Berita

Ini Alasan Warga Natuna Pilih Naik Hercules

SABTU, 04 JULI 2015 | 03:25 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Diakui Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Natuna bahwa Pesawat Hercules telah menjadi moda transportasi masyarakat untuk penghubung antar daerah. Pasalnya, Pesawat Hercules terbilang murah jika dibandingkan harga tiket maskapai komersil yang ada.

Begitu kata Kepala Bagian (Kabag) Humas dan Protokol Pemkab Natuna, Helmy Wahyuda menanggapi peristiwa Pesawat Hercules C-130 miliki TNI Angkatan Udara (AU) di mana banyak warga kabupaten Natuna menjadi korban.

"Untuk transportasi di Natuna emang susah. Satu sangat mahal dan kedua harga tiketnya sangat mahal. Kemudian, transportasi langkah," sebut Helmy kepada wartawan di Hanggar Lanud Soewondo, Jumat (3/7) seperti dikutip JPNN.


Dia menyebutkan Natuna merupakan daerah kepulauan yang ada di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang hanya bisa dijangkau menggunakan pesawat dan kapal laut dari daerah lain, sekitar Kabupaten Natuna.

Jadi, lanjut Helmy untuk transportasi udara, penerbangan di Bandara Ranai Kabupaten Natuna hanya dilalui dua jenis pesawat yakni Wings dan Boeng milik maskapai komersil dengan harga sangat mahal untuk sekali  penerbangan dari berbagai daerah.

"Untuk Boeng berkisaran seminggu dua kali dengan harga tiket dari Rp 1.300.000 hingga Rp 1.700.000. Sedangkan Wings hampir sama harganya juga," jelasnya.

Harga tiket tersebut, Helmy menunturkan melalui dari Bandara Hang Nadim, Batam, Kepri dengan jarak tempuh 50 menit hingga 1 jam, 20 menit.

"Dengan menumpang pesawat Hercules cukup terbantu lah. Apa lagi hari besar seperti di Bulan Ramadan sangat terbantu kali mengingat harga tiket cukup mahal ke Natuna," tuturnya.

Sementara disinggung soal harga tiket pesawat Hercules yang kerap ditumpangi oleh warga Natuna. Helmy enggan berkomentar.

"Kalau itu saya tidak tahu, coba lah tanya sama Lanud Soewondo, Lanud di Pekan Baru dan Lanud di Natuna," imbuhnya.

Dengan kejadian ini, Helmy mengharap ada perhatian dari Pemerintah Pusat untuk moda transportasi di Kabupaten Natuna. Pasalnya, masyarakat Natuna seperti dianaktirikan oleh pemerintah Pusat.

"Kekayaan alam kita sangat berlimpah, jangan lah kita seperti dianaktirikan, kami adalah bagian dari NKRI, jangan lah putra-putri kami menuntut ilmu diluar Natuna menjadi korban seperti ini," tandasnya. [ian]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

UPDATE

Komisi I DPR: Kisruh Rating IGRS di Steam Picu Kegaduhan

Rabu, 08 April 2026 | 19:50

JK Jangan jadi Martir Pemecah Belah Bangsa

Rabu, 08 April 2026 | 19:41

Narasi Pesimis di Tengah Gejolak Global Ganggu Stabilitas Nasional

Rabu, 08 April 2026 | 19:19

Ulama Dukung Wacana BNN Larang Vape

Rabu, 08 April 2026 | 19:18

KAMMI: Kerusakan Lingkungan Tidak Bisa Selesai di Ruang Diskusi

Rabu, 08 April 2026 | 19:05

WFH Momentum Perkuat Layanan Digital

Rabu, 08 April 2026 | 19:02

Motor Listrik Operasional SPPG Sudah Direncanakan Sejak 2025

Rabu, 08 April 2026 | 19:00

Harus Melayani, Kader PKB Jangan jadi Tamu 5 Tahunan

Rabu, 08 April 2026 | 18:51

JK Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli Buat Akhiri Polemik

Rabu, 08 April 2026 | 18:44

7 Menu Warteg Paling Dicari Orang Indonesia

Rabu, 08 April 2026 | 18:42

Selengkapnya