Berita

moreno soeprapto/net

Olahraga

Moreno Soeprapto Pernah Tolak Rp 600 M Untuk Perkuat Negara Lain

MINGGU, 15 MARET 2015 | 15:41 WIB | LAPORAN:

Kehidupan atlet-atlet olahraga di Indonesia menjadi pembahasan hangat disemua kalangan masyarakat akhir-akhir ini. Hal tersebut tidak terlepas dari minimnya kesejahteraan dan perhatian pemerintah terhadap  mereka yang berprestasi dan pernah mengaharumkan nama bangsa dikancah olahraga internasional.

Tak jarang, mereka harus hidup memprihatinkan. Padahal ketika  mereka jaya, Merah Putih berkibar lebih tinggi dari bendera negara lainnya.

Salah satu  anggota Komisi X DPR-RI yang membidangi Olahraga, Pendidikan, Kebudayaan dan Pariwisata Moreno Soeprapto juga miris melihat kondisi itu. Disela-sela tampil dalam acara Talk Show bertajuk "Sidang Rakyat " di Gedung  Sasana Budaya Ganesa (Sabuga)  ITB Bandung, Jawa Barat, politisi muda Gerindra itu mengatakan betapa pentingnya rasa nasionalisme ditanamkan dalam diri semua kalangan masyarakat Indonesia untuk menjaga keutuhan bangsa.


"Dulu waktu saya masih aktif sebagai pembalap, saya mau dibeli 40 juta  dolar AS atau setara Rp 600 miliar oleh pihak asing untuk dapat berlaga di Formula 1 asal memperkuat negara lain. Tapi, buat apa? Karena kita bekerja keras untuk mengibarkan Merah Putih, saya abaikan tawaran itu," kata Moreno Soeprapto.

Mantan pembalap nasional itu menilai, potensi atlet berbakat di semua Cabang Olahraga (cabor) bertebaran di pelosok tanah air. Yang terpenting, untuk meningkatkan kualitas para atlet tersebut adalah ketersedian sarana dan prasarana.

"Kualitas atlet di Indonesia sangat membanggakan. Tinggal bagaimana adanya sarana dan  prasarana untuk mengasah kemampuan mereka," ujarnya.

Lanjutnya, jika saat ini banyak kalangan yang pesimis dengan kinerja wakil rakyat untuk kemajuan  olahraga, pria kelahiran 1982 meminta masyarakat untuk tetap mengedepankan kepercayaan sehingga kinerjanya untuk ikut andil membangun olahraga Indonesia berprestasi bisa berjalan dengan baik.

"Yakinlah, kasih kepercayaan kepada dewan (Anggota DPR-RI). Percayalah, tidak semua anggota dewan seperti yang dituduhkan. Yang punya hati kotor itu pasti akan tersingkir dengan sendirinya," tuturnya.

Peraih Juara tiga kelas Promosi Asian Formula 3 Championship pada tahun 2014 itu, juga memperhatikan dan merasakan kehidupan para atlet tidak hanya ikut terjun bagaimana kerasnya menjadi olahragawan yang bersaing di setiap kejuaraan. Tapi menjadi anggota anggota DPR-RI dan duduk di Komisi X menjadi pilihannya.

Kata pria yang mengawali karir sebagai pebalap di Lippo City Kart Race dan menjuarainya pada 1994 ini, gaji  bukanlah pilihan utama. Menurutnya, ada hal yang penting ketimbang memikirkan gaji seorang anggota DPR-RI.

"Kalau masalah gaji, nilainya relatif dan dikembalikan ke masing-masing. Karena kan semua pasti tujuan untuk mengabdi. Sama (Anggota DPR-RI atau pebalap), yang terpenting kan menjiwai dan saya bilang tadi, mengabdi untuk bangsa," tukasnya.

Anggota DPR-RI yang pernah terjun di Speedcar series 2008 berharap Indonesia tidak memerlukan waktu lama untuk membangkitkan kejayaan olahraganya. Bulan ini, salah satu putera terbaik bangsa Adya Novali sukses menyabet gelar juara 1 di kontes Binaragawan Arnold Amateur di Amerika Serikat.

Selain itu, dua klub sepakbola Indonesia yakni Persib Bandung dan Persipura Jayapura  sedang berjuang keras membawa nama bangsa dikancah persepakbolaan Asia melalui Piala AFC 2015. Pasangan pebulutangkis Nasional Tantowi Ahmad/Liliyana Natsir juga sedang berjuang di Swiss Terbuka.

"Kita harus puji perjuangan mereka. Siapapun atlet, atau tim yang berlaga di internasional itu patut kita dukung sepenuhnya. Saya punya keyakinan mereka dan dua tim (Persipura dan Persib) bisa berprestasi lebih tinggi lagi dari musim lalu," ungkapnya.

"Sebagai pejuang politik, NKRI adalah harga mati. Sebagai pemuda, saya mengajak kita harus mempunyai kepintaran,  kecerdasan dan  potensi untuk memajukan negara Indonesia dari semua bidang termasuk olahraga," tandasnya. [mel]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Wacana Pileg 2029 Seperti Liga Sepak Bola Mencuat, Partai Baru Tarkam Dulu

Sabtu, 25 April 2026 | 01:54

Bahlil Bungkam soal Isu CPO dan Kenaikan Harga Minyakita

Sabtu, 25 April 2026 | 01:31

Yuddy Chrisnandi Ajak FDI Bangun Dapur MBG di Daerah Tertinggal

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08

Optimalisasi Selat Malaka Harus Lewat Infrastruktur Maritim, Bukan Pungut Pajak

Sabtu, 25 April 2026 | 00:51

Kejari Jakbar Fasilitasi Isbat Nikah Massal bagi 26 Pasutri

Sabtu, 25 April 2026 | 00:30

Kemampuan Diplomasi Energi Bahlil Sering Diolok-olok Netizen

Sabtu, 25 April 2026 | 00:09

Kinerja Bareskrim Dinilai Makin Tajam Usai Bongkar Kasus Strategis

Jumat, 24 April 2026 | 23:58

Ketegasan dalam Peradilan Militer Menyangkut Keamanan Negara

Jumat, 24 April 2026 | 23:33

Kebijakan Bahlil Dicap Auto Pilot dan Sering Bahayakan Rakyat

Jumat, 24 April 2026 | 23:09

KPK Diminta Sita Aset Kalla Group Jika Gagal Bayar Proyek PLTA Poso

Jumat, 24 April 2026 | 22:48

Selengkapnya