Berita

presiden joko widodo/net

Butuh Menko Pro Rakyat

KAMIS, 30 JULI 2015 | 08:25 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

TERNYATA jadi Menko di kabinet itu ada syaratnya. Bukan karena kedekatan dengan elit politik atau patron sehingga bisa beroleh kursi Menko, sebagaimana terjadi dalam orde hari ini.

Menko adalah perpanjangan tangan presiden dalam menjalankan roda pemerintahan.

Karena itu, pertama, seorang Menko harus benar-benar dapat dipercaya oleh presiden. Yang kedua, seorang Menko harus benar-benar ngerti masalah. Sedangkan yang ketiga, harus punya leadership, tipenya adalah operational leadership.


Banyak yang mengatakan Menko-Menko yang ada sekarang ini tidak dekat dengan presiden, terutama Menko Perekonomian, sehingga katanya masalah perekonomian nasional mengalami banyak hambatan dan banyak tersendat.

Memang kalau dilihat sejak awal sewaktu jadi menteri di kabinet SBY, Sofyan Djalil itu tidak ada prestasinya, kalau sekarang ada yang menjadikannya Menko Perekonomian di era Jokowi seakan-akan dia seperti naik kelas atau loncat kelas, walaupun kapasitas sebenarnya dia belum sekelas Menko.

Memang seringkali terjadi orang yang belum punya kapasitas untuk menduduki jabatan tertentu dinaikkan kelasnya karena adanya berbagai kepentingan, sehingga nilai-nilai seperti kompetensi seringkali dikesampingkan.

Selain diketahui tidak dekat dengan presiden, Menko Perekonomian yang sekarang juga dianggap pengetahuannya mengenai permasalahan perekonomian masih serba tanggung. Apalagi sudah jadi pengetahuan umum basis pendidikan Menko Perekonomian yang sekarang bukanlah ilmu ekonomi.

Idealnya seorang Menko yang merupakan perpanjangan tangan seorang presiden haruslah figur problem solver dan transformer, berpihak kepada kepentingan rakyat dan nasional. Tapi yang ada sekarang katanya justru sebaliknya.

Karena itu kalau nanti reshuffle jadi dilakukan Jokowi harus memilih salah satu garis ekonomi dari dua garis ekonomi yang ada. Pilihannya adalah apakah Jokowi akan memilih figur Menko dari garis ekonomi neoliberal ataukah dari garis ekonomi pro rakyat.

Ciri karakter Menko dari garis ekonomi neoliberal mudah dibaca karena kebijakannya selalu menyusahkan rakyat.

Kalau ada krisis selalu melakukan privatisasi, liberalisasi, mengutang. Ini saja solusinya. Dalam kondisi perekonomian yang sulit biasanya mudah mendapat utang secara multilateral tapi ujung-ujung akan ada tekanan ini dan itu dari tuan pemberi utang.

Jokowi butuh Menko Perekonomian berkarakter pejuang dan petarung yang membela kepentingan rakyat, yang optimistik karena menganggap bahwa setiap krisis yang terjadi adalah sebuah opportunity, sebuah peluang, atau momentum untuk berubah dengan bertumpu pada keberpihakan terhadap rakyat.

Salah satu indikator penentu keberhasilan pemerintahan Jokowi ke depan, pasca reshuffle nanti, adalah siapakah figur yang akan dipilihnya untuk menjadi Menko Perekonomian --- apakah kembali memilih figur anasir neoliberal-kakitangan kepentingan asing ---- ataukah mengangkat Menko Perekonomian yang selama ini dikenal sebagai figur yang dalam segala tindak dan ucapannya mencerminkan keberpihakan kepada rakyat, kepada wong cilik?

Kita tunggu kabinet hasil reshuffle yang kabarnya akan dilakukan dalam waktu dekat ini. [***]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Main di Kandang PSIM, Persija Menang Telak 4-0

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:49

Cukai MBDK Mulai Dipungut Semester II/2027, Target Rp1,7 Triliun

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:30

DPR Ingatkan Bijak di Ruang Digital dan Cegah Perundungan Siber

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:51

Ekspor Emas Anjlok, Bea Cukai Ungkap Perusahaan Tahan Pengiriman

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:38

Usai Dilantik, Kapolda Metro Jaya Serap Aspirasi Insan Pers

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:49

Pertamina Perkuat Ekosistem MyPertamina di MotoGP Mandalika

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:30

Tegas dan Loyal, Demokrat: Tidak Ada Nama Selain Prabowo untuk Kontestasi 2029

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:36

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

YLBHI Minta Polresta Solo Hentikan Dugaan Kriminalisasi Kasus Perdata jadi Pidana

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:36

Pertamina Perkuat Pengelolaan Sampah Mandalika Lewat Dukungan untuk Bank Sampah Putri Nyale

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:09

Selengkapnya