isi buku.‎

"Bahaya kalau menyikapi sebuah buku dengan cara seperti itu. Kalau memang apa yang ditulis Pak Misbakhun soal kasus Century tidak benar, mudah saja, tinggal di-counter dengan data yang lebih kuat. Kan publik juga sudah pandai sehingga nanti bisa membedakan," kata pakar hukum tata negara dari Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung, Asep Warlan Yusuf‎, dalam keterangan beberapa saat lalu (Jumat, 21/8).   

Menurut Asep Warlan, Misbakhun berani menulis buku tentu juga dengan pertaruhan kredibilitas karena posisinya sebagai anggota DPR. ‎ 


"Artinya, secara logika tidak mungkin juga seorang anggota DPR gegabah menulis buku jika datanya tidak akurat dan valid. Ini pertaruhannya kredibilitas yang nulis," ujarnya.  

Oleh karena itu, alangkah lebih baiknya dan memang seyogianya para pendukung SBY agar dalam menyikapi sebuah buku dengan cara yang ilmiah juga. Dan bila para pendukung SBY membuat buku tandingan sebagai bantahan atas buku yang ditulis Misbakhun, maka buku itu tak saja akan menjadi data pembanding bagi publik dalam melihat kasus Bank Century, tetapi juga bisa menjadi informasi penting bagi penegak hukum untuk menuntaskan kasus Century.  

Buku Misbakhun tentang kasus Century ini mendapat reaksi negatif dari beberapa loyalis SBY. Ruhut Sitompul misalnya, dia menilai Misbakhun sedang stres berat karena program dana aspirasi tidak disetujui pemerintah. Kemudian Herman Khaeron menilai apa yang diungkap Misbakhun dalam bukunya hanya mengira-ngira. ‎Mantan Staf Khusus Presiden SBY, Andi Arif juga ikut memberikan komentar negatif atas buku Misbakhun. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Tourism Malaysia Gencarkan Promosi Wisata di Tiga Kota Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 10:20

DPR Desak Evaluasi Nasional Perlintasan Sebidang Usai Tabrakan Kereta di Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 10:13

Bus Shalawat Gratis 24 Jam Disiapkan untuk Jemaah Haji di Makkah

Selasa, 28 April 2026 | 10:09

Update Korban Jiwa Tabrakan KA di Bekasi Bertambah Jadi 14 Orang

Selasa, 28 April 2026 | 10:00

Prabowo Minta Segera Investigasi Kasus Tabrakan Kereta Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 09:56

Lokomotif Argo Bromo Berhasil Dipindahkan, Tim SAR Fokus Evakuasi Korban

Selasa, 28 April 2026 | 09:53

Purbaya Pede IHSG Bisa Terbang 28.000, Pasar Langsung Terkoreksi

Selasa, 28 April 2026 | 09:51

Dinamika Global Tekan Indeks DXY ke Level 98,45 Jelang Keputusan Federal Reserve

Selasa, 28 April 2026 | 09:48

Kopdes Jadi Instrumen Capai Nol Kemiskinan Ekstrem

Selasa, 28 April 2026 | 09:39

Imbas Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Belasan Perjalanan KA Jarak Jauh dari Jakarta Resmi Dibatalkan

Selasa, 28 April 2026 | 09:27

Selengkapnya