Berita

Selama Ini Indonesia Lupa Membangun Industri

RABU, 19 AGUSTUS 2015 | 17:46 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Saat ini, Indonesia sedang mengalami tantangan ekonomi yang sangat berat. Karena itu semua pihak tidak boleh asyik sendiri dan harus berunding untuk mengatasi persoalan ini.

Demikian disampaikan Waketum Kadin bidang Perbankan dan Keuangan, Rosan P. Roeslani, dalam diskusi dengan tema "Peluang dan Tantangan Ekonomi Indonesia Sekarang dan 2016" yang digelar Taruna Merah Putih (TMP) di kantor TMP, Jalan Cik Ditiro, Menteng, Jakarta Pusat (Rabu, 19/8).

Selain Rosan, hadir sebagai pembicara  Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, dan Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad. Sementara itu, Ketua Umum TMP, Maruarar Sirait, bertindak sebagai moderator. Hadir juga dalam diskusi ini Dirut BNI Baiquni, Dirut Mandiri Budi Sadikin, Dirut BRI Asmawi, serta pengusaha, pelaku ekonomi seperti perwakilan dari Real Estate Indonesia, pengamat ekonomi, politisi dan aktivis gerakan mahasiswa.


"Mari berunding di sini, unsur elemen ada di sini. Jadi memang selama 10 tahun terakhir, kita nikmati pertumbuhan tinggi. Tapi selama ini kita terlena sehingga pertumbuhan semu ditunjang harga komoditas tinggi. Padahal harga itu di luar kontrol kita. Yang menentukan adalah dunia. Nasib kita ditentukan dunia. Contoh batubara 2011, 135 dolar AS perton. Sekarang 55 dolar AS USD saja. Penurunannya sangat besar," ungkap Rosan.

Selama ini, lanjut Rosan, Indonesia lupa membangun industri. Dan di saat yang sama, tak ada negara yang sustainbable tanpa pertumbuhan kuat. Ironisnya, industri bukan berkembang tapi malah menurun.

"Ini yang kita rasakan. Rupiah turun karena impor kita lebih banyak. Kenapa? Karena lupa bangun industri kita. Maka pemerintah harus keluarkan industrial policy. Dulu ada industrial policy sehingga berkembang," ungkapnya,

selain itu, lanjut Rosan, harus juga ada  kebijakan insentif pajak dan ekspor, iklim usaha yang mendukung, akses permodalan yang tidak rumit dan lain-lain. Korea Selatan pun bisa menjadi contoh, ketika pada 1998 mengalami krisis namun 10 tahun kemudian bisa membangun industri yang sangat kuat.

"Kenapa kita tak bisa? Kita bisa kalau pemerintah dorong industri, dan ada skala prioritas induitri yang mau dibangun. Karena banyak keterbatasan kita seperti modal. Mari duduk bersama cari pemecahan permanen dan global. Pemecahan tak boleh sifatnya temporer. Untuk perkuat rupiah, mari perkuat suku bunga," demikian Roosan. [ysa]

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

UPDATE

Realisasi Pendapatan Perparkiran di Jakarta Memble

Senin, 10 Agustus 2026 | 04:21

Keluarga Sutrimo Tak Lagi Pasrah soal Penyebab Kematian Karumga Febrie

Senin, 10 Agustus 2026 | 04:18

Rp4,1 Triliun BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II segera Cair

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:36

Penjarahan dan Keruntuhan Kota Roma, 410 M

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:16

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

Pancasila Dasar Negara Kita

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:43

Rudy Tanoe Bantah Mangkir Panggilan KPK

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:16

Waspada Banjir Rob Rendam Kawasan Pesisir Jateng

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:00

Dibuka Sayembara Rp100 Juta untuk Ijazah SMA Gibran

Senin, 10 Agustus 2026 | 01:28

Zikir Kebangsaan di Istiqlal

Senin, 10 Agustus 2026 | 01:08

Selengkapnya