Berita

Siapa Sebenarnya Pemecah Belah PPP dan Golkar?

MINGGU, 12 APRIL 2015 | 16:33 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Konflik yang terjadi di tubuh PPP dan Golkar disinyalir ditunggani pihak-pihak tertentu. Siapa mereka dan apa tujuannya?

Menurut politisi Golkar Bambang Soesatyo, praktik politik pecah belah partai ala Belanda yang saat ini terjadi karena ada pihak yang ingin menaikan 'bargaining posisition' atau posisi tawar terhadap Presiden Jokowi.

Kendati telah mendapatkan beberapa kursi menteri dalam kabinet dan direksi atau komisaris di sejumlah perusahaan BUMN serta konsesi bisnis triliunan, mereka belum merasa puas dan ingin menguasai presiden.


"Mengapa mereka sulit menundukkan presiden? Karena suara mereka di parlemen tidak terlalu kuat dibandingkan dengan kekuatan Koalisi Merah Putih (KMP). Apalagi setelah hubungan presiden dengan KMP belakangan mulai lengket, terutama saat pembahasan APBN-P 2015," ujar Bamsoet dalam pesan yang dipancarluaskannya, Minggu (12/4).

KIH, katanya, ketika itu berusaha mengulur-ulur waktu namun mereka akhirnya tidak berdaya karena KMP di parlemen kompak membantu pemerintah dan presiden untuk mengutamakan kepentingan rakyat dengan mengesahkan APBN-P 2015 tepat waktu.

Karena PPP lebih dulu ber-muktamar maka partai tua berlambang Ka'bah inilah yang lebih dahulu disikat dengan menciptakan kepengurusan ganda. Selanjutkan sasaran berikutnya adalah Golkar. Mereka berhasil dengan memanfaatkan kekuasaan dan kewenangan yang diberikan UU kepada Menkumham sebagai petugas partai utk memecah belah partai Golkar.

"Jadi sangat sederhana untuk dapat mengambil kesimpulan tentang apa yang terjadi dari praktik 'politik belah partai' saat ini. Yakni, kerakusan atas keinginan menguasai 'kekuasaan istana' seluruhnya, termasuk juga menguasai presiden dengan memaksanya tetap menjadi petugas partai. Bukan merelakannya menjadi petugas rakyat yang melayani rakyat dari Sabang sampai Marauke," tukas Bamsoet.[dem]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

UPDATE

Tanpa Laboratorium Kuat, RI Hanya Jadi Pasar Teknologi Asing

Sabtu, 18 April 2026 | 00:13

Megawati-Dubes Jerman Bahas Geopolitik dan Antisipasi Krisis Global

Sabtu, 18 April 2026 | 00:01

Mahasiswa ITB Goyang Erika

Jumat, 17 April 2026 | 23:39

Kereta Api Bakal Hadir di Tanah Papua

Jumat, 17 April 2026 | 23:21

Industri Kosmetik dan Logistik Wajib Halal Oktober 2026

Jumat, 17 April 2026 | 23:01

Revisi UU Pemilu Rawan jadi Bancakan Parpol

Jumat, 17 April 2026 | 22:36

Pesan Prabowo di Dharma Santi 2026: Jaga Harmoni, Perkuat Persaudaraan

Jumat, 17 April 2026 | 22:14

Menkop: Prabowo Tegaskan Negara Hadir Atur Ekonomi Lewat Kopdes

Jumat, 17 April 2026 | 21:45

Dewas Didesak Gelar Perkara Laporan terhadap Jubir KPK

Jumat, 17 April 2026 | 21:35

YLBHI Diminta Kembali ke Khitah Bela Masyarakat Marginal

Jumat, 17 April 2026 | 21:20

Selengkapnya