. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ibarat peralatan kebersihan rumah untuk menjaga dari segala macam kotoran dan kerusakan sehingga rumah tersebut tetap terwat, nyaman, dan bertahan lama.
Pengamat politik senior, Muhammad AS Hikam, menyatakan, KPK pasca pemberhentian sementara Abraham Samad dan Bambang Wijoyanto kini ibarat peralatan kebersihan yang sedang tidak normal fungsinya dan memerlukan pergantian komponen yang akan memulihkan kinerjanya. Apalagi rumah tersebut sedang dalam kondisi penuh sampah dan kotoran serta bibit penyakit.
Masalahnya, kata AS Hikam, apakah pengganti AS dan BW adalah sosok yang punya kualifikasi sama, atau lebih baik dari mereka, ataukan justru sebaliknya. Inilah pertanyaan yang sangat penting dan sedang menjadi trending topik di ruang publik. Pertanyaan dan indikasi yang menggugat sudah muali dan makin kencang bertiup, khususnya terhadap Indriyanto Seno Adji dan Taufiequrrahman Ruki.
"Yang disebut terakhir itu sudah punya track record pernah memimpin KPK, yang disebut pertama belum. Sayangnya, keduanya kini dianggap bukan merupakan pengganti yang (dianggap) tepat karena ada berbagai catatan yang bisa mengkhawatirkan masa depan KPK," sebut AS Hikam lewat akun
facebook-nya.
Indranto punya
track record yang tidak terlalu simpatik terhadap lembaga antirasuah tersebut. Bahkan terbukti pernah menjadi pengacara para tersangka koruptor, dan menjadi pihak yang mengajukan
judicial review terhadap KPK atau lebaga penegak hukum yang dibuat untuk mengawasi peradilan seperti KY. Secara pribadi, jelas AS Hikam, tentu Indriyanto punya hak sepenuhnya untuk beraktifitas sejauh ia tidak melanggar hukum. Namun sebagai figur yang diperlukan untuk merawat dan memperkuat KPK, tentu pertanyaan terkait komitmennya terhadap KPK akan sah dilontarkan.
"Apalagi dalam situasi dan kondisi 'kritis' seperti saat ini, di mana KPK sedang menghadapai onslaugh pelemahan dari segala penjuru. Indranto punya tanggungjawab moral dan profesional untuk menjelaskan secara tuntas kepada publik untuk menepis semua keraguan dan pertanyaan kritis terhadapnya, selain membuktikan dalam kinerjanya bahwa dirinya tidak kalah komitmennya dibanding AS dan BW," beber AS Hikam.
Ruki pun tidak jauh berbeda.
Track record sebagai mantan ketua KPK adalah sebuah faktor pendukung yang bagus, tetapi kiprahnya pasca menjadi orang nomor satu di KPK sampai kemudian diangkat presiden menjadi plt ketua KPK menjadi pertanyaan. Misalnya fakta bahwa posisinya adalah sebagai Komisaris Utama Bank BJB yang sedang diselidiki KPK, mebuat publik mempertanyakan apakah tidak akan ada konflik kepentingan kendati Ruki nanti pasti mundur dari posisi komisaris tersebut.
Pandangannya yang pro praperadilan terhadap status tersangka BG, juga membuat para pendukung KPK meragukan komitmen Ruki terhadap penguatan KPK. Disusul dengan gagasannya untuk melimpahkan kasus BG kepada Polri, semakin menambah deretan keraguan publik terhadapnya.
"Semua keraguan tersebut bisa ditepis TR dengan menujukkan kinerja yang baik dalam melindungi dan memperkuat KPK dan bisa segera dibuktikan oleh publik," kata mantan Menteri Ristek di era Gus Dur ini.
Ia berharap, Indriyanto dan Ruki jangan sampai menjadi peralatan pembersih yang malah membuat rumah tidak bersih. Orang bisa menyalahkan pihak yang memilih keduanya atau mengaitkan dengan relasi kekuasaan yang sedang menjepit KPK. Tetapi tetap saja ada elemen tanggung jawab pribadi dari keduanya. Karena bisa saja KPK diibaratkan sebagai alat, tetapi pada akhirnya ia terdiri dari manusia-manusia yang memiliki kepribadian dan tangung jawab individual. Pimpinan KPK akan dimintai pertanggungjawaban oleh rakyat jika lembaga tersebut menjadi kian lemah dan menelantarkan harapan mereka yang selama ini telah terbangun terhadap lembaga ini.
"Selamat kepada Indriyanto dan Ruki. Buktikan bahwa anda berdua adalah pilihan terbaik untuk penguatan KPK dan upaya pemberantasan korupsi di negeri ini," tandas AS Hikam.
[rus]