Berita

Heran, Tim Jokowi Malah Anggap Remeh Penurunan Nilai Rupiah

JUMAT, 06 MARET 2015 | 04:50 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Sampai saat ini tidak ada tindakan dan kebijakan ekonomi yang dilakukan Pemerintah Joko Widodo untuk meredam semakin jebloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

"Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seharian kemarin bergerak di kisaran Rp 13.000/US$. Nilah tukar rupiah ini merupakan yang terlemah sejak 17 tahun terakhir walaupun ditutup dengan nilai tukar rupiah di pasar on the spot turun menjadi Rp 12.980. Tetapi harga beli mata uang US dolar di Money Changer dan bank sudah menjadi Rp 13.150 per dolar US," ujar Ketua DPP Gerindra, FX Arief Poyuono, (Jumat, 6/3).

Malah Menko Ekonomi dan tim ekonomi Jokowi lainnya terlalu menganggap remeh jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing tersebut. Hal itu menunjukkan tim ekonomi Jokowi tidak mampu menurunkan nilai mata uang dolar terhadap rupiah .


"Maklum saja mereka secara personal memang bukan orang tepat untuk bisa meredam nilai rupiah yang berubah-ubah tidak stabil yang akan sangat mempengaruhi ekonomi makro  Indonesia," jelas Arief.

Jika Pemerintah Jokowi tidak punya portfolio yang jelas tentang kebijakan ekonomi, dia menambahkan, nilai tukar rupiah akan terus menukik dan akan berdampak pada  menurunnya permintaan masyarakat terhadap mata uang rupiah karena menurunnya peran perekonomian nasional atau karena meningkatnya permintaan mata uang asing sebagai alat pembayaran internasional.

"Dampak yang akan terjadi adalah meningkatnya biaya impor bahan bahan baku. Dan berdampak pada harga produk dan jasa yang semakin mahal," ucapnya.

Nilai tukar rupiah yang melemah juga akan meyebabkan tingkat suku bunga, dimana akan terjadi meningkatnya nilai suku bunga perbankan yang akan  berdampak pada perubahan investasi di Indonesia. "Dan ini sudah terbukti dengan suku Bunga KUR (Kredit Usaha Rakyat ) hingga 21% pertahun," terangnya.

Nilai tukar rupiah yang melemah juga berakibat pada tingginya inflasi dan meningkatnya harga-harga secara umum dan kontinu, akibat komsumsi masyarakat  yang meningkat, dan berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi dan spekulasi.

"Jika ekonomi nasional mau selamat, satu satunya cara yang harus dilakukan Jokowi adalah menganti semua tim ekonominya yang telah gagal dan kurang diterima Pasar. Itupun kalau Jokowi berani," tegasnya. [zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

UPDATE

Komisi I DPR: Kisruh Rating IGRS di Steam Picu Kegaduhan

Rabu, 08 April 2026 | 19:50

JK Jangan jadi Martir Pemecah Belah Bangsa

Rabu, 08 April 2026 | 19:41

Narasi Pesimis di Tengah Gejolak Global Ganggu Stabilitas Nasional

Rabu, 08 April 2026 | 19:19

Ulama Dukung Wacana BNN Larang Vape

Rabu, 08 April 2026 | 19:18

KAMMI: Kerusakan Lingkungan Tidak Bisa Selesai di Ruang Diskusi

Rabu, 08 April 2026 | 19:05

WFH Momentum Perkuat Layanan Digital

Rabu, 08 April 2026 | 19:02

Motor Listrik Operasional SPPG Sudah Direncanakan Sejak 2025

Rabu, 08 April 2026 | 19:00

Harus Melayani, Kader PKB Jangan jadi Tamu 5 Tahunan

Rabu, 08 April 2026 | 18:51

JK Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli Buat Akhiri Polemik

Rabu, 08 April 2026 | 18:44

7 Menu Warteg Paling Dicari Orang Indonesia

Rabu, 08 April 2026 | 18:42

Selengkapnya