Berita

Kesehatan

Curhat Orang Tua Pengidap Atresia Biler ke Komisi IX DPR

RABU, 22 APRIL 2015 | 19:40 WIB | LAPORAN:

RMOL. Komisi IX DPR menerima Komunitas Pejuang Hati, Rabu (22/4). Komunitas itu beranggotakan para orang tua yang anaknya mengidap penyakit Atresia Bilier.

Ketua Tim Advokasi Komunitas Pejuang Hati, Tengku Adrian mengungkapkan berbagai persoalan yang dihadapi anak pengidap penyakit itu selama ini.

"Biaya yang begitu mahal hingga ratusan juta rupiah sementara BPJS menanggungnya hanya 250 juta, angka yang begitu besar tersebut sangat memberatkan para orang tua anak pengidap pemnyakit ini," jelasnya dalam surat elektronik yang dikirim ke redaksi.


Biaya transplantasi yang begitu mahal juga jadi kendala. Termasuk, biaya screening untuk pendonor sebesar 15-18 juta yang tidak ditanggung BPJS.

"Kami tidak tahu lagi kemana mengadu, apalagi kalau sampai anak-anak kami harus dioperasi di luar negeri, kami harus bagaimana?," ujarnya.

Tengku berharap, pemerintah memperhatikan nasib anak-anak yang mengidap penyakit Atresia Bilier ini. Dari data yang dimiliki Komunitas Pejuang Hati ini, ada puluhan anak pengidap Atresia Bilier yang membutuhkan perawatan secepatnya. Sementara belasan lainnya sudah meninggal dunia.

"Kami berharap permerintah ada peraturan yang mewajibkan Polindes, Puskesmas, tempat bersalin dan RS mewajibkan memantau anak yang baru lahir selama 3 bulan pertama agar pemnyakit tersebut bisa terdeteksi sedini mungkin. Kami yakin masih banyak anak Atresia Bilier yang tidak terdata dan butuh perhatian pemerintah,” tegasnya.

Anggota Komisi IX DPR RI, Rieke Diah Pitaloka mengatakan, untuk menyelesaikan persoalan ini harus ada perbaikan dalam regulasi untuk menangani penderita Atresia Bilier dan penyakit langka lainnya.

"Kami mendesak dan berharap segera direvisi Perpres no 111 tahun 2013 tentang jaminan kesehatan dimana disitu ada pembatasan biaya ketika seseorang  benar-benar mengidap penyakit langka dan harus diobati diluar negeri tidak ditanggung oleh Negara," terangnya.

Dengan kejadian ini, politikus PDI Perjuangan itu menilai Perpres tidak adil. Alasannya, tidak ada satu orang pun yang mau mengidap penyakit langka. Seharusnya  negara menanggung beban biaya tersebut.

"Kalaupun tidak ada dana di BPJS kita masih memiliki nomenklatur yang bisa mengambil dana darurat, masa orang tua harus juga membeli susu khusus untuk anaknya yang mengidap Atresia Bilier yang jutaan rupiah, Untuk itu saya meminta Kemenkes menyediakan susu tersebut,” tandasnya.

Ke depan, dia menyarankan adanya revisi permenkes no. 71 tahun 2013  tentang pelayanan kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional, dan revisi Permenkes No. 59 tahun 2014 tentang standar tarif pelayanan standar kesehatan.

"Saya kira ini perlu ada perbaikan dari aturan-aturan tersebut sehingga biaya semuanya ditanggung. Kemarin kita sudah menyetujui anggaran tambahan dana BPJS 5 triliun padahal Kemenkes saja kalau minta dana setengah harus setengah mati tapi BPJS  langsung diberi dana. Jadi, Tidak ada alasan  oleh karena itu saya mendesak  BPJS kesehatan memperhatikan ini," pungkasnya. [sam]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR Khawatir Pekerjaan Debt Collector jadi Ilegal, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:43

Keripik Pisang Lokal Besutan Rumah BUMN BRI Tembus Malaysia dan Hong Kong

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:19

Menlu China Mesra dengan Luhut, Sejumlah Tawaran Kerja Sama Mengalir

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:54

Program Gerakan “Warga Peduli Warga” Jaringan Aktivis 98 Berlanjut di Lampung

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:28

Sejumlah Elemen Mahasiswa Ogah Ikut Demo AMPB 27 Agustus, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:10

Ribuan Warga Meriahkan Panggung Rakyat Merdeka PANsar Murah di Kendal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:50

BRI Raih Tiga Penghargaan Bergengsi Alpha Southeast Asia 2026

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:28

DPR Tekankan Penguatan Pengendalian Lingkungan untuk Hentikan Karhutla

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:58

YLBHI Dorong Bareskrim Usut Perwira Diduga Terlibat Penipuan Investasi Tambang Emas

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:14

Pikat Pembeli dari Singapura hingga Belanda, Produk UMKM Asal Sumut Berdaya Bersama BRI

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 21:55

Selengkapnya