Berita

as hikam/net

Permintaan Maaf Presiden GIDI Layak Diapresiasi

MINGGU, 19 JULI 2015 | 13:49 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Sikap Presiden Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Pendeta Dorman Wandikmbo (DW) yang secara terbuka meminta maaf kepada umat Islam di Tolikara, Papua, seharusnya bisa digunakan sebagai salah satu alat efektif bagi pemulihan ketegangan akibat insiden pelarangan Shalat Idul Fitri di lapangan Tolikara.

Begitu tegas pengamat politik senior Muhammad AS Hikam seperti dikutip dari akun Facebook miliknya, (Sabtu, 19/7).

"Penjelasan DW seputar surat yang dikeluarkan oleh ketua Klasis dan ketua Wilayah GIDI Tolikara yang melarang dilakukannya Shalat Id di lapangan terbuka, juga perlu dicermati tanpa harus disikapi dengan emosi berlebihan. Sebab alasan yang digunakan, yakni karena shalat Ied di lapangan tersebut bersamaan waktunya dengan digelarnya ibadah atau seminar internasional GIDI di Kabupaten Tolikara juga bisa dipahami dan cukup masuk akal," ujarnya.


Mantan Menristek ini menjelaskan bahwa sejatinya penyelenggaraan Shalat Id tidak harus dilakukan di lapangan. Terlebih, jika di masjid yang ada memang diperkirakan bisa menampung jumlah jemaah yang akan hadir. Tapi jika memang harus dilaksanakan di lapangan, maka harus ada negosiasi kedua belah pihak mengenai waktu ibadah agar tidak saling mengganggu.

"Saya tidak tahu apakah negosiasi yang melibatkan Pemda dan atau aparat keamanan sudah diupayakan atau belum, sehingga insiden tersebut harus terjadi," sambungnya.

Namun begitu, ia menegaskan bahwa sikap pengurus GIDI di atas mestinya diapresiasi dan dijadikan pegangan oleh pemerintah dalam rangka membatasi ekses dari insiden tersebut. Hal ini agar insiden tersebut tidak meluber dan menjadi pembenaran bagi sikap-sikap intoleran dan upaya-upaya kekerasan di wilayah lain.

"Sebab bukan tidak mungkin bahwa insiden Tolikara ini lantas akan digunakan para pendukung kekerasan di wilayah lain untuk alasan menciptakan keresahan dan tindakan-tindakan atas nama membela agama," tandas Hikam. [ian]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

UPDATE

Komisi I DPR: Kisruh Rating IGRS di Steam Picu Kegaduhan

Rabu, 08 April 2026 | 19:50

JK Jangan jadi Martir Pemecah Belah Bangsa

Rabu, 08 April 2026 | 19:41

Narasi Pesimis di Tengah Gejolak Global Ganggu Stabilitas Nasional

Rabu, 08 April 2026 | 19:19

Ulama Dukung Wacana BNN Larang Vape

Rabu, 08 April 2026 | 19:18

KAMMI: Kerusakan Lingkungan Tidak Bisa Selesai di Ruang Diskusi

Rabu, 08 April 2026 | 19:05

WFH Momentum Perkuat Layanan Digital

Rabu, 08 April 2026 | 19:02

Motor Listrik Operasional SPPG Sudah Direncanakan Sejak 2025

Rabu, 08 April 2026 | 19:00

Harus Melayani, Kader PKB Jangan jadi Tamu 5 Tahunan

Rabu, 08 April 2026 | 18:51

JK Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli Buat Akhiri Polemik

Rabu, 08 April 2026 | 18:44

7 Menu Warteg Paling Dicari Orang Indonesia

Rabu, 08 April 2026 | 18:42

Selengkapnya