China juara sepuluh kali/net
Tuan rumah sekaligus juara bertahan China kembali memperÂtahankan gelar Piala Sudirman. Tim Negeri Tirai Bambu menunÂdukkan Jepang 3-0 dalam final di Dongguan, kemarin.
Ganda putra Fu Haifeng/Zhang Nan membuka kemenangan China dengan mengalahkan Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa lewat pertarungan tiga set 21-17 20-22 21-17. Laga ini memakan waktu satu jam 19 menit.
Di partai kedua, tunggal putri Li Xuerui menambah keunggulan China menjadi 2-0 setelah mengaÂtasi perlawanan Akane Yamaguchi dengan 23-21 21-14.
Di nomor ketiga, pemain tunggal putra China, Lin Dan, tanpa kesulitan berarti berhasil menaklukkan rivalnya, Takuma Ueda, dengan 21-15 21-13.
Dengan kemenangan di tiga nomor ini, maka China tampil sebagai juara tanpa perlu melanÂjutkan dua partai lainnya.
Dengan kemenangan ini China untuk kelima kalinya berturut-turut berhasil mempertahankan supremasi tertinggi di kejuaraan beregu campuran dunia itu. Total mereka sudah mengoleksi 10 titel juara dari 11 kali beruntun masuk final.
Catatan lain, China selalu mengalahkan lawan-lawannya dengan skor sempurna, kecuali ketika menghadapi Indonesia di babak semifinal. Kala itu mereka kehilangan satu angka di nomor ganda putra.
Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi tetap mengapreÂsiasi perjuangan tim Indonesia di Piala Sudirman 2015. Ia juga mendorong PBSI untuk mempercepat regenerasi.
Tim Piala Sudirman "Merah Putih" terhenti di babak semifinal usai ditaklukkan juara bertahan dan juga tuan rumah, China 1-3, hari Sabtu (16/5).
Menanggapi itu, Menpora yang sempat memberikan duÂkungan langsung di Dongguan saat Indonesia bertanding melaÂwan Denmark, tetap mengapreÂsiasi perjuangan dari Liliyana Natsir dan kawan-kawan.
"Tim bulutangkis Piala Sudirman kita sudah berjuang dan berusaha sekuat tenaga. Hasilnya seperti yang kita lihat. Karenanya kita akan terus mendorong PBSI untuk terus menyiapkan pemain-pemain junior agar regenerasinya cepat dan tepat," kata Imam di Jakarta kemarin.
Sebelumnya, eks pemain naÂsional, Verawaty Fajrin, menyoroti soal ketidakseriusan dalam regenÂerasi. Proses yang berjalan lambat ditenggarai bukan karena PBSI saja sebagai pengurus bulutangÂkis, tapi juga peran pemerintah yang dinilai kurang.
"Kami akan terus mendorong agar Ragunan kembali seperti dulu menjadi tempat bagi laÂhirnya juara dunia," ucap Vera.
Imam pun berharap agar kegaÂgalan ini menjadi motivasi untuk lebih bekerja keras lagi, utaÂmanya untuk mengembalikan emas Olimpiade di Rio de Janeiro, Brazil, tahun depan. "Saya minta kepada PBSI untuk mengembaÂlikan tradisi emas di Olimpiade Brazil 2016," harapnya. ***