Tampaknya anggota DPR RI sekarang benar-benar ingin membuktikan dirinya melebihi dewan periode sebelumnya, dalam bidang kebrengsekan dan kesontoloyoan. Pasalnya, setelah melakukan kebrengsekan kolektif yang membuat malu demokrasi dan reformasi dengan menciptakan pertikaian yang memunculkan parlemen tandingan, kini akan disusul dengan penganggaran yang disebut dengan anggaran aspirasi.
Pakar politik senior Muhammad AS Hikam mengatakan, DPR periode sebelumnya juga pernah punya gagasan yang mirip tetapi gagal karena protes keras dari masyarakat sipil. Anggaran aspirasi itu dikenal dengan julukan 'gentong babi' yang merupakan terjemahan langsung dari istilah 'pork barrel' yang dikenal di dalam khazanah perpolitikan AS.
Ia menjelaskan, politik 'gentong babi' ini sejatinya adalah upaya parpol untuk bisa mempertahankan posisi mereka di parlemen melalui politik uang yang dilegalkan melalui undang-undang. Caranya yang paling mudah adalah dengan mengalokasikan anggaran-anggaran untuk membiayai para anggota parlemen agar mereka bisa menyumbang ke dapil konstituen mereka melalui berbagai kegiatan, proyek-proyek, dan program-program khusus.
Dalam praktik politik di AS, kata dia, hal ini menjadi salah satu kritik bagi anggota konggres karena melauli 'gentong babi' itu mereka benar-benar bisa bertahan menjadi petahana karena berhasil membawa pulang kue bagi negara bagian dan konstituen. Ini menjelaskan mengapa prosentase incumbency dalam konggres lebih dari 80 persen. Rupanya sebagian politisi DPR RI terpikat dengan praktik 'gentong babi' ini dan mencoba mengimpornya ke Indonesia.
"Boleh saja para politisi Indonesia koor dalam mengritik sistem demokrasi Amrik yang dibilang liberal itu, tetapi kalau urusan politik 'gentong babi' nya tampaknya koor di DPR kita justru berbalik: SETUJU
!" ujar dia lewat akun facebook
Muhammad A S Hikam, Selasa (10/3).
"DPR hasil Pileg 2014 rupanya sudah kerasukan penyakit yg sama dan bahkan, hemat saya, lebih dahsyat," sambung Hikam.
Dengan anggaran Rp 1 triliun yang direncanakan dalam kondisi negara yg sedang prihatin seperti sekarang, bagi Hikam, ini adalah sebuah kebejatan moral yang dahsyat. Bukan saja upaya ini melawan nalar waras, tetapi juga melecehkan nurani rakyat yang harusnya diwakili. Alih-alih para politisi itu memperbaiki diri setelah membuat berbagai blunder yang memalukan, mereka justru mau pesta pora di atas keprihatinan rakyat.
"Sayangnya dalam kondisi perpolitikan saat ini, saya tidak yakin bahwa tekanan publik akan bisa membuat para poliyo itu berubah. Sebaliknya, kemungkinan mereka akan menjadikan 'gentong babi' sebagai alat transaksi dengan pemerintah Presiden Jokowi agar yang disebut terakhir itu tidak diganggu-ganggu di Parlemen. Apalagi jika Presiden Jokowi juga mendapat desakan dari dalam, misalnya oleh menteri yang berasal dari parpol, rasanya akan susah menolak. Kalau ini benar maka skandal 'gentong babi' jilid 2 akan menjadi salah satu 'trade mark' dan keberhasilan DPR periode ini. Mereka akan bersorak gembira, tetapi saya akan bilang:
SHAME ON YOU, GUYS!," demikian mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi era Gus Dur ini.
[rus]