Berita

jokowi-luhut panjaitan/net

Politik

Mobil Penyedot Data Bukan Dongeng!

KAMIS, 09 APRIL 2015 | 01:13 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Kabar ada mobil yang dilengkapi teknologi IT canggih yang mampu menyedot data KPU yang disebut-sebut milik Luhut Binsar Panjaitan tak bisa dianggap sepele. Di dunia hacking, keberadaan mobil penyedot data bukan isapan jempol.

Direktur Eksekutif Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID) Jajat Nurjaman mengatakan mobil seperti itu pernah ditemukan di Spanyol. Pada tahun 2013, Kepolisian Spanyol menangkap hacker bernama Sven Olaf Kamphuis karena telah menyerang layanan internet di Belanda, Jerman, Inggris dan Amerika dengan menggunakan mobil yang dilengkapi dengan teknologi IT canggih.

"Penangkapan Olaf Kamphius dan kasusnya menjadi bukti keberadaan mobil penyedot data bukanlah dongeng," kata Jajat kepada redaksi, Rabu (8/4).

Bagi kalangan yang selama ini ragu tentang keberadaan mobil penyedot data, Jajat mempersilakan untuk mengecek pemberitaan mengenai kasus "hacking van" yang berhasil dibongkar oleh Kepolisian Spanyol tersebut. Kasus tersebut pernah terekam dan diberitakan media. Kalangan yang ragu sejauh ini ditunjutkan oleh mereka-mereka yang merupakan pendukung setia atau setidak-tidaknya dari kelompok yang memiliki jaringan yang berafiliasi dengan Jokowi.

"Boleh dicek, tanya mbah Google: hacking van," imbuhnya.

Karena itulah Jajat meminta politisi Nasdem Akbar Faizal memberi penjelasan. Akhir-akhir ini, keberadaan mobil penyedot data menjadi perbincangan hangat di Tanah Air setelah bocornya SMS Akbar Faizal kepada Deputi Kepala Staf Kepresidenan Yanuar Nugroho. Di dalam SMS-nya, Akbar yang dulu aktif di Partai Hanura mengatakan tim sukses Jokowi-JK, Luhut Binsar Panjaitan yang sekarang menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan, memiliki mobil yang mampu menyedot data-data penting KPU pada masa Pilpres 2014 hanya dengan memarkirkannya di depan Kantor KPU.

"Jika Akbar Faisal terus bungkam, kepolisian dan intelijen harus bergerak mengusut berdasarkan info yang sudah beredar." kata Jajat.

"Semoga kepolisian dan intelijen berpihak pada kebenaran, bukan pada kekuasaan. Ingat, yang dipertaruhkan masa depan demokrasi Indonesia," tutup dia.[dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

UPDATE

Adab di Atas Selebrasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:12

Belgia vs Mesir Berbagi Skor 1-1

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:10

Pidato Bernuansa Sindiran Berpotensi Memicu Reaksi Balik Publik

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:39

Membongkar Skandal #SellIndonesia, Hebatnya Rupiah Menguat

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:19

Edura School Jawab Tantangan Guru di Era Digital

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:03

SEI Bongkar Dampak Kebijakan Batu Bara Bahlil: Pasokan Tersendat, Listrik Alami Gangguan!

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:37

Mahfud MD: UU Polri Abaikan Komisi Reformasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:24

ART Indonesia Disiksa Mirip Samsak Tinju di Malaysia

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:01

Kerja Prabowo Sudah Bagus, tapi Jangan Pidato Meledek Lagi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:29

Sambut 1 Muharam Setop Saling Fitnah dan Provokasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:25

Selengkapnya