Berita

Apung Widadi/net

Politik

FITRA Tolak Alokasi Anggaran Partai Rp 1 Triliun dengan 9 Alasan

SELASA, 10 MARET 2015 | 04:41 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Sekretariat Nasional Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (Seknas FITRA) dengan tegas menolak wacana Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo untuk mengalokasi dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 1 triliun kepada setiap partai pertahun.

Koordinator Advokasi dan Investigasi FITRA, Apung Widadi, mengatakan, saat ini ada 10 partai politik, maka kemungkinan uang rakyat akan dipakai untuk membiayai elit partai senilai Rp 10 triliun pertahun.

"Argumentasi yang diutarakan katanya, bantuan keuangan parpol ini akan dapat mengurangi korupsi, untuk kaderisasi dan bahkan calon kepala daerah pun akan dibiayai dari bantuan ini. Menanggapi hal tersebut, Seknas FITRA dengan tegas menolak niatan Menteri Dalam Negeri tersebut," ujar Apung dalam rilisnya, Selasa (10/3).


Apung menjelaskan, ada sembilan alasan pihaknya menolak wacana tersebut. Pertama, partai politik belum mempunyai perangkat transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana dari APBN. Kedua, rencana alokasi tanpa perhitungan kursi justru membuat partai malas bekerja untuk rakyat. Ketiga, oligharki parpol di Indonesia saat ini masih kuat, tanpa demokratisasi, transparansi dan akuntabilitas tidak akan terbangun.

Keempat, jatah untuk parpol tidak sesuai dengan pendekatan anggaran berbasis kinerja. kinerja parpol masih buruk. Kelima, jatah Rp 1 triliun dari APBN perpartai justru akan menjadi bentuk korupsi baru. Keenam, wacana ini sangat menyakitkan rakyat di tengah krisis pangan dan tingginya harga beras.

Ketujuh, terkait proses audit oleh BPK, dikhawatirkan terjadi konflik kepentingan dimana beberapa anggota BPK berlatarbelakang partai politik. Kedelapan, wacana ini akan memancing daerah melakukan hal yang sama, menaikan anggaran bantuan sehingga semakin memiskinkan keuangan daerah. Kesembilan, lemahnya penegakkan hukum terutama KPK yang dikriminalisasi berakibat pada potensi korupsi yang terjadi akan semakin tinggi karena hilangnya efek jera.

"Berkaca dari sembilan alasan di atas maka FITRA menuntut Menteri Dalam Negeri untuk menarik wacana ini dan mengurungkan niatan memberi jatah parpol dari APBN yang merupakan keringat rakyat. Jika tidak, hal ini akan sangat meresahkan di tengah harga bahan pokok yang tinggi dan harga beras yang tidak terjangkau oleh rakyat," demikian Apung. [rus]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

UPDATE

Konflik Agraria di Program Lumbung Pangan

Minggu, 17 Mei 2026 | 03:59

Riset Advokasi Harus Perjuangkan Kebutuhan Masyarakat

Minggu, 17 Mei 2026 | 03:36

Hati-hati! Pelemahan Rupiah Juga Bisa Hantam Warga Desa

Minggu, 17 Mei 2026 | 03:19

Kebangkitan Diplomasi Korporat di Balik Pertemuan Trump-Xi

Minggu, 17 Mei 2026 | 02:59

Pemkot Semarang Gercep Tangani Banjir Tugu-Ngaliyan

Minggu, 17 Mei 2026 | 02:33

TNI AD Pastikan Penanganan Insiden Panhead Cafe Berjalan Transparan

Minggu, 17 Mei 2026 | 02:12

Mantan Pimpinan KPK Sebut Vonis Banding Luhur Ngawur

Minggu, 17 Mei 2026 | 01:50

Jokowi-PSI Babak Belur Usai Serang JK Pakai Isu Agama

Minggu, 17 Mei 2026 | 01:25

Pemkot Semarang Pastikan Penanganan Permanen di Jalan Citarum

Minggu, 17 Mei 2026 | 01:10

Celios: Prabowo Kayaknya Perlu Dibriefing Ekonomi 101

Minggu, 17 Mei 2026 | 00:54

Selengkapnya