Berita

istana presiden/net

Politik

Sudah Sewajarnya Istana Presiden Diisi Para Aktivis Pro Demokrasi

SABTU, 14 FEBRUARI 2015 | 11:55 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Keterlibatan para aktivis anti Orde Baru dalam pemerintahan era reformasi merupakan keniscayaan.

Tak bisa disangkal bahwa sejarah perpolitikan Indonesia banyak diukir oleh mereka yang pernah menjadi eksponen gerakan mahasiswa.

Sejak berakhirnya Orde Lama di bawah Bung Karno, rezim Orde Baru merekrut para aktivis mahasiswa anti Orde Lama (angkatan 66) yang dianggap menonjol. Sebut saja yang paling ternama di antaranya adalah Cosmas Batubara dan Akbar Tanjung.  


Setelah Orde Baru tumbang, generasi beralih. Angkatan 66 sudah menua. Giliran para aktivis "bawah tanah" yang berjuang di era 70-an sampai 90-an mendapat porsi besar untuk menduduk posisi-posisi penting.

Mereka adalah orang-orang muda di zamannya yang berani melawan Rezim Soeharto dengan gerakan pro demokrasi yang bergerak dengan gagasan kebebasan berpikir, kebebasan menulis, kebebasan berorganisasi dan kebebasan memilih pemimpin. Mereka berbenturan dengan "Paket 5 UU Politik" Soeharto yang menopang kekuasaan Orde Baru.

Sudah sewajarnya istana dari presiden yang baru terpilih diisi mantan tahanan politik/narapidana politik (Tapol/Napol), termasuk mereka yang pernah bergerilya karena masuk daftar pencarian (DPO) rezim Soeharto.

Di awal reformasi tumbuh mekar, Presiden BJ Habibie mengisi istananya dengan kehadiran tokoh Malari 74, Hariman "Harun" Siregar.

Lalu Presiden Abdurrachman Wahid alias Gus Dur menggantikan Habibie. Ia pun melakukan langkah serupa merekrut mantan Napol, Marsilam Simanjuntak (angkatan '74) untuk jabatan Sekretaris Kabinet sampai menduduki kursi Jaksa Agung. Ada pula pakar ekonomi Rizal Ramli yang dipercaya menjabat Menko Perekenomian, dan Hilal Hamdi sebagai Menakertrans dari angkatan '78.

Presiden Megawati Soekarnoputri bahkan mempercayakan jabatan strategis Menko Perekonomian dipegang mantan Napol Orde Baru, Dorojatun Kuncorojakti (angkatan '74).

Rezim berganti lewat Pemilu Langsung. Susilo Bambang Yudhoyono tampil sebagai presiden ke-6. Di dalam Dewan Pertimbangan Presiden yang disusunnya, hadir dua mantan Napol angkatan 74, Adnan Buyung Nasution dan (Almarhum) Syachrir alias Ci'il. Di kabinetnya ada Dipo Alam ('74), Jumhur Hidayat ('89) dan Andi Arief ('98).

Rezim Jokowi-JK pun diharapkan menampilkan para tokoh aktivis itu untuk berperan. Sebut saja, Bambang "Beathor" Suryadi yang merupakan eks Napol '89. Beathor adalah aktivis politik, punya rekam jejak menonjol di balik berdirinya sayap PDIP, Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) dan organisasi aktivis, ProDem.

Sementara di tim sukses Jokowi ada banyak nama "musuh" Orde Baru yang terlibat. Misalnya, Yopie Lasut ('74), Indro Tjahyono ('78), Jumhur Hidayat ('89), Bonar Naipospos ('89), Ammar Syah ('89), Fadjroel ('89), Roy Pakpahan ('89), StandarKiaa Latief ('89).

Tentu saja, masih banyak lagi mantan Tapol/Napol dan DPO era Soeharto yang ikut terlibat dalam kemenangan Jokowi-JK pada masa Pilpres 2014.

Mereka adalah kekuatan yang mempunyai idealisme serta jaringan luas, sehingga pantas diberikan posisi yang sesuai di Kabinet Kerja. [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya