. Ancam-mengancam main pecat dan lontaran kata kasar dan cenderung kotor yang terjadi selama konflik Partai Golkar, bahkan sampai adu jotos tentulah sangat disayangkan. Poros Muda Partai Golkar sangat menyesalkan prilaku-prilaku yang tidak sesuai dengan watak dasar Golkar yang dewasa, matang dan pengalaman mengelola konflik menjadi konsensus.
Jubir Poros Muda Partai Golkar, Andi Sinulingga mengatakan, seyogyanya para elite Golkar bisa memberikan contoh yang baik, selaras antara kata dan perbuatan.
"Jika memang benar cinta Golkar, maka wariskanlah sesuatu yang baik untuk generasi penerus, bukan malah menambah warisan segudang tumpukan masalah yang pastinya akan jadi beban generasi penerus Golkar," kata dia dalam keterangannya, Minggu (15/3).
Jelas Andi, sekedar mengingatkan, Poros Muda Partai Golkar memandang perlu untuk meresapi tiga falsafah hidup Jawa:
Ojo adigang, adigung, diguna (jangan sok kuasa, besar, kaya dan sok sakti).
Ngluruk tanpo bolo, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bondho (berjuang tanpa perlu membawa massa, menang tanpa merendahkan/mempermalukan, berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekayaan dan latar belakang keturunan, kaya tanpa didasari hal-hal yang bersifat materi.
Ojo ketungkul marang kalungguhan, kadonyan lan kemareman (janganlah terobsesi atau terkungkung dengan kedudukan kekuasaan, materi dan kepuasan duniawi).
Andi menambahkan, Poros Muda Partai Golkar berpandangan bahwa penting artinya bagi Golkar sekarang ini untuk
cooling down dan fokus konsolidasi partai, mengingat sudah banyak masa bakti pengurus daerah yang sudah berakhir. Fraksi Golkar di DPR harus bisa efektif bekerja sebagai penyambung amanat rakyat, dan Golkar bisa meraih sukses Pilkada serentak pada Desember 2015 nanti.
"Setelah itu Partai Golkar menyatu kembali dalam Munas Bersama awal 2016, Munas Rekonsiliasi yang menjadi semangat sebagian besar kader-kader Golkar. Munas yang bisa menjahit kembali soliditas semua keluarga besar Partai Golkar," tukasnya.
[rus]