Berita

sutiyoso/net

Politik

Sebelum Jadi Kepala BIN, Sutiyoso Harus Jawab 5 Soal Ini

SABTU, 13 JUNI 2015 | 03:30 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Komisioner Komnas HAM Maneger Nasution menghormati sekaligus mempertanyakan pilihan Presiden Jokowi yang merekomendasikan Sutiyoso sebagai calon kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

Menghormati karena pilihan itu merupakan hak prerogatif presiden. Sedangkan mempertanyakan lantaran Presiden Jokowi oleh publik dipandang mengalami defisit sensitifitas dan respek. Musababnya, ada 5 soal yang harus dijelaskan ke publik oleh Presiden Jokowi, apalagi oleh Sutiyoso sendiri, mengenai pencalonan ini.

"Pertama, soal integritas, clear dan clean rekam jejak kemanusiaan. Sutiyoso, oleh TB Hasanuddin anggota Komisi Pertahanan DPR RI misalnya, menyebut Sutiyoso menjadi salah satu orang yang disorot saat peristiwa penyerangan markas PDI pada 27 Juli 1996. Dalam penyerangan yang kemudian dinamai kasus Kuda Tuli ini, Sutiyoso menjabat Pangdam DKI Jakarta. Dalam bentrokan yang terjadi setelah adanya pengambilan paksa kantor DPP PDI, lima orang diwartakan meninggal, 149 terluka, dan 136 lainya ditahan. Untuk kelurusan sejarah bangsa, BIN khususnya, hal tersebut harus dijelaskan secara objektif, transparan, dan berkejujuran ke publik," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi (Sabtu, 13/6).


Kedua, lanjut Maneger adalah soal profesionalitas dan independensi. Publik tentu tahu bahwa Sutiyoso adalah Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) yang menjadi pendukung Jokowi pada pilpres lalu. Tak ayal, jabatan ini dipersepsikan publik sebagai skema dari bagi-bagi kue kekuasaan setelah suksesi Jokowi-JK dalam Pilpres yang lalu.

"Soal profesionalisme dan independensi tersebut betul-betul harus dijelaskan ke publik," sambung wakil ketua umum Forum Komunikasi Alumni Ikatan Mahasiswa Mahasiswa Muhammadiyah (FOKAL IMM) itu.

Ketiga, masih lanjutnya, adalah soal kemandirian BIN. Sutiyoso harus menjelaskan ke publik mengenai komitmennya terhadap kemandirian dan kedaulatan BIN. Kemandirian setidaknya menjadikan BIN untuk kepentingan bangsa, bukan untuk kepentingan politik tertentu. Dan, kedaulatan intelijen, setidaknya mampu memastikan bahwa intelijen asing tidak (lagi) dengan mudah dan seenaknya berseliuran dan beroperasi di teritori Indonesia.

"Keempat, soal usia Sutiyoso yang sudah 70-an tahun. Agak sulit mengharapkan lahirnya gagasan-gagasan baru. Sutiyoso, di usia 70 tahun, oleh publik dipersepsikan terlalu tua untuk memimpin BIN. Apalagi kepala BIN memiliki tugas berat, yaitu mengubah mindset kerja-kerja intelijen agar lebih profesional dalam mempertahankan tanah air Indonesia," tegas Maneger.

Sementara soal kelima adalah komitmen pembeliaan. Pencalonan Sutiyoso, dinilai publik bukan sebagai proses pembeliaan, tapi justru penuaan. Komitmen regenerasi di lingkungan BIN menjadi tidak jelas lantaran Sutiyoso menjadi pengganti Marciano Norman yang lebih muda 10 periode angkatan di TNI.

"Olehnya, Presiden Jokowi, apalagi Sutiyoso, harus menjelaskan soal-soal itu ke hadapan publik. Selebihnya, DPR RI tentu akan menggali lebih dalam integritas dan profesional Sutiyoso dalam uji kepatutan dan kelayakan. Semoga," tandasnya. [ian]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya