. Anak-anak korban sosial dari beberapa negara Asia termasuk di Indonesia kini tengah berkumpul di Yogyakarta hingga 20 Maret 2015. Kehadiran mereka di sana dalam rangka menghadiri Wadah Global Gathering (WGG) 2015 yang digagas oleh Yayasan Wadah Titian Harapan melalui jaringan internasional yang dimilikinya.
Pertemuan ini merupakan sebuah ajang pertemuan dari banyak individu penggiat dan pemerhati sosial serta organisasi sosial. Kali ini, tema yang diangkat dalam pertemuan tersebut adalah mengenai pendidikan.
Anak-anak remaja korban konflik, kemiskinan, perdagangan manusia dan termarjinalkan oleh berbagai permasalahan sosial, akan berbagi pengalamannya tentang bagaimana bertahan, melawan tantangan hidup untuk tetap maju meraih harapan dan impian mereka.
"Hanya dengan mengerti dan menerima mereka apa adanya serta menghargai serta memperdulikan perasaan, harapan dan impiannya, maka kita dapat mendidik mereka ke arah yang lebih baik," kata penggagas terselenggaranya WGG, Anie Hashim di Yogyakarta, Kamis (19/3).
Berdasarkan pengalamannya di lapangan, menunjukan bahwa kegiatan pendidikan yang transformatif menuju sebuah pembaharuan bagi anak-anak termarjinalkan memerlukan keterbukaan dan kepedulian yang dalam agar mereka tetap menjadi pusat dan subyek pembaharuan.
Oleh karenanya, yang sangat menarik dari WGG ini adalah, anak-anak remaja yang termarjinalkan dari berbagai Negara Asia yang memiliki permasalahan sosial, diundang sebagai narasumber utama. Mereka datang mewakili negara-negara seperti Indonesia, Nepal, India, Bhutan, Afghanistan dan Filipina.
Secara bersama, sesuai dengan jenis masalah yang dihadapinya, mereka akan bersama-sama mengekspresikan dan mempresentasikan perasaan dan pengalamannya sebagai anak remaja yang termarjinalkan. Selain itu, mereka juga akan menyampaikan harapan dan impian untuk mencapai masa depan yang lebih baik.
"Satu hal yang penting, melalui acara WGG ini anak-anak termarjinalkan dari berbagai negera dapat tegak berdiri mempersiapkan masa depan mereka dengan semangat," tutur Anie yang juga pendiri Yayasan Wadah Titian Harapan.
"Karena mereka tahu mereka tidak pernah sendiri, ada banyak orang dari belahan dunia yang lain bersama dalam perjuangan dan perduli pada perjuangan mereka, meraih masa depan yang lebih baik, bagi mereka, bagi kita, bagi dunia," tambah Anie.
Dr Sima Samar, pemenang Ramon Magsaysay Award, akan menjadi pembicara kunci. Untuk melengkapi dan memperkaya presentasi utama dari anak-anak remaja ini, dihadirkan pula pejuang kemanusiaan yang mendapat penghargaan international. Mereka adalah Efren Penaflorida (Dynamic Teen Company, Philippines), Anuradha Koirala (Maiti, Nepal), Robin Lim (Bumi Sehat, Indonesia), dan Pushpa Basnet (Early Childhood Development Center) serta pemenang 2012 Children’s International Peace Prize Kesz Valdez (Championing Community Children, Philippines).
Para pejuang kemanusiaan itu akan menyampaikan berbagi informasi dan refleksi dari pengalaman nyata mereka menangani anak-anak remaja termarjinalkan.
"Kami berharap, kehadiran mereka yang terdampak langsung oleh masalah-masalah sosial disekitarnya diperkaya oleh masukan dari para pembicara pertemuan ini yang akan banyak memberi inspirasi bagi setiap orang yang hadir untuk menjadi bagian dari perjuangan bersama mengubah hidup orang muda disekitar kita demi masa depan dunia yang lebih baik," tegas Anie menutup pembukaannya.
WGG 2015, diselenggarakan oleh Yayasan Wadah Titian Harapan, bermitra dengan Saksham (India), ECDC (Nepal), Gita Eklesia (Indonesia), Maiti Nepal (Nepal), Udayan Care (India), Shuhada Organization (Afghanistan), SOS Desa Taruna (Indonesia), Tarayana Foundation (Bhutan), Tuloy Foundation (Philippines), Championing Community Children (Philippines), dan Raise A Village Program, Inc. (Philippines). WGG kali ini diikuti oleh lebih dari 220 peserta yang berasal dari 16 negara di dunia, seperti Inggris, Swiss, Polandia, Spanyol, Perancis, Amerika Serikat, Bhutan, Afganistan, Australia, Korea Selatan, Nepal, India, Filipina, Malaysia, Singapore dan Indonesia.
[rus]