Berita

Warning, Pelemahan Rupiah Sudah Tidak Normal!

KAMIS, 13 AGUSTUS 2015 | 06:27 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Dalam beberapa hari terakhir ini rupiah semakin melemah sebesar 140 poin menjadi Rp 13.747 dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp 13.607 per dolar AS. Pelemahan ini mengakibatkan kegaduhan nilai transaksi perdagangan yang semakin terpuruk. Apalagi tahun terakhir ini rupiah sudah tidak bisa dikendalikan dan sudah tidak normal lagi.

"Kalau bisa kita bilang pelemahan ini, sebagian kecil berasal dari kebijakan yang dilakukan The Fed USA. Kita tahu, kebijakan bank central Amerika sangat berpengaruh negatif, misalkan saja Amerika bersin saja, dampaknya akan meluas ke belahan bumi lainnya," kata analis Ekonomi FEB Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta, Edi Setiawan, dalam keterangan beberapa saat lalu (Kamis, 13/8).

Tapi itu, lanjut Edi, hanya sebagian kecil dari pengaruh yang timbul dari pelemahan rupiah saat ini. Pelemahan lain datang dari devaluasi yuan yang dilakukan pemerintah Tiongkok.


"Kita jadi terkena dampratnya, pemerintah Tiongkok yang terkena devaluasi mata uang yuan mengakibatkan eksportir komoditas dagang semakin menurun, akibatnya nilai ekspor Indonesia menurun," katanya.

Hal yang paling terpenting. sambung Edi, adalah dengan adanya resufflhe kabinet yang baru bisa membawa harapan baru akan dibawa kemana arah perekonomian Indonesia. Paling terpenting menjaga stabilitas ekonomi yang paling fundamental.

"Dengan menjaga komoditas ekspor, meningkatkan investor asing untuk datang ke Indonesia dan menekan impor. Itu sudah cukup bagi penguatan fundamental ekonomi kita," jelas Edi, yang Direktur Lingkar Kajian Ekonomi Untuk Indonesia (Lingkei) Jakarta.   

Menurutnya, tim ekonomi baru harus segera menyiapkan jurus jitu dalam mengelola stabilitas rupiah dengan melakukan operasi pasar, mengendalikan suku bunga BI Rate, dan ikut berpartisipasi dalam memenuhi investasi asing agar dananya mengendap ke dalam negeri.

"Itu bagian terpenting yang sekarang harus dilakukan. Jangan sampai anomali rupiah dalam 17 tahun ini terus mengalami kemunduran. Dan sudah menjadi warning, tim ekonomi baru berkerja keras," demikian Edi. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

UPDATE

MNC Siap Lawan Putusan CMNP Lewat Banding hingga PK!

Selasa, 28 April 2026 | 20:09

Menyambut Hardiknas 2026: Mengupas Makna Tema, Filosofi Logo, dan Harapan Pendidikan Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 20:06

RUPS bjb Angkat Susi Pudjiastuti Jadi Komut, Ayi Subarna Dirut

Selasa, 28 April 2026 | 20:02

KAMMI Ingin Perempuan jadi Penggerak Kedaulatan Energi

Selasa, 28 April 2026 | 20:01

Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar ke-35

Selasa, 28 April 2026 | 19:59

Prabowo Sempatkan Ziarah ke Makam Sang Kakek Margono Djojohadikusumo

Selasa, 28 April 2026 | 19:47

Jamaluddin Jompa Kembali Jabat Rektor Unhas

Selasa, 28 April 2026 | 19:47

Legislator Golkar Desak Dirut KAI Mundur

Selasa, 28 April 2026 | 19:44

RUPST bank bjb, Susi Pudjiastuti Komut Independen

Selasa, 28 April 2026 | 19:42

Polri Unjuk Gigi, Timnas Silat Sapu Emas di Belgia

Selasa, 28 April 2026 | 19:34

Selengkapnya